Potret Data Ketimpangan Gender di Riau: Simak Hasil Data BPS
Sistem ini menempatkan perempuan di posisi bawah (subordinat) dalam keluarga maupun masyarakat, sering kali membatasi peran.
Penulis: Budi Rahmat | Editor: Firmauli Sihaloho
TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Badan Pusat Statistik (BPS) Provisi Riau mencatat, indeks Ketimpangan Gender (IKG) Riau 2025 turun dibandingkan tahun 2024.
Dari angka yang dirilis BPS, tahun 2024 0,471 persen. Tahun 2025 turun menjadi 0,445 persen.
Kepala BPS Riau Asep Riyadi mengatakan perbaikan di semua dimensi menjadi faktor utama menurunnya Indeks Ketimpangan Gender (IKG) di Provinsi Riau.
"Secara spasial, ketimpangan gender mengalami penurunan yang signifikan di sebagian besar kabupaten/kota di Provinsi Riau," ungkap Asep dalam rilis BPS Riau yang dibuka, Kamis (7/5/2026)
Dari data yang dibeberkan berikut persentase keterlibatan perempuan dan laki-laki di berbagai aspek
Persentase anggota legislatif
- Perempuan 16,92 persen
- Laki-laki 83,08 persen
Persentase penduduk dengan pendidikan SMA ke atas
- Perempuan 44,22 persen
- Laki-laki 46,88 persen
Tingkat partisipasi angkatan kerja
- Laki-laki 84,64 persen
- Perempuan 47,68 persen
Baca juga: Breaking News: Sekda Riau Syahrial Abdi dan 2 Pejabat Pemprov Riau Jadi Saksi di Sidang Abdul Wahid
Baca juga: UPDATE Kecelakaan Bus ALS vs Truk Tangki di Murata, 4 dari 16 Korban Tewas Teridentifikasi
Mengenal Ketimpangan Gender
Ketimpangan gender adalah kondisi tidak setara antara laki-laki dan perempuan dalam akses sumber daya, kesempatan, partisipasi, dan perlakuan adil di berbagai aspek kehidupan, seperti ekonomi, pendidikan, dan politik. Ini mencakup perbedaan upah, terbatasnya peran perempuan dalam pengambilan keputusan, serta subordinasi akibat norma sosial.
Aspek Utama: Meliputi kesehatan reproduksi, pemberdayaan (pendidikan dan politik), dan partisipasi pasar tenaga kerja.
Contoh Ketidakadilan: Adanya stereotip (pelabelan), subordinasi (posisi lebih rendah), marginalisasi (peminggiran), dan beban ganda terutama bagi perempuan.
Hal tersebut berdampak menghambat pertumbuhan ekonomi, mengurangi potensi partisipasi tenaga kerja, dan melanggengkan kekerasan berbasis gender.
Apa itu Sistem Sosial Patriarki
Patriarki berasal dari bahasa Latin patriarchia yang berarti aturan ayah atau kepala keluarga laki-laki.
Patriarki adalah sistem sosial atau budaya yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan utama, mendominasi dalam peran kepemimpinan, otoritas moral, hak sosial, dan penguasaan properti.
Sistem ini menempatkan perempuan di posisi bawah (subordinat) dalam keluarga maupun masyarakat, sering kali membatasi peran.
Laki-laki memegang kendali atas pengambilan keputusan penting, baik dalam ranah domestik (keluarga) maupun publik.
Ini adalah sistem yang berakar dalam budaya, hukum, dan ekonomi yang melembagakan hak istimewa laki-laki.
Dampak Patriarki bagi perempuan menciptakan ketidaksetaraan gender, di mana peran perempuan sering dianggap lebih rendah atau hanya terbatas pada urusan domestik.
Dampak Patriarki pada laki-laki , budaya ini juga bisa membebani laki-laki dengan ekspektasi sosial, seperti keharusan menjadi satu-satunya pencari nafkah atau tidak boleh menunjukkan emosi.(Tribun Pekanbaru/Budi Rahmat)
| Arti Kata Visitor, Visitor Artinya, Arti Visitor di Media Sosial, Website, Bahasa Gaul, Hubungan |
|
|---|
| Arti Kata Prestige, Prestige Artinya, Arti Prestige dalam Otomotif, Arti Prestige dalam Bahasa Gaul |
|
|---|
| Arti Kata Agender, Agender Artinya, Arti Agender dalam Bahasa Gaul, Hukum dan Agender Menurut Islam |
|
|---|
| Arti Kata Peres, Peres Artinya, Apa Arti Peres, Arti Peres dalam Bahasa Jawa dan dalam Bahasa Gaul |
|
|---|
| Arti Kata Resilience, Resilience Artinya, Arti Resilience dalam Bahasa Gaul, Hubungan Asmara, Medsos |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pekanbaru/foto/bank/originals/BPS-Riau-merilis-angka.jpg)