Kamis, 16 April 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Kerja Sama Regional Jadi Kunci Sukses Pengelolaan Mangrove ASEAN

Strategi pengelolaan mangrove yang terkoordinasi di tingkat ASEAN dinilai menjadi fondasi penting untuk mewujudkan ketahanan ekosistem pesisir

Editor: Sesri
FOTO/DOK
Diskusi Publik tentang Pedoman Pelaksanaan Strategi Regional ASEAN untuk Pengelolaan Ekosistem Mangrove Berkelanjutan 2024–2030 yang diselenggarakan di Jakarta, Rabu (12/6/2025).  

TRIBUNPEKANBARU.COM - Upaya pelestarian hutan mangrove di Asia Tenggara membutuhkan sinergi lintas negara yang mengedepankan ilmu pengetahuan, kearifan lokal, partisipasi masyarakat, dan pendekatan berbasis solusi alam. 

Dalam menghadapi tantangan bersama seperti deforestasi, abrasi pantai, dan perubahan iklim, strategi pengelolaan mangrove yang terkoordinasi di tingkat ASEAN dinilai menjadi fondasi penting untuk mewujudkan ketahanan ekosistem pesisir yang berkelanjutan dan inklusif.

Hal itu mengemuka dalam Diskusi Publik tentang Pedoman Pelaksanaan Strategi Regional ASEAN untuk Pengelolaan Ekosistem Mangrove Berkelanjutan 2024–2030 yang diselenggarakan di Jakarta, Rabu (12/6/2025). 

Acara ini menjadi forum dialog multipihak untuk menyusun panduan implementasi strategi yang telah disepakati negara-negara ASEAN melalui pendekatan kolaboratif dan berbasis sains.

Direktur Rehabilitasi Mangrove Kementerian Kehutanan Republik Indonesia, Ristianto Pribadi, menekankan bahwa strategi yang telah disusun ASEAN harus diwujudkan menjadi aksi nyata di tingkat nasional dan lokal. 

"Strategi yang kuat harus dilengkapi dengan mekanisme implementasi yang jelas dan aplikatif. Itulah sebabnya kita berkumpul hari ini," ujarnya.

Ristianto menyampaikan bahwa ekosistem mangrove di Asia Tenggara merupakan salah satu aset paling penting di kawasan pesisir. 

Hutan mangrove tidak hanya melindungi garis pantai dari abrasi dan badai, tetapi juga mendukung perikanan, menyimpan karbon dalam jumlah besar, dan menopang mata pencaharian jutaan masyarakat di wilayah pesisir dan kepulauan.

Menjawab tantangan terhadap ekosistem mangrove yang terjadi, dikembangkan inisiatif ASEAN Mangrove Network (AMNET) sebagai wadah kerja sama antarnegara anggota dalam memperkuat konservasi dan rehabilitasi mangrove. 

Melalui proyek “Pengelolaan Ekosistem Mangrove di Kawasan ASEAN”, jaringan ini mendorong pertukaran praktik terbaik, pembelajaran bersama, dan perbaikan tata kelola mangrove di setiap negara anggota.

Salah satu capaian utama AMNET adalah tersusunnya Strategi Regional ASEAN untuk Pengelolaan Ekosistem Mangrove Berkelanjutan 2024–2030.

Strategi ini dirancang dengan pendekatan berbasis ilmu pengetahuan, inklusif, dan selaras dengan prioritas nasional serta regional. Di dalamnya termuat visi bersama untuk pengelolaan mangrove yang adaptif, partisipatif, dan inovatif.

Ristianto menekankan lima prinsip utama dalam strategi tersebut yang perlu dijabarkan dalam pedoman pelaksanaannya. Pertama, integrasi antara sains dan pengetahuan lokal. Kebijakan harus berbasis data ilmiah namun tetap mengakui nilai pengetahuan tradisional masyarakat lokal dalam menjaga mangrove.

Kedua, pemberdayaan komunitas. "Masyarakat lokal bukan sekadar penerima manfaat, mereka adalah aktor utama dalam pengelolaan mangrove. Partisipasi mereka sangat penting bagi keberhasilan konservasi," tegasnya.

Ketiga, penguatan ketahanan iklim melalui solusi berbasis alam. Mangrove mampu menyerap karbon, meredam badai, dan menstabilkan garis pantai. Oleh karena itu, pengelolaannya harus terintegrasi dengan target-target global seperti Paris Agreement, Kerangka Keanekaragaman Hayati Kunming-Montreal, dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved