Tribun Travelling
Eksotiknya Pasir Putih di Rupat Utara
Pulau Rupat merupakan satu dari sejumlah potensi wisata di Kabupaten Bengkalis, Riau
Penulis: Mayonal Putra | Editor:
Laporan: Mayonal Putra
TRIBUNPEKANBARU.COM, DUMAI- Pulau Rupat merupakan satu dari sejumlah potensi wisata di Kabupaten Bengkalis, Riau. Tepatnya di Rupat Utara, pantai berpasir putih, dibalut birunya laut yang terbentang sepanjang 11 kilometer di desa Teluk Rhu dan Tanjung Punak, Kecamatan Rupat Utara menawarkan keindahan yang memesona. Objek wisata yang menjanjikan ini sudah dinisbahkan oleh Pemkab Bengkalis menjadi pusat wisata pantai, Resort Melayu dan Hutan Mangrove di sepanjang Sungai Selat Pauh.
Menempuh akses darat dari Ibu Kota Provinsi Riau, Pekanbaru, Anda bisa mengunjunginya melalui Kota Dumai, sebuah kota pelabuhan di pantai timur Pulau Sumatra. Kemudian menggunakan kapal yang sudah tersedia dari pelabuhan Kota Dumai mencapai keasrian Rupat Utara. Sebetulnya, pulau ini sudah lama menjadi tujuan wisata lokal, terlebih di hari-hari libur.
Selain hamparan pantai yang menabjudkan, hamparan hutan mangrove yang masih asri serta kampung nelayan yang dimiliki menjadi menjadi tujuan dari perjalanan Anda. Ini pula yang disadari Pemerintah kabupaten Bengkalis, bahwa itu adalah modal penting dalam pengembangan sektor wisata.
Pada dasarnya, objek wisata pantai berpasir putih dalam balutan air laut yang biru bisa menjadi ikon andalan bagi Kabupaten Bengkalis secara khusus dan Provinsi Riau secara umum. Soalnya, pantai ini tak kalah hebat dari hamparan pantai yang sudah mendunia di negara-negara Asia.
"Dalam pembangunan wisata ini tetap mengandalkan keaslian alam, seperti hutan mangrove, sungai, pantai pasir putih serta fauna yang ada kawasan itu," sebut Bupati Bengkalis Herlian Saleh, Senin kemarin.
Untuk memanjakan pengunjung, katanya, pihaknya juga mempunyai konsep berbeda dari kebanyakan tempat wisata lainnya. Setidaknya, para pengunjung melakukan sebuah perjalanan dan melihat langsung hutan Mangrove dari dekat.
Pengunjung akan dibawa menyusuri kedalaman rimbunnya hutan mangrove yang masih dijamin keasriannya. Jangan pernah pembayangkan, Anda akan bersusah payah masuk dan harus melewati kubangan lumpur. Sebab, pengunjung tetap bisa menerobos hutan mangrove tanpa harus dikotori oleh lumpur itu.
Rencananya Pemkab Bengkalis akan membangun rel untuk kereta elektrik di tengah-tengah hutan mangrove. Tapi, ini sedang dalam upaya namun sudah masuk di proyek multiyears 2013, 2014 dan 2015.
Tujuannya, para wisatawan menyusuri hutan mangrove menggunakan armada kereta elektrik. Kereta ini jauh dari kebisingan dan polusi, karena digerakkan tenaga listrik.
Pemerintah juga akan membangun plataran atau jembatan untuk meniti kedalaman hutan. Tak lain, untuk memudahkan pejalan kaki.
Pada konsep ini, wisatawan tidak hanya berjalan di atas plataran, namun bisa mengusir lelah di gazebo-gazebo yang dibangun di tengah-tengah rimbunnya hutan mangrove itu. Bangunan gazebo ini sengaja dipersiapkan sebagai tempat beristirahat para pengunjung.
Bagi pengunjung yang ingin bertualang dengan menusuk hingga ke jantung hutan melalui jalur perairan, bisa menyisir Sungai Pauh sepanjang hampir 1 kilometer. Untuk ini, tentu saja sudah dipersiapkan perahunya. Selain itu, pengunjung bisa juga memanfaatkan jasa perahu nelayan setempat.
Jangan kira para wisatawan hanya disuguhi pemandangan dan dengan dominasi hutan mangrove belaka. Namun, tempat ini juga kaya akan keragaman faunanya. Pengunjung bisa melihat langsung aneka ragam burung penghuni hutan mangrove di kawasan Selat Pauh itu. Untuk memanjakan pengunjung, rencananya, Pemkab Bengkalis juga akan membangun tower, tempat untuk melihat ekosistem hutan mangrove dari ketinggian.
Lebih menggairahkan lagi, pada musim dingin di Australia, sejumlah burung negara itu datang bermigrasi. Hutan Mangrove Rupat Utara menjadi tempat dan rumah kedua bagi sekoloni unggas-unggas yang cantik itu. Pengunjung sekaligus dapat menikmati keunikan dan atraksi yang ditunjukan 'tamu unggas' dari negara tetangga itu. Selain menyajikan bunyi yang khas, burung-burung akan meramaikan langit Rupat tiap harinya, menyanyi dari dahan ke ranting hutan mangrove, lalu terbang ke hutan negara asalnya bila musim dingin sudah berakhir di sana. Pemandangan ini benar-benar dirasakan sebagai percikan surga di Pulau Rupat. Mungkin, tidak terdapat di tempat wisata lainnya.
Pulau ini tidak hanya menawarkan konsep berpetualang di hutan mangrove, namun di kawasan ini juga akan dibangun Perkampungan Melayu yang dikenal Melayu Resort. Kawasan ini dirancang dengan mempertahankan konsep rumah tradisional bernuansa Melayu dan Sakai, serta rumah-rumah adat se-Riau dan Indonesia. Pemkab Bengkalis juga berencana membangun miniatur rumah adat se-Indonesia. Sehingga keberadaannya benar-benar menjadi magnet wisatawan lokal, nasional bahkan mancanegara. Rumah-rumah adat yang dibangun di kawasan Melayu Resort ini juga berfungsi sebagai homestay atau penginapan bagi pengunjung yang ingin bermalam.
Bangunannya berukuran 6 x 6 meter. Didirikan sejajar dengan garis bibir pantai, menghadap kelaut. Setiap saat para pengunjung bisa menikmati eksotisme pantai pasir putih dan desiran ombak dari laut yang jernih. Deburan ini tentu menjadi musikalitas yang datang dari ritme alamai, silih berganti tiada hingga.