Senin, 18 Mei 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Penentuan Awal Ramadan 2026

Dua Metode Penentuan Awal Ramadan, Hisab dan Rukyatul Hilal

Terdapat dua metode dalam menentukan awal bulan Ramadan 1447 H yakni secara hisab dan rukyatul hilal.

Tayang:
Penulis: Fernando | Editor: M Iqbal
Tribun Pekanbaru/Donny Kusuma Putra
Rukyatul hilal Provinsi Riau digelar di lantai tujuh Hotel Sonaview Dumai, Selasa (17/2/2026). Tampak Kepala Kantor Wilayah  (Kakanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Riau, Mahyudin sedang mengamati hilal menggunakan teleskop. 

TRIBUNPEKANBARU.COM,PEKANBARU - Terdapat dua metode dalam menentukan awal bulan Ramadan 1447 H yakni secara hisab dan rukyatul hilal.

Ketua Tim  Kemasjidan, Hisab Rukyat, dan Bina Syariah Kanwil Kementrian Agama Riau, Khairunas menjelaskan bahwa metode hisab menggunakan perhitungan astronomis sebagai penentu utama.

Ia menyebut berdasarkan kriteria ini, jika posisi hilal sudah berada di atas nol derajat saat matahari terbenam.

"Maka secara hitungan bulan baru sudah dianggap ada atau wujud," ulasnya kepada Tribunpekanbaru.com, Selasa (17/2/2026).

Sedangkan metode Rukyatul Hilal menekankan pada pembuktian visual. Ia menyebut bahwa berdasarkan standar MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura), hilal dianggap memungkinkan untuk dilihat jika tingginya minimal tiga derajat.

"Perbedaan itu biasanya terjadi di kisaran nol hingga tiga derajat. Secara hisab sudah masuk posisi positif, tapi secara rukyat kecil kemungkinan untuk bisa dilihat atau bahkan belum pernah terjadi di Indonesia hilal di bawah tiga derajat terpantau secara visual," jelasnya.

Khairunnas menyebut bahwa hisab tidak memakai metode Rukyatul Hilal dalam penentuan awal bulan.

Sedangkan Rukyatul Hilal harus memakai hisab untuk memperhitungkan terlebih dahulu.

"Baru setelah itu dibuktikan dengan Rukyatul Hilal, dilakukan lewat pengamatan hilal," ulasnya.

Perbedaan lainnya yaitu hisab itu dengan perhitungan tanpa membuktikan secara langsung lewat pengamatan hilal. Metode Rukyatul Hilal setelah dihitung hilalnya setinggi apa setelah itu baru dilakukan pengamatan.

"Jadi metode Rukyatul Hilal ada pembuktiannya lewat pengamatannya, apa memang terlihat atau tidak," paparnya.

Khairunnas mengatakan apabila di atas nol derajat maka positif bulan terlihat lewat penghitungan hisab ini. Ia menyebut secara perhitungan ketika ketinggian bulan di atas nol derajat berarti wujudul hilal secara perhitungan.

"Maka sudah ada bulan itu secara hitungan karena ketinggian hilal sudah di atas nol derajat," paparnya.

Sementara itu, kriteria Rukyatul Hilal digunakan karena kemungkinan bisa melihat bulan dengan ketinggian di atas tiga derajat. Ketika ketinggian bulan di bawah tiga derajat kemungkinan terlihatnya kecil.

Khairunas mengatakan bahwa penghitungan hisab, bulan terlihat di kisaran lebih dari nol derajat atau nol koma derajat. Sedangkan Rukyatul Hilal, bulan terlihat ketika ketinggian di atas tiga derajat.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved