Rabu, 6 Mei 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Berita Riau

Gandeng Petani Muda di Inhu, Program Udara Bersih Indonesia Riau Berhasil Tingkatkan Hasil Panen

Kader 2 Program Udara Bersih Indonesia, yang mengikuti pelatihan Sekolah Lapangan Kader Program Udara Bersih Indonesia di Pekanbaru, pada Juni 2022.

Tayang:
Editor: M Iqbal
istimewa
Wahyudi petani asal Desa Kuala Cenaku, Kecamatan Kuala Cenaku, Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau 

TRIBUNPEKANBARU.COM - Wahyudi petani asal Desa Kuala Cenaku, Kecamatan Kuala Cenaku, Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau bercocok tanam komoditas pertanian pare, kacang panjang, okra dan mentimun. 

Pria berusia 25 tahun ini merupakan Kader 2 Program Udara Bersih Indonesia, yang mengikuti pelatihan Sekolah Lapangan Kader Program Udara Bersih Indonesia di Pekanbaru, pada Juni 2022.

Setelah mengikuti pelatihan, ia mencoba 4 teknik yang diajarkan di pelatihan sembari melakukan sekolah lapangan tingkat desa untuk meneruskan ilmu yang diperoleh di pelatihan.

Pada saat pertama kali menerapkan metode udara bersih yang dicobanya adalah metode mulsa tanpa olah tanah. Ia memanfaatkan jerami dari sawah desa sebelah, mengangkutnya ke lahan tanam yang berada di sebelah rumah, dan menanam tanaman kacang panjang.

Wahyudi membuat 4 bedengan dengan mulsa jerami, dan 4 bedengan dengan mulsa plastik. Pada saat pertama kali mencoba ini tidak banyak yang diharapkan selain bahwa tanaman akan bertahan dan menghasilkan panen yang memuaskan.

Ia mengamati proses tumbuh kembang tanaman dan menyaksikan bahwa tanah di permukaan bedengan yang ditutup dengan mulsa jerami, terasa lembab saat disentuh dengan telapak tangan, karenanya tidak perlu mengulang-ulang proses penyiraman dan ini sangat memberikan keleluasaan waktu, karena biasanya harus bolak balik menyiram tanaman.

Ia juga menyaksikan dedaunan yang tumbuh berwarna hijau pekat dengan sulur kokoh yang tidak mudah patah, di masa panen. Diluar ekspektasi, hasil panen kacang panjang sangat melimpah. Kualitas buah kacangnya pun bagus dan minim serangan hama.

Aspek tumbuh kembang dan hasil panen pada bedengan konvensional mengalami kondisi yang jauh berbeda. Tanah mudah kering. Pertumbuhan tanaman sedikit kerdil dan hasil panen kurang memuaskan.

Pengalaman menerapkan metode mulsa tanpa olah tanah membuatnya terus penasaran dan ingin mencoba metode mulsa tanpa olah tanah pada jenis tanaman lainnya.

Pada musim tanam berikutnya, Wahyudi mencobakan metode mulsa tanpa olah tanah di tanaman pare. Pada awal kehidupan hingga sulur mencapai ujung lenjeran, tanaman masih tumbuh dengan sangat baik. Namun saat tanaman pare mengalami fase pembuahan, tanaman pare mengalami serangan hama kuning yang begitu massif dan tanamanmua terancam gagal panen. Ia juga menerapkan pupuk cangkang telur sebagai upaya eradikasi dengan proses semprot berjeda dua tiga hari.

Beberapa hari kemudian mengamati kondisi tanaman, hasilnya tanaman pare dengan metode mulsa tanpa olah tanah terlihat berdaun kembali dengan kualitas daun yang lebih baik dan minim serangan hama.

Sedangkan tanaman di bedengan konvensional berdaun kembali namun serangan hama masih tetap ada. Ia teringat saat sekolah lapangan dan mempelajari siklus makhluk hidup di alam, semakin seimbang kondisi lingkungan, maka semakin sedikit serangan hama di lahan karena mikro organisme yang ada di lahan memiliki fungsi saling memakan.

Pengalaman berkesan ini disebarkannya kepada rekan-rekan petani sekitar dan banyak diantara mereka yang memutuskan untuk mencoba. Tidak hanya metode mulsa tanpa olah tanah, namun juga metode hugelkultur, metode kandang ayam lantai serasah dan metode pupuk daun dari cangkang telur.

Tak lupa ia juga mencatat setiap hasil panen perbandingan sebagai dokumentasi pribadi sehingga apa yang dilakukan dapat dibuktikan dengan data.

Adapun hasil panen untuk tanaman pare :

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved