Rabu, 13 Mei 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Terus Melemah, Hari Ini Rupiah Anjlok ke Rp17.508 per Dolar AS

Tren penurunan masih berlanjut selama sesi pagi. Sekitar pukul 09.45 WIB, nilai tukar rupiah turun ke posisi Rp17.506 per dolar AS

Tayang:
Penulis: | Editor: Firmauli Sihaloho
unsplash @@vsolomianyi
Ilustrasi mata uang Dolar. Hunter Biden diduga ketahuan bayar uang PSK. 

TRIBUNPEKANBARU.COM - Pada perdagangan Selasa pagi, 12 Mei 2026, kurs rupiah mengalami tekanan cukup tajam terhadap dolar Amerika Serikat hingga melampaui angka Rp15.500.

Mengacu pada data Bloomberg, mata uang Garuda memulai perdagangan di posisi Rp17.479 per dolar AS.

Angka tersebut menunjukkan pelemahan sekitar 0,37 persen dibandingkan penutupan sebelumnya yang tercatat di level Rp17.414 per dolar AS.

Tren penurunan masih berlanjut selama sesi pagi. Sekitar pukul 09.45 WIB, nilai tukar rupiah turun ke posisi Rp17.506 per dolar AS atau terkoreksi 0,53 persen.

Lima menit kemudian, pelemahan kembali terjadi dengan rupiah bergerak ke level Rp17.508 per dolar AS.

Pakar Ekonomi, Ferry Latuhihin mengatakan, kenaikan harga minyak dunia akibat konflik di Timur Tengah menjadi salah satu sentimen utama yang membebani rupiah. 

Tercatat, harga minyak Brent berjangka yang berakhir pada Juli, patokan minyak global, naik 2,9 persen menjadi USD104,22 per barel. 

Baca juga: Polwan di Maluku Digerebek bersama Pria Lain, Berawal dari Laporan Sang Suami yang Juga Brimob

Baca juga: Sebotol Pertalite Capai Rp 30 Ribu, Warga di Pesisir Pelalawan Sulit Dapatkan BBM Subsidi

Sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate AS berjangka yang berakhir pada Juni naik 2,8 persen menjadi USD98,03 per barel.

Menurutnya, lonjakan harga energi memperlebar tekanan terhadap kondisi fiskal dan eksternal Indonesia.

“Harga minyak dan fiscal crack kita (membebani rupiah),” ujar Ferry dikutip dari Kontan.

Meski ekonomi Indonesia kuartal I 2026 tumbuh 5,61 persen, pelaku pasar dinilai belum sepenuhnya percaya terhadap data-data ekonomi domestik yang dirilis pemerintah, termasuk angka pertumbuhan ekonomi dari Data Badan Pusat Statistik (BPS).

Ia menyebut, tekanan terhadap rupiah masih berpotensi berlanjut apabila kondisi global tidak membaik dan ketahanan eksternal domestik terus melemah. 

Bahkan, Ferry memperkirakan nilai tukar rupiah berisiko menyentuh level Rp 25.000 per dolar AS pada semester II-2026.

Sumber: Tribunnews
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved