Kekhawatiran Asita Riau Saat Kebijakan Bagasi Gratis Dihapus dan Rencana Travel Agen Tiru Tahun 1990
Harusnya pemerintah bisa intervensi lebih jauh karena ini berkaitan dengan hajat hidup orang banyak
Penulis: Nasuha Nasution | Editor: Afrizal
Pihak agen travel ada yang berencana kembali lagi menerapkan sistem Overland (perjalanan darat) sebagaimana yang dilaksanakan pada tahun 80 dan 90 an.
Laporan wartawan tribunpekanbaru.com Nasuha Nasution
TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Ketua DPD Asita Riau Dede Firmansyah melihat rencana kenaikan tarif harga tiket pesawat dan adanya kebijakan penghapusan bagasi gratis, akan berdampak pada jumlah wisatawan yang akan melancong.
"Efeknya ke pariwisata tentu sangat besar, karena mobilitas orang untuk melakukan kunjungan akan berkurang dengan kebijakan ini, "ujar Dede Firmansyah.
Apalagi yang sangat berpengaruh lagi kebijakan maskapai penerbangan yang akan menerapkan sistem bagasi berbayar atau menghapus yang selama ini ada bagasi gratis.
" Saya rasa pemerintah harus melihat itu secara jelas, gimana cara mencapai target wisatawan kalau ini diberlakukan, "ujarnya.
Karena sebagai pihak travel agen sendiri, Asita menjual paket yang tentunya murah dan sesuai permintaan masyarakat.
Dengan kebijakan tersebut tentunya tidak ada lagi yang murah.
Baca: Lion Air Terapkan Bagasi Berbayar, Ini Cara Penumpang Menyiasati Bila Terpaksa Pergi Naik Pesawat
Baca: Lion Air dan Wings Air Hapus Jatah Bagasi Penumpang, Akankah Harga Tiket Pesawat Turun?
Baca: Catat, Mulai 8 Januari Bagasi Lion Air dan Wings Air Berbayar!
"Misalnya kita menjual pilihan Bandung atau Jakarta tentu yang dipilih yang murah, kalau selama ini pengalaman begitu, dan yang jelas kalau ini diberlakukan efeknya pada pemerintah tidak capai target pariwisata, "ujar Dede.
Dengan tarif ongkos pesawat yang mahal dan biaya bagasi yang tidak murah, maka lanjut Dede Firmansyah orang akan berpikir dua kali untuk melakukan perjalanan.
Sebagaimana diketahui lanjut Dede Firmansyah tahun 2018 lalu target wisman 17 juta dan hanya tercapai 16 juta.
Sedangkan target wisman tahun 2019 ini targetnya 20 juta.
"Saya sangat riskan sekali tercapai itu, untuk target wisatawan nusantara tahun 2816 ini 250 juta orang. Kalau mahal kayak gini gimana mau tercapai, "ujarnya.
Bahkan pihak agen travel ada yang merencanakan kembali lagi menerapkan sistem Overland (perjalanan darat) sebagaimana yang dilaksanakan pada tahun 80 dan 90 an.
" Misalnya masuk dari Sumut kemudian keluar di Pekanbaru atau Sumbar, bisa jadi itu terjadi kalau misalnya biaya bagasi dan ongkos pesawat yang besar, "jelas Dede.
Baca: Pertama Kali Ceramah Di Atas Pesawat, Ini Pesan Ustaz Abdul Somad Kepada Penumpang Dan Jamaah Umrah
Baca: Kisah Ustaz Abdul Somad Ketika Mahasiswi Ngajak Bersalaman, Begini Reaksinya
Baca: Dari Madinah, Ustaz Abdul Somad Bersama 3 Ustaz Lain Ikut Mendoakan Kesembuhan Ustaz Arifin Ilham
Harusnya lanjut Dede pemerintah bisa intervensi lebih jauh karena ini berkaitan dengan hajat hidup orang banyak yang saat ini menjadikan pesawat sebagai modal transportasi.
" Jadi Kementerian Perhubungan bilang silahkan diberlakukan jika masyarakat tidak resah, sementara dipastikan masyarakat akan menjerit dan resah dengan kebijakan ini, "ujar Dede.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pekanbaru/foto/bank/originals/foto_berwisata_ke_rumah_tuan_kadi_pekanbaru_3.jpg)