Minggu, 17 Mei 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Dolar Naik Rupiah Terperosok

Rupiah di Rp 17.600 Bukan Kehancuran Ekonomi

Rupiah di Rp 17.600 adalah ujian, bukan vonis. Gejolak sekarang ini hanya fenomena dolar yang sedang mahal.

Tayang:
Penulis: Alex | Editor: M Iqbal
Foto/Istimewa
Ekonom Kementerian Keuangan RI, Dahlan Tampubolon 

Ekonom Kementerian Keuangan RI, Dahlan Tampubolon

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Hari ini (15 Mei 2026), satu dolar AS telah mencapai Rp17.600, melampaui angka psikologis krisis moneter 1998 secara nominal. Heboh di segala linimasa pun terjadi. Apakah yang sesungguhnya sedang terjadi? Jawaban singkatnya adalah ini bukan krisis Rupiah, ini adalah krisis dolar yang terlalu mahal. Membedakan keduanya bukan soal omon-omon; ini soal kebijakan yang tepat versus kepanikan yang kontraproduktif.

Tekanan yang ada saat ini didominasi oleh badai eksternal yang bersifat sistemik. Federal Reserve Amerika Serikat mempertahankan suku bunga tinggi karena inflasi AS masih bedegil di angka 3,8 persen tahunan per April 2026, tertinggi sejak Mei 2023, gegara lonjakan harga minyak akibat eskalasi konflik Iran di Selat Hormuz.

Dalam kerangka Uncovered Interest Parity (UIP), kondisi ini sangat mudah dipahami: ketika imbal hasil aset dolar lebih tinggi dan bertahan lama, modal global balek ke AS, memperkuat dolar dan memperlemah seluruh mata uang negara sedang membangun secara bersamaan. Rupiah melemah bukan sendirian, Euro, Yen, dan Pound pun tertekan. Ini cermin "dolar yang menguat", bukan lantaran "Rupiah yang runtuh".

Geopolitik Timur Tengah menambah parah segalanya secara langsung bagi Indonesia. Sekitar 20 persen transportasi minyak dunia terganggu akibat ketegangan di Selat Hormuz, mendorong harga minyak Brent melonjak ke USD 107,17 per barel.

Bagi Indonesia sebagai importir neto minyak, di mana 85 persen impor minyak mentah diserap untuk subsidi BBM, setiap lonjakan harga minyak adalah pukulan ganda: defisit transaksi berjalan melebar, kebutuhan dolar membengkak, dan beban subsidi di APBN makin berat. Inilah yang para ekonom sebut imported inflation: inflasi yang datang bukan dari dalam, melainkan dari luar perbatasan, dan jauh lebih sulit dikendalikan dengan instrumen moneter domestik.

Di sisi internal, kerentanan struktural Indonesia turut memperdalam tekanan. Siklus repatriasi laba korporasi multinasional dan pembayaran dividen dalam valuta asing secara musiman menguras pasokan dolar domestik. Utang pemerintah kini mencapai Rp9.920,4 triliun, naik 19 persen tahunan, dengan rasio terhadap PDB sebesar 40,75 % .

Cadangan devisa telah menyusut USD 10,3 miliar sejak awal tahun akibat operasi stabilisasi Rupiah yang intensif, tersisa USD 148,2 miliar. Yang membuat investor makin waswas adalah peringatan MSCI Inc. soal potensi penurunan status pasar Indonesia: bobot dalam indeks MSCI Emerging Markets menyusut dari 0,68 % menjadi 0,57 persen, tanda-tanda alam yang berpotensi memicu penarikan modal institusional secara besar-besaran.

Tapi kalau kita bandingkan secara langsung dengan keadaan krismon 1998, bisa muncul kesalahan analisis yang serius. Pada 1998, pelemahan Rupiah jadi pemicu sekaligus akibat dari keruntuhan sistemik: perbankan ambruk, utang swasta yang tidak terlindungi nilai tukar (unhedged) meledak, dan kepercayaan publik hancur total. Beda jauh dengan sekarang yang fondasi strukturalnya lebih kokoh.

Rasio Kecukupan Modal (CAR) perbankan berdiri kokoh di 25,89 persen, jauh di atas ambang aman internasional 8 persen. Rasio kredit bermasalah (NPL) hanya 2,05 % . Surplus neraca perdagangan telah berlangsung 70 bulan berturut-turut. Ekonomi tumbuh 5,11 % pada 2025, salah satu tertinggi di antara negara G20. Ini bukan potret ekonomi yang sedang ambruk; ini potret ekonomi yang sedang diuji.

Bank Indonesia kini berhadapan dengan dilema yang dikenal dalam teori sebagai impossible trinity: menjaga stabilitas nilai tukar, mempertahankan kebebasan arus modal, dan menjalankan kebijakan moneter yang mandiri, ketiganya tidak bisa dicapai penuh secara bersamaan.

Mempertahankan BI Rate di 4,75 persen selama tujuh bulan adalah pilihan terukur: menaikkan suku bunga agresif memperkuat daya tarik Rupiah tapi resikonya kredit dan pertumbuhannya mandeg. Intervensi ganda di pasar spot dan pasar Non-Deliverable Forward (DNDF) terbukti efektif, pada sore hari ini, Rupiah berhasil dikoreksi kembali ke Rp17.596 dari puncak Rp17.600 pagi tadi. Memang masih ada peluang untuk menaikkan suku bunga 25-50 basis poin, kalau tekanan terus berlanjut.

Intervensi moneter merupakan pemadam kebakaran, bukan obat dokter. Solusi jangka panjang hanya bisa datang dari transformasi struktural yang selama ini terus ditunda.

Tiga agenda tidak bisa ditawar:

Pertama, hilirisasi industri yang sungguh-sungguh, mengekspor baterai kendaraan listrik, bukan bijih nikel mentah, menghasilkan nilai tambah puluhan kali lebih besar dan pasokan dolar yang jauh lebih stabil.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved