Rabu, 6 Mei 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Imunisasi Adalah Hak Anak, Bukan Sekadar Pilihan

Di Kampar, lebih dari 90% responden menyatakan setuju atau sangat setuju bahwa imunisasi penting untuk anak-anak

Tayang:
dok Sri Sadono
Imunisasi Adalah Hak Anak, Bukan Sekadar Pilihan Oleh: drg. Sri Sadono Mulyanto, M.Han - Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau 

Oleh: drg. Sri Sadono Mulyanto, M.Han

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau

Imunisasi adalah hak dasar setiap anak untuk mendapatkan perlindungan sejak dini – perlindungan agar mereka tumbuh sehat, kuat, dan terlindungi dari penyakit berbahaya yang sebenarnya dapat dicegah. Lebih dari sekadar prosedur medis, imunisasi adalah investasi kita bersama dalam membangun masa depan generasi yang tangguh.

Di Provinsi Riau, kami melihat banyak kabar baik dari lapangan: masyarakat semakin paham, percaya, dan mau berpartisipasi dalam program imunisasi. Namun seperti banyak daerah lain, masih ada tantangan yang perlu kita hadapi bersama.

Survei terbaru yang dilakukan oleh Global Health Strategies di wilayah Pekanbaru dan Kampar menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat Riau, baik di kota maupun di daerah, memiliki kepercayaan yang tinggi terhadap manfaat dan dan keamanan imunisasi.

Di Kampar, lebih dari 90 persen responden menyatakan setuju atau sangat setuju bahwa imunisasi penting untuk anak-anak.

Hal serupa juga terlihat di Pekanbaru, di mana sebagian besar orang tua tidak khawatir memberikan imunisasi kepada anaknya. 

Ini adalah modal sosial yang sangat berharga bagi keberlanjutan program imunisasi di daerah kami.

Namun, ada satu tantangan utama yang tak boleh kita abaikan: keberlanjutan.

Meskipun capaian imunisasi dasar tergolong baik – Pekanbaru mencapai 72?n Kampar 86,9% – kita melihat penurunan signifikan pada imunisasi lanjutan. Di Pekanbaru, hanya sekitar 37,5% anak yang melanjutkan imunisasi hingga tuntas.

 Sementara itu, di Kampar, meskipun capaian imunisasi lanjutan lebih tinggi yaitu 68,4%, tetap terjadi penurunan cukup signifikan dibandingkan dengan capaian imunisasi dasar sebesar 86,9%.

Data ini menunjukkan bahwa walaupun banyak orang tua bersedia memulai imunisasi, mempertahankan komitmen hingga seluruh jadwal selesai tetap menjadi tantangan.

Apa yang menjadi penyebab? Salah satunya adalah kurangnya edukasi dan informasi, terutama mengenai pentingnya imunisasi lanjutan dan jadwal imunisasi anak sekolah.

Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) belum menunjukkan partisipasi optimal, khususnya di Pekanbaru dengan hanya 33,2% responden yang menyatakan terlibat.

Ini adalah peluang besar yang belum tergarap secara maksimal. Padahal, sekolah bisa menjadi pintu masuk strategis untuk menyentuh anak-anak dan orang tua sekaligus, apalagi bila disertai dukungan tokoh masyarakat, guru, dan tenaga kesehatan.

Kabar baiknya, masyarakat Riau menunjukkan keterbukaan terhadap informasi, khususnya yang datang dari sumber terpercaya. Tenaga kesehatan dan tokoh agama menjadi rujukan utama dalam pengambilan keputusan imunisasi.

Nama-nama seperti dr. Fitra Helfi Nanda, Kader Tuti, dan Ustadz Abdul Somad sering disebut sebagai sumber informasi terpercaya. Ini menandakan bahwa pendekatan berbasis tokoh lokal sangat efektif dalam membentuk opini publik yang positif.

Media sosial juga memainkan peran penting. Di Kampar, hampir seluruh responden menyatakan percaya pada informasi imunisasi yang dibagikan melalui media sosial, terutama jika berasal dari akun resmi atau tenaga kesehatan.

Bahkan, sebagian besar aktif menyebarkan informasi positif tersebut ke orang lain. Di Pekanbaru, tren serupa juga terlihat, meskipun masih ada kerentanan terhadap konten negatif. 

Artinya, ke depan kita perlu memperkuat narasi positif dan memperbanyak kampanye edukatif berbasis media sosial yang kreatif, mudah dicerna, dan melibatkan figur lokal yang dipercaya.

Salah satu pembelajaran penting dari pandemi COVID-19 adalah betapa kuatnya dampak misinformasi. Kekhawatiran akan efek samping, status halal, dan persepsi bahwa kekebalan tubuh alami lebih baik dari imunisasi masih menjadi hambatan.

Namun, data survei menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil responden di Riau yang benar-benar memegang pandangan tersebut. Ini membuka ruang besar untuk mengoreksi miskonsepsi melalui edukasi yang berkelanjutan, bukan konfrontatif.

Kami di Dinas Kesehatan Provinsi Riau melihat masa depan imunisasi dengan optimisme. Kepercayaan masyarakat sudah terbentuk, sekarang saatnya kita mempermudah akses, memperkuat edukasi, dan membangun kolaborasi lintas sektor.

Kita perlu mendorong pendekatan yang lebih inklusif – melibatkan tokoh agama, guru, influencer lokal, bahkan komunitas WhatsApp – untuk memastikan bahwa setiap orang tua memahami pentingnya imunisasi sebagai tanggung jawab, bukan sekadar pilihan.

Imunisasi bukan hanya tentang mencegah penyakit. Ia adalah bentuk perlindungan sosial, pondasi dari masa depan yang sehat, dan bukti nyata bahwa kita sebagai masyarakat peduli terhadap generasi yang akan datang.

Kami percaya bahwa dengan sinergi dan komitmen bersama, Provinsi Riau dapat menjadi contoh keberhasilan program imunisasi yang tidak hanya berbasis pada angka, tetapi juga pada kesadaran kolektif bahwa setiap anak berhak sehat, berhak terlindungi, dan berhak hidup tanpa bayang-bayang penyakit yang dapat dicegah.

Mari kita teruskan langkah baik dalam membangun kepercayaan, memperluas akses, dan memperkuat edukasi imunisasi di setiap pelosok Riau.

Inilah saatnya kita bergerak lebih inklusif, lebih terkoordinasi, dan lebih bersemangat untuk memastikan setiap anak mendapatkan haknya atas perlindungan kesehatan.

Mari kita pastikan bahwa setiap anak di Riau tumbuh dengan perlindungan yang layak mereka dapatkan. Karena imunisasi bukan sekadar tindakan medis – imunisasi adalah wujud cinta.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved