Sabtu, 11 April 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Karhutla di Riau

Modifikasi Cuaca Gencar Digelar, Karhutla Riau Masih Mengganas

Hotspot masih tinggi meski operasi modifikasi cuaca (OMC) terus dilakukan untuk menurunkan hujan buatan di Riau,

Penulis: Syaiful Misgio | Editor: Theo Rizky
Istimewa
KARHUTLA - Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) terjadi di Riau. Secara keseluruhan total hotspot masih tinggi meski operasi modifikasi cuaca (OMC) terus dilakukan untuk menurunkan hujan buatan di Riau, 

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU – Meski operasi modifikasi cuaca (OMC) terus dilakukan untuk menurunkan hujan buatan di Riau, titik panas (hotspot) kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) masih terus bertambah.

Pada hingga saat ini, sebanyak 116 hotspot baru terpantau di Riau.

Kepala BPBD Riau Edy Afrizal mengatakan, pemerintah tidak tinggal diam dan terus menggencarkan upaya penanggulangan di darat maupun lewat udara. 

Operasi OMC dengan pesawat penyemai garam telah dilakukan sebanyak 9 sortie dengan total 7.200 Kg garam (NaCl).

“OMC tetap kita jalankan di beberapa wilayah potensial. Hari ini tambahan satu pesawat lagi sudah turun untuk bantu penyemaian awan, mudah-mudahan segera hujan,” kata Edy, Rabu (23/7/2025).

Baca juga: Tinjau Langsung Karhutla di Riau, Menhut Raja Juli: Jangan Main Api, Nanti Ditangkap Beneran

Berdasarkan data Satgas, Rokan Hilir (Rohil) menjadi daerah dengan penambahan hotspot terbanyak yakni 76 titik, diikuti Pelalawan 19 titik, dan Rokan Hulu (Rohul) 17 titik. Kebakaran juga terpantau cukup luas di Kampar dan Pekanbaru.

“Yang jadi perhatian saat ini Rohil, karena selain banyak titik api, juga luasan lahannya cukup besar. Tapi upaya pemadaman darat dan udara terus dilakukan,” ujar Edy.

Sebagaimana diketahui, OMC adalah upaya ilmiah untuk mengubah kondisi atmosfer secara terkontrol demi mencapai tujuan tertentu, seperti mengurangi hujan ekstrem, mencegah banjir, atau menambah curah hujan di daerah kekeringan atau terjadinya Karhutla. 

Di Indonesia, OMC sering dilakukan oleh BMKG dan BNPB, terutama saat menghadapi potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir dan kabut asap.

Baca juga: Menteri Lingkungan Hidup Tiba di Rohil, Tinjau Karhutla di Kubu dan Kubu Babussalam

Dalam hal ini, OMC memainkan peran krusial dalam mencegah dan mengendalikan Karhutla, terutama di wilayah rawan seperti Riau, Sumatera Selatan, dan Kalimantan. 

OMC dilakukan dengan menyemai awan menggunakan garam (NaCl) agar hujan turun di area gambut yang rentan terbakar.

Tujuannya adalah membasahi lahan gambut sebelum memasuki musim kemarau, sehingga kelembapan tanah tetap terjaga dan api sulit menyebar.

Penyemaian awan dilakukan dengan pesawat yang menaburkan zat seperti natrium klorida (garam) atau kalsium oksida ke awan yang berpotensi hujan.

Baca juga: Kualitas Udara di Kampar Kian Memburuk Saat Karhutla, ISPU Mendekati Tidak Sehat

Tanggulangi Karhutla dengan Helikopter Water Bombing

Saat ini, total keseluruhan hotspot di Riau sejak awal tahun mencapai 1.566 titik, dengan total luasan lahan terbakar mencapai 1.009,12 hektare. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved