Karhutla di Pelalawan
Hujan Lebat Pada El Nino Super, BPBD Pelalawan Waspada Titik Api Tak Terpantau Satelit
Hujan lebat masih mengguyur di saat musim kemarau kering yang melanda Kabupaten Pelalawan dalam dua pekan terakhir.
Penulis: johanes | Editor: Muhammad Ridho
TRIBUNPEKANBARU.COM, PELALAWAN - Hujan lebat masih mengguyur di saat musim kemarau kering yang melanda Kabupaten Pelalawan dalam dua pekan terakhir.
Padahal musim kemarau tahun ini disebut sebagai el nino super, lantaran tingkat panas yang tinggi dan dimulai lebih awal serta durasi lebih panjang dibandingkan tahun 2025 lalu.
Namun potensi hujan masih tetap ada di sela-sela kemarau dengan intensitas ringan, sedang, hingga lebat. Termasuk hujan yang mengguyur Pangkalan Kerinci pada Rabu (10/7/2026) dini hari yang cukup lebat dengan durasi cukup lama.
Menurut Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pelalawan, Zulfan M.Si, peluang hujan tetap ada walaupun musim kemarau cukup terik. Hujan yang turun merupakan hasil alami, meskipun Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) masih dijalankan BNPB dan BPBD Riau.
"Alhamdulillah masih ada hujan. Hari ini juga masih berpotensi dari perkiraan BMKG. Memang agak sulit diprediksi cuaca saat ini," kata Zulfan kepada tribunpekanbaru.com, Rabu (10/7/2026).
Zulfan menyampaikan, hujan yang mengguyur di saat kemarau mulai menguasai angkasa Pelalawan dinilai mampu menekan titik panas dan titik api yang muncul di beberapa kecamatan. Alhasil hotspot yang terpantau tetap minim dan firespot yang terdeteksi maaih nihil.
Baca juga: Peringatan Dini BMKG Cuaca Riau, Siak, Pelalawan hingga Pekanbaru Berpotensi Hujan Sore hingga Malam
"Sampai saat ini kita nihil firespot. Hotspot ada satu-satu, tapi bukan titik api. Cuman aktivitas industri atau sumber panas yang lain saja," tambah Zulfan.
Meski demikian, BPBD Pelalawan tetap waspada terhadap titik api yang tidak terpantai satelit. Fenomena ini sering terjadi di Pelalawan, ketika api Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) membara tapi tidak dipantau satelit.
Untuk mengantisipasi hal itu, pihaknya meminta seluruh tim gabungan di setiap rayon kecamatan melakukan patroli rutin titik api dan sosialisasi kepada masyarakat.
Warga pemilik lahan diingatkan agar tidak melakukan pembakaran dalam mengolah lahan dengan alasan apapun. Sebab bisa menimbulkan Karthutla yanb besar dan tidak terkendali yang sulit dipadamkan. Terkhusus di daerah yang rentan terjadi kebakaran seperti Kecamatan Teluk Meranti, Kuala Kampar, Bunut, Ukui, dan Pangkalan Kerinci.
"Dari 118 desa dan kelurahan di Pelalawan, sebanyak 54 diantaranya rawan terjadi kebakaran. Itu yang harus dijaga dan dipantau terus," tandas Zulfan.
(Tribunpekanbaru.com/Johannes Wowor Tanjung)
| Karhutla di Desa Sokoi Padam Total, BPBD Sebut Pelalawan Nihil Firespot, Potensi Hujan Masih Tinggi |
|
|---|
| Asap Belum Hilang, Tim Darat Masih Pendinginan di Lokasi Karhutla Desa Sokoi Pelalawan |
|
|---|
| Hujan Tak Turun di Lokasi, Tim Darat Lanjutkan Pendinginan Karhutla di Desa Sokoi Pelalawan |
|
|---|
| Dua Titik Karhutla Baru Muncul di Pelalawan, Tim Manggala Agni Tempuh 8 Jam Menuju Lokasi |
|
|---|
| 2 Hotspot Terpantau di Pangkalan Kerinci, BPBD Pelalawan Sebut Bukan Titik Karhutla |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pekanbaru/foto/bank/originals/genangan-air-usai-hujan-di-pelalawan.jpg)