Sabtu, 11 April 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Suaka Margasatwa Rimbang Baling Simpan Sejarah Romusha

Menyusuri Jalur Rel Kereta Api di Riau (2)

Editor:

TRIBUNPEKANBARU.COM, KUANSING- Dua orang warga Desa Petai, Kuantan Singingi(Kuansing) Riau, pelaku sejarah pembongkaran rel kereta api, Muhammad Yulis dan Badurrahmin menunjukkan bahwa Suaka Margasatwa Rimbang Baling memang mengendapkan sejarah Romusha.

Ribuan warga sebagai buruh kerja paksa Jepang tahun 1942 membangun rel kereta api dari Pintu Batu, Sijunjung, Sumatra Barat hingga ke Logas Kecamatan Singingi dan Pekanbaru. Kebanyakan di antara mereka tewas karena kelaparan saat bekerja.

Lintasan rel kereta itu melewati kawasan suaka margasatwa Rimbang Baling, mencakup Kuansing dan Kampar Kiri. Sebab, di Lagos, Kecamatan Singingi, yang berada di perbatasan Rimbang Baling dibuka tambang batu bara. Saat ini tambang itu bernama  Manunggal Inti Artama, yang kembali beroperasi sejak tahun 2008 lalu.

Mengikuti sumber dari Badurrahmin dan Muhammad Yulis, rombongan WWF dan beberapa wartawan menelusuri perlintasan tersebut. Turun naik bukit menghadapi akses tanah rimba raya Rimbang Baling, membuat kondisi tubuh terhuyung-huyung dalam mobil.
Namun kondisi itu terbayarkan oleh keindahan alam yang memesona.

Sejenak rombongan berhenti di Desa Pencong, bekas desa zaman jepang yang kemudian ditinggalkan penduduknya. Kini, keturunan warga desa Pencong, yang pernah bermukim di tepian sungai Singingi perbatasan kawasan Suaka Margasatwa Rimbang Baling dengan kebun masyarakat, sudah pindah ke desa Petai. Sebagai bukti sejarah, di tepian sungai ini masih banyak terdapat makam warga puluhan tahun silam.

Sayangnya, hutan Rimbang Baling kawasan ini terancam perambahan. Terlihat beberapa hektar mulai dibuka dengan penanaman sawit. Padahal, dilihat dari ketinggian bukit Pencong, kawasan yang dialiri sungai ini menyajikan pemandangan yang menakjubkan.

Menelusuri kawasan Rimbang Baling selanjutnya, rombongan kembali menempuh medan terjal dan licin. Beberapa anak sungai yang mengalirkan air jernih bisa dilewati dengan selamat. Sampai akhirnya matahari tenggelam, rombongan WWF dan media menemukan peninggalan kawasan tambang batu bara zaman Jepang. Lokasi ini bernama Lagos.  Konon kabarnya, di lokasi ini Jepang menguburkan harta kekayaannya sebelum menyerah kepada sekutu, seperti emas dan senjata yang tak ternilai harganya. Namun, Muhammad Yulis, saat berbincang di rumahnya di Desa Petai, Singingi tidak dapat menunjukkan di mana titik penguburan benda beharga itu.

Sepanjang perjalanan menuju Lagos, memang terlihat kekayaan ekosistem Rimbang Baling. Berbagai macam burung, serta jejak binatang langka lainnya dapat dilihat. Tak ketinggalan, jejak kawanan babi hutan terlihat jelas di kawasan eks tambang batu bara itu. Namun, beberapa jerat burung juga ditemukan, serta seonggokan kayu yang diduga ilegal logging.

Ahli spesies WWF Indonesia, Sunarto terlihat tercenung dengan ditemukannya beberapa jerat burung langka. Dia mengambil lalu memasukkan ke bak mobil yang kami tumpangi.

Meneruskan perjalanan ke areal MIA (Manunggal Inti Astara), tambang batu bara yang masih beroperasi. Beberapa gerbang penjagaan dapat dilalui. Terlihat truk pengangkut batu bara hilir mudik. Untung saja, kawasan tambang ini belum masuk kawasan Suaka Margasatwa Rimbang Baling. Namun, tak bisa dipungkiri, kawasan ini akan mengancam ekosistem Rimbang Baling.

Melihat penggalian batu bara di lokasi MIA, memang sangat disayangkan. Satu sisi hutan masih terlihat belum terjamah, di sisi lain kawasan dibabat habis tanpa ampun. Tetapi, bekas rel tidak dapat ditemukan secara utuh, kecuali yang menjorok kepermukaan tanah sepanjang satu meter. Lainnya masih terkubur di dalam tanah, namun panjangnya tidak terdeteksi.

Dari cerita Muhammad Yulis, orang tuanya bernama Bikam, meninggal ditangan kekejaman Jepang. Bikam termasuk satu warga yang menjadi Romusha, ikut membangun rel kereta api zaman itu. Seperti Bikam, ribuan lainnya meninggal sia-sia. Bahkan satu bedeng buruh ada yang wafat bersamaan akibat kezaliman penjajah. Sedangkan yang langsung ditembak mati di kawasan Lagos, ada sekitar 60 orang perhari setelah menggali lubang kunurannya sendiri.

Ketika gelap mulai menyelimuti, rombongan melanjutkan perjalanan ke desa Tanjung Belit Kampar Kiri, bermalam di sana.

Sekitar pukul 07.00 WIB, Minggu (9/6), perjalanan menelusuri sejarah Romusha di Rimbang Baling diteruskan. Hari itu, rombongan WWF dan media menelusuri Sungai Subayang dari desa Gema ke desa Pulau Pencong. Karena tidak ada jembatan, mobil jelajah yang kami tumpangi menaiki Akik, alat perlintasan air yang bisa menampung Mobil, serta masyarakat sekitar.

Melaju ke Bukit Kapak Mani, desa Koto Lamo. Di puncak bukit, hamparan Rimbang Baling yang menyimpan kekayaan ekosistem, flora dan fauna serta sejarah Romusha menyajikan pemandangan yang luar biasa. Serombongan yang turut dalam perjalanan ini, tak ketinggalanm meneriakkan takjub yang luar biasa. Momen ini juga diabadikan melalui kamera masing-masing.

Sunarto, kembali membuka datanya. Sekitar 2 ribu Ha, ada yang sudah terbuka menjadi lahan kebun sawit.
Sedangkan luas Rimbang Baling 136 ribu Ha.
Artinya, kawasan konversi ini masihbisa dijanjikan menjadi kawasan ekowisata dimasa mendatang.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved