Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Kabut Asap Riau

Pemadam Asing pun Kewalahan

Ini menunjukan belum ada kemajuan berarti upaya pemadaman kebakaran setelah adanya bantuan dari sejumlah negara asing.

Editor: harismanto
Tribunpekanbaru/Ilham Yafiz
Satu unit pesawat tempur jenis Hawk sandar di Hangar Lanud Roesmin Nurjadin, Selasa (13/10/2015). Pilot melihat langsung perbedaan kondisi udara karena kabut asap di Sumatera dengan Udara bersih di Pulau Jawa. 

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Sempat membaik akhir pekan lalu, dalam beberapa hari terakhir kabut asap di wilayah udara Riau mulai menebal lagi. Papan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di Kota Pekanbaru masih menunjukan udara berstatus "Tidak Sehat".

Dari pantauan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) stasiun Pekanbaru kemarin, jarak pandang di Pekanbaru berkisar 1.200 meter, Dumai 2.000 meter, Pelalawan 1.200 meter dan Rengat 2.000 meter.

Kembali tebalnya asap berkait erat dengan masih banyaknya titik panas, yang menjadi indikasi kebakaran hutan dan lahan. Selasa sore sekitar pukul 16.00 WIB, satelit Terra dan Aqua memantau 300 titik panas (hotspot) di Pulau Sumatera.

Ini menunjukan belum ada kemajuan berarti upaya pemadaman kebakaran setelah adanya bantuan dari sejumlah negara asing.

Pasalnya, titik panas terbanyak masih di Sumatera Selatan (Sumsel), yang kini jadi fokus pemadaman tim gabungan dalam dan luar negeri. ”Jumlah titik panas di Sumsel mencapai 222 titik," kata Kepala BMKG Pekanbaru Sugarin.

Kemudian 31 titik panas di Lampung, Jambi 22, Bengkulu 13, Bangka Belitung 6 dan Kepri 3. "Sedangkan di Riau ada dua titik panas, yakni di Kabupaten Pelalawan dan Indragiri Hilir," ujarnya.

Berkaca dari kondisi itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Riau menyatakan hujan yang terjadi beberapa waktu belakangan ini di sejumlah wilayah di Riau tak bisa langsung menghilangkan asap. Itu karena asap kiriman dari bagian selatan Sumatera.

"Ketika hujan asap memang hilang, tapi satu hari kemudian berasap lagi karena itu kiriman dari Sumatera Selatan. Bahkan dari Kalimantan tertarik juga ke Riau, karena putaran angin," kata Kepala Sub Bagian Perencanaan BPBD Riau, Indrawansyah, Selasa.

Hal itu disampaikannya saat rapat kerja dengan panitia khusus kebakaran lahan dan hutan DPRD Riau. Indrawansyah mengatakan, sebenarnya datang asap itu sudah bisa diprediksi dengan melihat titik api.

"Bisa dilihat titik api dimana dan hitung berapa kilometer jaraknya ke Riau dengan mengecek arah angin dan kecepatannya," imbuhnya.

Oleh karena itu, BPBD berharap titik api yang ada di Sumatera Selatan bisa segera dipadamkan sesuai dengan target yang dicanangkan Presiden Joko Widodo saat berkunjung ke Riau pada Jumat pekan lalu, yakni selama dua pekan.

Apalagi bantuan dari luar negeri, seperti Singapura, Malaysia, dan Australia telah berdatangan ke Sumsel. "Kalau tuntas Sumsel, Riau juga tuntas. Tapi kita setiap hari juga monitor. Teknologi Modifikasi Cuaca tetap dilakukan sepanjang ada bibit awan," ucapnya.

Pengamatan pilot
Asap kebakaran hutan dan lahan yang masih menyelimuti sebagian besar Pulau Sumatera terlihat jelas dari udara secara kasat mata. Perbedaan kualitas udara pun juga terlihat jika dibandingkan dengan udara di atas kawasan Pulau Jawa.

Demikian kesaksian pilot jet tempur Hawk Skuadron Udara 12 Pangkalan Udara (Lanud) Roesmin Nurjadin Pekanbaru. Pemantauan langsung ini dilakukan saat tiga jet tempur dari Skuadron 12 melintasi wilayah Sumatera Selatan dan Riau, usai memeriahkan peringatan HUT ke-70 TNI di Jakarta.

Perbandingan jarak pandang (visibility) secara kasat mata langsung terlihat perbedaannya ketika pilot melitasi Selat Sunda, menuju Sumatera Selatan. Jarak pandang yang tadinya normal, dan langit cerah di Pulau Jawa, berubah drastis ketika memasuki Sumsel dan Riau.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved