Menjaga Rantai Pasok Biomassa: Petani Sagu di Pulau Terluar Meranti Antusias Menanti Program PERTIWI

Mamit Setiawan mengatakan limbah sagu di Kabupaten Meranti bisa menghasilkan dua jenis biomassa yakni serbuk dari ampasnya dan chip

TRIBUNPEKANBARU.COM
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada tahun 2023 terhitung luas perkebunan sagu di Kepulauan Meranti mencapai 40,39 ribu hektare dengan total produksinya sebanyak 266 ribu ton. 

TRIBUNPEKANBARU.COM - PT PLN (Persero) melalui subholding PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) mengambil momen penting pada pelaksanaan Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa atau COP28 pada tahun 2023 lalu di Dubai. Dua program diluncurkan sekaligus, STAB (Socio Tropical Agriculture-waste Biomass) dan PERTIWI (Primary Energy Renewable & Territorial Integrated Wisdom of Indonesia).

Kedua program pemanfaatan limbah pertanian dan perkebunan itu ditujukan untuk memastikan rantai pasok biomassa bagi PLTU. Sehingga target Net Zero Emissions(NZE) di tahun 2060 bukan lagi sesuatu yang mustahil dicapai.

Untuk program PERTIWI, PLN EPI merencanakan akan dikembangkan di Kepulauan Meranti, Provinsi Riau.

Pulau Terluar ini memang sentra perkebunan sagu. Sekitar 80 kilang sagu beroperasi di daerah tersebut dengan potensi limbah berupa ampas dan kulit sagu lebih dari 200.000 ton per tahun.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada tahun 2023 terhitung luas perkebunan sagu di Kepulauan Meranti mencapai 40,39 ribu hektare dengan total produksinya sebanyak 266 ribu ton.

Sekretaris Perusahaan PLN EPI, Mamit Setiawan mengatakan limbah sagu di Kabupaten Meranti bisa menghasilkan dua jenis biomassa yakni serbuk dari ampasnya dan chip dari hasil pengolahan kulit tual sagu. 

“Jenis serbuk tadi dapat digunakan sebagai bahan co-firing maksimal sebesar 10 persen untuk PLTU dengan jenis boiler PC. Sementara biomassa chip dapat digunakan untuk dua jenis boiler, CFB sebanyak 30 persen dan boiler stoker mampu menyerap biomassa tersebut untuk co-firing sebesar 70 persen,” katanya kepada tribunpekanbaru.com, Selasa (29/10/2024).

Namun demikian, PLN EPI belum bisa melaksanakan program tersebut karena membutuhkan pengolahan ditambah transportasi yang masih belum ekonomis jika dibandingkan dengan HPT PLTU sekarang ini.

Sehingga, kata Mamit menjelaskan, pihaknya masih menunggu implementasi Permen ESDM Nomor 12 Tahun 2023.

Sementara limbah sagu dari Kepulauan Meranti diproyeksikan akan dikirim menggunakan kapal ke PLTU terdekat, yakni PLTU Tanjung Balai Karimun.

Pengiriman biomassa menggunakan kapal bukanlah hal yang baru bagi PLN EPI. Sebab, pada Juli 2023 lalu PLN EPI sukses mengirim biomassa jenis sawdust dari Sulawesi ke PLTU Tanjung Awar-awar Tuban di Jawa Timur.

“Hingga saat ini, PLN telah sukses menerapkan co-firing pada 46 PLTU dengan memanfaatkan 3 juta ton biomassa sehingga mampu menurunkan emisi sebesar 3,2 juta ton CO2e,” ujarnya.

Petani Sagu Meranti Siap Berkolaborasi

Ketua Asosiasi Masyarakat Sagu Meranti (AMSM), Abdul Manan mengaku sudah mendengar informasi terkait pemanfaatan limbah sagu sebagai bahan co-firing PLTU.

Ia pun mengaku antusias dan siap berkolaborasi dengan PLN.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved