Kamis, 21 Mei 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Dampak Melonjaknya Dolar

Rupiah Loyo, Masyarakat Kecil Diperkirakan Paling Terdampak

Harga kebutuhan pokok perlahan mulai naik. Di sisi lain, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terus mengalami tekanan

Tayang:
Penulis: Alex | Editor: M Iqbal
Foto/Istimewa
Ekonom Senior Universitas Riau, Dr. Dahlan Tampubolon SE, MSi 

Dahlan Tampubolon, Ekonom Senior Universitas Riau 

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU -- Harga kebutuhan pokok perlahan mulai naik. Di sisi lain, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terus mengalami tekanan. Dua kondisi ini jika terjadi bersamaan tentu bukan kabar baik bagi masyarakat, terutama kelompok ekonomi kecil yang ruang bertahannya sangat terbatas.

Dalam kacamata ekonomi, situasi yang sedang kita alami sekarang bisa dijelaskan melalui fenomena cost-push inflation atau inflasi dorongan biaya. Ketika rupiah melemah, maka biaya impor berbagai bahan baku otomatis ikut naik. Barang-barang seperti pupuk, pakan ternak, bahan obat-obatan, hingga bahan baku industri menjadi lebih mahal karena harus ditebus dengan dolar yang nilainya terus menguat.

Akibatnya, produsen tidak punya banyak pilihan selain menaikkan harga jual barang kepada masyarakat. Sebab jika tidak dilakukan, roda usaha mereka juga bisa terganggu. Jadi ketika masyarakat melihat harga-harga mulai merangkak naik, sebenarnya itu adalah efek berantai dari pelemahan nilai tukar rupiah.

Kondisi saat ini juga terasa lebih berat dibanding beberapa tahun sebelumnya. Sebab pelemahan rupiah kali ini datang bersamaan dengan tekanan ekonomi global yang cukup kuat. Mulai dari konflik geopolitik, kenaikan suku bunga negara maju, hingga ketidakpastian ekonomi dunia yang membuat tekanan terhadap rupiah semakin besar.

Dalam teori Purchasing Power Parity atau paritas daya beli, kondisi ini menunjukkan bahwa kemampuan rupiah untuk membeli barang semakin menurun. Sederhananya, uang yang dimiliki masyarakat hari ini tidak lagi bisa membeli barang sebanyak sebelumnya. Nilai uang terasa makin mengecil di tengah kenaikan harga kebutuhan sehari-hari.

Kelompok yang paling merasakan dampaknya tentu masyarakat kecil dan warga pedesaan. Rumah tangga dengan penghasilan pas-pasan akan menjadi pihak yang paling tertekan karena sebagian besar pendapatan mereka habis hanya untuk memenuhi kebutuhan pokok.

Kalau kondisi ini berlangsung lama, dampaknya tidak hanya berhenti pada kenaikan harga barang. Industri-industri yang masih sangat bergantung pada bahan baku impor juga bisa ikut terpukul. Jika biaya produksi terus naik sementara daya beli masyarakat melemah, maka ancaman pengurangan tenaga kerja hingga PHK bisa saja terjadi.

Karena itu pemerintah tidak boleh hanya menjadi penonton. Situasi seperti ini membutuhkan langkah cepat dan nyata. Pemerintah perlu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui intervensi yang tepat, sekaligus memastikan program bantuan sosial benar-benar sampai kepada masyarakat yang membutuhkan.

Perlindungan sosial jangan hanya menjadi program di atas kertas. Dalam situasi ekonomi seperti sekarang, masyarakat kecil membutuhkan kehadiran negara yang benar-benar terasa manfaatnya.

Bagi pelaku usaha, efisiensi menjadi langkah yang tidak bisa ditawar lagi. Dunia usaha harus mulai mengurangi ketergantungan terhadap barang impor dan memperkuat penggunaan bahan baku lokal agar tidak terlalu rentan terhadap gejolak kurs dolar.

Sementara bagi masyarakat, kondisi ini juga menjadi pengingat agar lebih bijak mengatur pengeluaran rumah tangga. Gaya hidup konsumtif dan kebiasaan berutang untuk kebutuhan yang tidak penting harus mulai dikurangi. Fokus utama sekarang adalah menjaga ketahanan ekonomi keluarga.

Ekonomi memang selalu bergerak seperti roda. Ada masa sulit dan ada masa membaik. Yang terpenting saat ini adalah bagaimana semua pihak, baik pemerintah, pelaku usaha, maupun masyarakat, mampu menjaga kepala tetap dingin dan tidak panik menghadapi tekanan ekonomi yang sedang terjadi.

(Tribunpekanbaru.com/Alexander)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved