Sabtu, 11 April 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Ngobrol Pintar AI dan Pendidikan

Disdik Riau: AI Hanya Alat, Pendidikan Perlu Sentuhan Manusia

Teknologi hanyalah alat bantu (tools), bukan pengganti akal sehat dan interaksi manusia dalam proses belajar-mengajar.

Penulis: Alex | Editor: Theo Rizky
Tribunpekanbaru.com/Alexander
AI DAN PENDIDIKAN - Sekretaris Dinas Pendidikan Provinsi Riau, Dr Arden Simeru MKom, dalam kegiatan 'Ngobrol Pintar: AI dan Pendidikan' yang digelar di Hotel Furaya Pekanbaru, Jumat (25/7/2025). (Dok: Ale) 

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam dunia pendidikan tidak bisa dijadikan sebagai penentu utama keberhasilan pembelajaran.

Teknologi hanyalah alat bantu (tools), bukan pengganti akal sehat dan interaksi manusia dalam proses belajar-mengajar.

Hal itu disampaikan Sekretaris Dinas Pendidikan Provinsi Riau, Dr Arden Simeru, MKom, dalam kegiatan 'Ngobrol Pintar: AI dan Pendidikan' yang digelar di Hotel Furaya Pekanbaru, Jumat (25/7/2025).

Ia mengingatkan agar para pendidik dan siswa tidak 'bertuhan' kepada teknologi.

"AI itu hanya kumpulan database. Kalau datanya salah, hasilnya juga salah. Kita jangan bertuhan ke AI," tegasnya di hadapan peserta yang terdiri dari guru, dosen, mahasiswa, dan pelaku pendidikan dari berbagai daerah.

Baca juga: Ngobrol Pintar AI dan Pendidikan, GM Telkom Witel Riau: Pendidik Harus Lihai Gunakan AI

Ia juga menyampaikan perubahan besar dalam dunia pendidikan akibat masifnya arus digital.

Menurutnya, para dosen dan guru tidak boleh merasa paling pintar karena saat ini peserta didik justru bisa lebih dulu mengakses berbagai informasi.

"Saya selalu sampaikan ke dosen muda atau mahasiswa, bisa saja anak didik kita lebih tahu duluan. Mereka punya sumber informasi yang sangat banyak dan akses yang luas ke seluruh dunia," ucapnya.

Baca juga: Buka Ngobrol Pintar AI dan Pendidikan, Pt Kadisdik Riau: Tidak Boleh Ketinggalan Teknologi

Dalam menghadapi era digital, ia menekankan pentingnya empat hal utama: berpikir kritis, kreativitas, inovasi, dan kemampuan kolaborasi. Dunia pendidikan, lanjutnya, bukan hanya bicara soal akademis, tapi juga pengembangan soft skill.

"Kemampuan bekerja sama itu penting. Telkom tidak mencari orang yang IPK 4 tapi tidak bisa kerja tim. Dunia kerja butuh kolaborasi," ulasnya memberi contoh.

Ia juga mengajak para guru untuk memanfaatkan teknologi sebagai alat percepatan.

"Dulu periksa ujian siswa bisa semalaman, sekarang hanya butuh lima menit. Teknologi bisa mempercepat capaian pembelajaran, asalkan digunakan secara bijak. Tapi tetap, yang sempurna hanyalah ciptaan Tuhan," ujarnya.

(Tribunpekanbaru.com/Alexander)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved