Warga di 50 Kampung Terpelosok Siak Menjerit Sulit Dapat BBM
Warga di 50 kampung terpelosok di Kabupaten Siak menjerit akibat sulitnya mendapatkan Bahan Bakar Minyak (BBM) dalam beberapa hari terakhir.
Penulis: Mayonal Putra | Editor: Muhammad Ridho
TRIBUNPEKANBARU.COM, SIAK - Warga di 50 kampung terpelosok di Kabupaten Siak menjerit akibat sulitnya mendapatkan Bahan Bakar Minyak (BBM) dalam beberapa hari terakhir.
Kondisi ini terutama dirasakan masyarakat di wilayah Kecamatan Sungai Apit dan Sungai Mandau yang sehari-hari sangat bergantung pada BBM untuk aktivitas ekonomi dan transportasi.
Kelangkaan pasokan paling terasa karena sebaran SPBU hanya berada di pusat kecamatan, sementara masyarakat kampung harus menempuh jarak puluhan kilometer untuk membeli BBM. Selama ini, kebutuhan warga banyak ditopang oleh pengecer di kampung-kampung.
Yuda, warga Kampung Penyengat, Kecamatan Sungai Apit, mengaku aktivitasnya hampir lumpuh selama sepekan terakhir karena tidak ada lagi pasokan BBM untuk sepeda motor miliknya. Padahal kendaraan itu menjadi alat utama untuk berjualan sayur keliling.
“Biasanya saya beli di warung pengecer di kampung, tapi seminggu ini sudah tidak ada,” kata Yuda, Jumat (8/5/2026).
Menurut dia, pergi ke SPBU di pusat Kecamatan Sungai Apit bukan solusi yang mudah. Selain harus menempuh jarak sekitar 20 kilometer, biaya dan waktu yang dikeluarkan tidak sebanding dengan jumlah BBM yang dibeli.
“Tidak mungkin antre ke sana kalau cuma isi tiga liter untuk motor bebek. Tidak masuk hitungannya. Kami yang tinggal di pelosok ini memang sangat terbantu dengan adanya pengecer selama ini,” ujarnya.
Baca juga: Siak Tak Lagi Aman? 9 Motor Hilang Dalam Sebulan, Polisi Buru Pelaku Curanmor
Yuda hanyalah satu dari ribuan warga yang kini terdampak sulitnya distribusi BBM di kampung-kampung terpencil.
Banyak warga mengaku kesulitan pergi ke kebun, melangsir hasil panen, hingga menjalankan usaha kecil karena kendaraan mereka kehabisan bahan bakar.
Menanggapi kondisi tersebut, Bupati Siak Afni Zulkifli menyebut pemerintah daerah telah menyampaikan langsung persoalan itu kepada Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) dan Pertamina Patra Niaga di Jakarta.
Afni mengatakan dirinya bersama Ketua DPRD Siak Indra Gunawan diterima langsung Kepala BPH Migas Wahyudi Anas, perwakilan Komite BPH Migas, serta pihak Pertamina Patra Niaga. Kehadirannya untuk membahas kesulitan masyarakat di pelosok Siak akibat kebijakan pengendalian BBM subsidi.
“Kami menyampaikan kondisi faktual masyarakat di pelosok Kabupaten Siak yang saat ini menjerit karena kelangkaan pasokan BBM di kampung-kampung,” kata Afni.
Menurutnya, kebijakan pemerintah pusat terkait distribusi BBM subsidi melalui sistem XStar dan rekomendasi sub penyalur sudah bersifat final. Namun Pemkab Siak meminta solusi cepat agar masyarakat tidak terus kesulitan mendapatkan BBM.
“Meski kebijakan ini sudah final, kami tetap menyampaikan kesulitan rakyat yang harus jauh datang ke SPBU, sementara SPBU tidak ada di setiap kampung atau bahkan kecamatan. Inilah yang wajib dicarikan solusi dalam waktu sesingkat-singkatnya dalam bentuk sub penyalur,” ujarnya.
Afni memastikan secara umum stok BBM di wilayah Siak dalam kondisi aman.
| Siak Tak Lagi Aman? 9 Motor Hilang Dalam Sebulan, Polisi Buru Pelaku Curanmor |
|
|---|
| Jelang Lebaran Idul Adha dan Kenaikan Yesus, DPRD Wanti-wanti Kelangkaan BBM di Pekanbaru Lagi |
|
|---|
| Kelompok Bank Sampah di Siak Produksi Pupuk Organik 10 Ton per Hari |
|
|---|
| Bupati Siak Dukung Peluncuran SMAP dan WBS oleh PT BSP Zapin |
|
|---|
| Lima Pemuda Disabilitas Siak Dikirim ke Bogor, Muamar Tak Kuasa Menahan Tangis di Hadapan Bupati |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pekanbaru/foto/bank/originals/Antrean-pengendara-yang-membeli-BBM-di-SPBU-di-Kabupaten-Siak.jpg)