Pesan Sunyi Koper Haedar
Keberadaan media sosial seolah-olah sudah menghilangkan batas antara domain privat dan domain publik. Ia seperti pisau bermata dua.
Oleh: Mexsasai Indra, Pengurus Wilayah Muhammadiyah Riau dan Wakil Rektor Universitas Riau
TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Keberadaan media sosial seolah-olah sudah menghilangkan batas antara domain privat dan domain publik. Ia seperti pisau bermata dua.
Di satu sisi, media sosial mampu mengangkat seseorang menjadi perhatian dunia dalam waktu singkat. Bagaimana Rayyan Arkhan Dika mendunia karena lenggak-lenggoknya di atas Jalur yang menjadi tradisi masyarakat Kuantan Singingi, atau Norman Kamaru yang viral karena membawakan lagu Chaiyya Chaiyya hingga akhirnya meninggalkan profesinya sebagai anggota Polri.
Namun di sisi lain, viralisme di media sosial juga dapat menjadi pintu masuk terbukanya suatu persoalan besar.
Kasus korupsi dan tindak pidana pencucian uang yang melibatkan mantan pejabat Ditjen Pajak Rafael Alun Trisambodo misalnya, mencuat setelah publik menyoroti gaya hidup mewah keluarganya. Kecurigaan publik terhadap sumber kekayaan yang tidak wajar akhirnya mendorong penanganan hukum oleh KPK.
Di tengah derasnya arus media sosial itu, publik belakangan justru disuguhkan potret yang berbeda. Jagat maya diramaikan oleh sebuah foto sederhana: koper milik Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof Dr KH Haedar Nashir.
Tidak ada yang istimewa dari koper itu. Bentuknya biasa saja, bahkan terlihat sederhana dan sudah lama digunakan. Namun koper itu menjadi menarik karena dimiliki oleh seorang tokoh yang memimpin organisasi besar dengan aset mencapai ratusan triliun rupiah.
Kemewahan organisasi ternyata tidak menjelma menjadi kemewahan pribadi. Di situlah letak pesan yang ditangkap banyak orang. Ketika sebagian publik figur tampil dengan simbol kemapanan dan gaya hidup mewah, koper sederhana milik Haedar justru menghadirkan kesan yang berbeda.
Pilihan Jalan
Penampilan, gaya hidup, dan pilihan mengikuti tren pada dasarnya merupakan domain privat setiap individu.
Hal ini lahir dari paham individualisme yang menempatkan kebebasan individu sebagai bagian dari hak pribadi.
Namun dalam perspektif penyelenggaraan negara, domain privat itu sering bersinggungan dengan domain publik.
Karena itulah negara membuat batas yang jelas antara kepemilikan pribadi dan kepentingan publik.
Misalnya melalui perbedaan plat kendaraan dinas dan kendaraan pribadi, hingga kewajiban Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) maupun Laporan Harta Kekayaan Aparatur Sipil Negara (LHKASN).
Semua itu dimaksudkan agar ada batas yang jelas antara kekuasaan dan kepentingan pribadi.
Muhammadiyah sendiri bukanlah organ negara. Ia adalah organisasi kemasyarakatan yang tetap menjalankan fungsi sosial dan pendidikan di tengah masyarakat.
Karena itu, pengurus Muhammadiyah tidak berada dalam ruang pengawasan yang sama seperti penyelenggara negara.
Dalam posisi tertentu, sebenarnya selalu ada ruang bagi seseorang untuk memanfaatkan jabatan demi kepentingan pribadi.
Namun jalan itulah yang tampaknya tidak dipilih oleh Haedar Nashir. Di tengah budaya flexing dan hedonisme yang semakin terbuka di ruang publik, ia justru memperlihatkan kesederhanaan yang berjalan apa adanya.
Bagi warga Muhammadiyah sendiri, hal tersebut sebenarnya bukan sesuatu yang asing. Sejak lama Muhammadiyah mengenal doktrin, “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah.” Sebuah pesan yang diwariskan KH Ahmad Dahlan agar organisasi menjadi ruang pengabdian, bukan alat mencari keuntungan pribadi.
Barangkali karena itulah banyak warga Muhammadiyah menganggap tidak ada yang luar biasa dari koper Haedar. Kesederhanaan itu memang telah menjadi bagian dari budaya organisasi yang tumbuh sejak lama, bahkan jauh sebelum istilah clean government dan good governance populer digunakan.
Pilihan hidup Haedar juga terlihat dalam berbagai kesempatan lain. Dengan kapasitas dan pengaruh yang dimilikinya, akan sangat mudah baginya berada di lingkar kekuasaan formal negara.
Namun ia memilih tetap berada di jalur pengabdian organisasi. Karena itu, viralnya koper tersebut terasa lebih sebagai refleksi keteladanan dibanding sekadar pencitraan.
Transformasi Nilai
Kini koper tua itu bukan lagi sekadar barang bawaan. Ia berubah menjadi simbol sederhana tentang cara seseorang memandang amanah.
Di tengah suasana ketika jabatan sering dihubungkan dengan fasilitas dan kemewahan, kemunculan koper Haedar menghadirkan kesan yang berbeda.
Tidak dibuat-buat dan tidak pula dipertontonkan secara berlebihan. Justru karena tampil apa adanya, publik menangkap pesan yang kuat dari kesederhanaan itu.
Masyarakat hari ini mungkin sedang merindukan teladan yang sederhana. Ketika publik terlalu sering disuguhi gaya hidup mewah para pemimpin, hal-hal kecil justru menjadi lebih bermakna. Sebuah koper lama, perjalanan dengan kereta biasa, atau sikap hidup yang tidak berlebihan kadang lebih membekas di ingatan publik.
Yang diingat orang dari seorang pemimpin sering kali bukan kemewahan yang pernah ia tampilkan, melainkan sikap hidup yang ia wariskan. Dari sebuah koper sederhana itu, publik seperti diingatkan kembali bahwa jabatan tidak selalu harus menciptakan jarak. Kadang justru kesederhanaanlah yang membuat seorang pemimpin tetap dekat dan dihormati. Seperti kata John C Maxwell, "Leadership is influence, nothing more, nothing less." (Tribunpekanbaru.com/Alexander)
| Arti Kata Godek, Godek Artinya, Apa Arti Godek, Arti Godek dalam Bahasa Gaul hingga Hukum Godek |
|
|---|
| Kompak dengan Pakaian Putih, Mexsasai Indra Daftar Bakal Calon Rektor Unri |
|
|---|
| Arti Kata Visitor, Visitor Artinya, Arti Visitor di Media Sosial, Website, Bahasa Gaul, Hubungan |
|
|---|
| Arti Kata Resilience, Resilience Artinya, Arti Resilience dalam Bahasa Gaul, Hubungan Asmara, Medsos |
|
|---|
| Arti Kata Unbelievable, Unbelievable Artinya, Arti Unbelievable dalam Bahasa Gaul, Hubungan Asmara |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pekanbaru/foto/bank/originals/Mexsasai_Indra_16052026.jpg)