Padang

Warga Ungkap Fakta Ini Dibalik Peristiwa Banjir yang Akibatkan Ambruknya Jembatan Baringin

Warga Kelurahan Beringin, Kecamatan Lubukkilangan, Padang ungkap fakta dibalik peristiwa ambruknya proyek jembatan beton Baringin-Koto Lalang

Warga Ungkap Fakta Ini Dibalik Peristiwa Banjir yang Akibatkan Ambruknya Jembatan Baringin
Tribun Pekanbaru/ Riki Suardi
Daerah Aliran Sungai Gurun Kudu yang tak lagi dialiri air. 

Laporan kontributor tribunpadang.com Riki Suardi dari Padang

TRIBUNPADANG.COM, PADANG- Dibalik ambruknya proyek jembatan beton yang menghubungkan Baringin-Koto Lalang Jumat (2/11/2018), ternyata ada fakta baru yang berkaitan dengan Daerah Aliran Sungai (DAS) Baringin.

Fakta baru itu adalah, Sungai Baringin ini memiliki dua cabang yakni, satu ke arah Kelurahan Tarantang dan satu lagi ke arah Gurun Kudu, Koto Lalang. Namun aliran ke arah Gurun Kudu ini, ditutup sejak awal 2000-an.

"Aliran sungai ke Gurun Kudu ini ditutup sekitar awal 2000-an. Penutupan itu dilakukan pasca proyek irigasi Kapalo Banda Tarantang. Karena aliran dari Sungai Beringin debit airnya terlalu sedikit ke Kapalo Banda, sehingga aliran ke Sungai Kudu ditutup supaya debit airnya lebih tinggi," ungkap Lamsuit saat ditemui tribunpadang.com di ladangnya di dekat sungai Baringin, Senin (5/11/2018).

Warga RT01/RW01, Kelurahan Beringin, Kecamatan Lubukkilangan, Padang itu juga menuturkan setiap terjadi banjir di Baringin, warga selalu meminta kepada para pejabat yang datang untuk meninjau lokasi banjir agar aliran sungai ke Gurun Kudu kembali dihidupkan lagi.

"Kalau aliran ini tidak dihidupakan, nagari ini akan hancur dihantam banjir bandang bila curah hujan tinggi," kata pria itu menirukan permohonan warga RT01 kepada para pejabat Pemda. Lamsuit mengakui, sebagian warga memang akan tidak menyetujui kalau aliran sungai ke Kudu itu dihidupkan kembali.

Daerah Aliran Sungai Gurun Kudu yang tak lagi dialiri air.
Daerah Aliran Sungai Gurun Kudu yang tak lagi dialiri air. (Tribun Pekanbaru/ Riki Suardi)

Pasalnya, ada warga yang sudah menjadikan aliran sungai itu sebagai lahan pertanian. Namun menurutnya, tergantung kepada pemerintah.

"Kalau saya pribadi setuju aliran ini dihidupkan kembali, karena dari ninik moyang kami sungai ini sudah mengalir," kata pria tua berusia 62 tahun itu.

Senada dengan Lamsuit, salah seorang petani Kudu, Syaiful One juga berharap agar aliran sungai ke Gurun Kudu itu dibuka kembali, agar jika terjadi hujan lebat, debit air di Sungai Baringin tidak lagi meluap seperti yang terjadi pada Jumat lalu.

Di samping, itu masyarakat di Gurun Kudu ataupun di Pulau Jawi-jawi yang berada di sebelah Gurun Kudu, khususnya petani, juga bisa mendapatkan aliran air yang lebih banyak untuk menggarap lahan sawah.

"Saat ini sungai itu dapat dikatakan sudah mati. Bahkan ada petani yang tak bisa lagi menggarap sawah, sehingga juga ada beberapa sawah yang menjadi lahan tidur yang tidak bisa dimanfaatkan, karena tidak ada air," katanya.

"Kondisi ini sudah berlangsung lama, sudah ada sekitar 15 tahun. Harapan saya, kalau bisa Pemerintah kembali membuka lagi aliran sungai yang ditutup itu, supaya airnya bisa dimanfaatkan oleh petani," harapnya.

Dari penelusuran tribunpadang.com, aliran sungai ke Gurun Kudu yang ditutup berada sekitar 400 meter sebelum proyek jembatan beton Beringin yang diterjang banjir. Aliran sungai ke Kudu yang ditutup itu memiliki lebar sekitar 15-20 meter.

Sebagian badan sungai sudah dimanfaatkan masyarakat untuk areal pertanian. Seperti diketahui, pada Jumat (2/11/2018) curah hujan yang tinggi telah mengakibatkan banjir di sejumlah titik di Kota Padang.

Di kawasan Beringin, banjir menghancurkan proyek jembatan senilai Rp8 miliar lebih yang tengah dibangun, dan satu jembatan gantung senilai Rp400 juta. (*)

Editor: Budi Rahmat
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved