Jumat, 17 April 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Dodol Khas Rohul Diburu Jelang Lebaran, Pembuatan Masih Secara Tradisional

Usaha dodol ini memang masih mempertahankan cara tradisional. Mulai dari bahan, cara memasak bahkan membungkusnya.

Penulis: Dian Maja Palti Siahaan | Editor: Sesri
Tribun Pekanbaru/Dian Maja Palti Siahaan
Pengerajin dodol di Rohul, Jamaluddin Nasution menunjukkan dodol hasil usahanya, Jumat (13/3/2026) / Palti Siahaan 

Ringkasan Berita:Aktifitas pembuatan dodol khas Rohul mulai menggeliat jelang Idul Fitri 2026. 
Pembuatan dodol mulai dilakukan setiap hari sejak pekan lalu. Ada misi suci dibalik usaha ini yakni melestarikan makanan tradisional.

 

TRIBUNPEKANBARU.COM, PASIR PENGARAIAN - Sejumlah pekerja tampak memadati sebuah pondok yang ada di Jalan Botu Namira Suri di Dusun Keramat, Kaiti III, Desa Rambah Tengah Barat Kaiti, Kecamatan Rambah.

Didominasi kaum pria yang sedang serius mengaduk sebuah kuali besar. Kuali tersebut berisi dodol khas Rokan Hulu.

Makin lama, proses pengadukan dengan menggunakan adukan dari kayu membutuhkan tenaga lebih karena dodol makin mengental.

"Proses memasaknya bisa sampai 5 jam," kata Jamaluddin Nasution, sang pelopor usaha dodol khas Rohul ini pada Tribunpekanbaru.com, Jumat siang pekan lalu (14/3/2026).

Pondok tersebut berukuran sekitar 10 m x 4 meter. Terbuat dari kayu dan berlantai tanah, di pondok inilah proses memasak dodol dilakukan. Dua atau tiga tungku bisa dijejerkan di pondok tersebut untuk masak dodol sekaligus. Bahkan lebih lagi.

Setiap tungku, minimal 2 orang tukang aduk, bahkan bisa 3 orang. Lama proses memasak serta panasnya api menjadi tantangan tersebut bagi tukang aduk. Sehingga dibutuhkan stamina dan kesabaran.

Bisa dibayangkan mengaduk dodol berjam-jam dengan suhu panas sekitar dari api yang ada di tungku. Praktis, cucuran keringat akan membasahi pekerja yang mengaduk. Itulah yang terlihat sore itu.

"5 jam mengaduknya itu, nggak boleh putus," terangnya.

Baca juga: Mie Rempah Sulastri Pekanbaru Eksis di Tengah Gempuran Kuliner Modern, Cuma Rp 10 Ribu per Porsi

Pembakaran sendiri masih menggunakan kayu bakar. Sehingga penyusunan kayu bakar agar api tertata bagus ke tengah harus tetap dilakukan.

Jamaluddin mengatakan menjelang Lebaran ini, pihaknya meningkatkan produksi. Sebab pesanan makin banyak terutama dikalangan para pejabat.

Para pejabat Pemkab Rohul, katanya, menghidangkan dodol buatnya saat open house kepada para tamu yang hadir.

Bupati dan wakil bupati Rohul menjadi langganan siapapun pun yang menjabat. Termasuk Bupati Anton saat ini berserta wakilnya, Syafaruddin Poti. Selain itu para pejabat lainnya juga membeli dodolnya.

Pernah menjadi kepala desa memang membuat jejaring Jamaluddin terbentang luas di Rohul khusus di tingkat pemerintahan. Ia bisa cepat mempromosikan usaha kuliner tradisional tersebut.

"Kalau menjelang Lebaran ini kita masak tiap hari. Sudah mulai tiap hari kita nih," terangnya.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved