Dongeng Anak Pengantar Tidur Penuh Pesan Moral, Kisah Pak Lebai yang Malang
Pak Lebai tinggal sendirian, tanpa isteri dan anak. Di desanya, Pak Lebai adalah orang yang populer karena ia nelayan yang menjual ikan hasil tangkapa
Penulis: Guruh Budi Wibowo | Editor: Guruh Budi Wibowo
TRIBUNPEKANBARU.COM - Pada zaman dahului di sebuah desa di daerah yang kini dikenal dengan Sumatera Barat. Pada waktu dimana hutan dan sawah terbentang begitu luasnya.
Sungai dan anak sungai sejernih kaca dengan berbagai jenis ikan, hiduplah seorang pria tua bernama Pak Lebai.
Pak Lebai tinggal sendirian, tanpa isteri dan anak. Di desanya, Pak Lebai adalah orang yang populer karena ia nelayan yang menjual ikan hasil tangkapannya dengan cara keliling.
Ia pun disukai banyak warga, mulai dari kampung di hulu hingga hilir sungai.
Di desa itu, sampan menjadi alat transportasi sehari-hari. Sebab, rumah warga kampung dibangun di tepian sungai.
Pada suatu senja beranjak malam, Lebai mendapatkan sebuah undangan pesta pernikahan anak salah seorang kenalannya yang berada di hulu sungai.
Ia pun membaca isi undangan tersebut dengan seksama.
Dalam undangan, hajatan akan dimulai pada siang hari dan berakhir pada sore harinya.
Di desa itu, pesta pernikahan akan dimeriahkan dengan pemotongan seekor sapi yang gemuk.
Terlebih yang menggelar hajatan itu adalah seorang warga terkaya di kampung hulu.
Lebai pun sangat senang karena ia bakal makan daging sapi sepuasnya.
Di kampung hulu, selain bisa makan seluasnya, tamu undangan juga mendapatkan satu bingkisan makanan untuk dibawa pulang.
Khayalan Pak Lebai pun sudah sampai ke kampung hulu dan menikmati daging sapi di tempat hajatan.
Saat sedang menghayal, tiba-tiba pintu rumah Pak Lebai pun diketuk oleh tetangganya.
Pak Lebai pun membuka pintu dan melihat tetangganya memberikan sepucuk undangan hajatan dari kampung hilir.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pekanbaru/foto/bank/originals/Dongeng-anak-Pak-Lebai.jpg)