Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Hikmah Isra’ Mi’raj

Perjalanan Rasulullah dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha adalah lambang bahwa tanah dan mesjid itu bagian dari keyakinan kita umat Islam.

Editor: harismanto
AFP/Getty Images
Masjidil Al Aqsa 

Oleh: Ahmad Tarmizi Lc MA
Koordinator Da’i Inisiatif Zakat Indonesia (IZI) Riau

KEJADIAN ini bermula pada tahun kedua belas setelah kenabian. Setelah beberapa waktu berlalu dari 'Aamul Huzni (tahun kesedihan). Disebut tahun kesedihan karena Rasulullah SAW ditinggal oleh kekasih tercinta; Sayyidah Khadijah yang senantiasa membantu dakwahnya, dan kematian pamannya Abu Tholib, yang senantiasa berada di sisinya membela dan menolongnya dari gangguan kafir Quraisy.

Sebagaimana diperkuat Imam Nawawy dan Ibnu Hazm, bahwa Isra Mikraj terjadi pada tahun kedua belas setelah kenabian, tepatnya di bulan Rajab. Rasulullah saw diperjalankan Allah SWT dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha dalam sebuah misi yang mulia. Kejadian ini diabadikan dalam surat Al-Isra ayat pertama, Allah SWT berfirman:

"Maha suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui". (QS 17:1)

Perjalanan ini merupakan sebuah mukjizat. Dalam waktu yang singkat, Rasulullah diperjalankan dari Mekkah ke Masjidil Aqsho di Palestina, kemudian memimpin shalat para nabi dan rasul. Setelah itu Rasulullah diperjalankan naik ke langit hingga Sidratul Muntaha untuk menerima wahyu dari Allah SWT sebagaimana digambarkan dalam surat An-najm ayat 13-18:

"Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu dalam rupanya yang asli pada waktu yang lain, yaitu di Sidratil Muntaha, di dekatnya ada surga tempat tinggal, Ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya, penglihatan (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak pula melampauinya, sesungguhnya dia sudah melihat sebagian tanda-tanda kekuasaan Tuhannya yang paling besar". (QS 53:13-18)

Imam Muslim meriwayatkan dalam sebuah hadis yang panjang yang diriwayatkan sahabat Anas dan sahabat Abu Dzar RA, bahwa Rasulullah SAW mengalami beberapa kejadian penting di antaranya; (1.) Dibedah dada Rasulullah SAW dan dicuci bersih hatinya; (2.) Rasulullah dan Jibril menaiki kendaraan Buraq dalam Isra dan Mikraj; (3.) Rasulullah memimpin shalat para nabi dan rasul di Masjidil Aqsho, (4.) Rasulullah disuguhi minuman air susu dan khamr oleh para malaikat, dan Rasulullah memilih air susu, yang kemudian dibenarkan karena sesuai dengan fitrah; (5.) Rasulullah bertemu dengan para Nabi yang mendoakannya di langit pertama hingga langit ketujuh, di antaranya Nabi Adam, Idris, Isa, Yahya, Yusuf, Harun, Musa dan Nabi Ibrahim alaihimus salam; (6.) Rasulullah menerima perintah shalat di Sidratul Muntaha, setelah meminta keringanan maka kewajiban shalat menjadi lima kali sehari semalam.

Di antara beberapa hikmah yang bisa kita ambil sebagai pelajaran penting bagi generasi kita saat ini adalah; Pelajaran pertama, bahwa masalah Palestina bukan sekedar masalah kemanusiaan saja. Bagi kita umat Islam, masalah Palestina adalah masalah saudara seakidah dan seagama. Mereka dijajah dan disiksa hingga hari ini karena mereka membela Mesjid Al-Aqsha. Jelas sekali dalam surat Al-Isra di atas bahwa perjalanan Rasulullah dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha adalah lambang bahwa tanah dan mesjid itu bagian dari keyakinan kita umat Islam. Bahwa Muslim itu ibarat satu tubuh, jika sebagian anggotanya sakit, maka bagian yang lain ikut merasa sakit.

Pelajaran Kedua; bahwa shalat merupakan syariat dan kewajiban yang besar maknanya. Dia adalah rukun Islam yang kedua. Dan perintah kewajibannya langsung dijemput ke atas langit di Sidratil Muntaha. Kita terus memperingatinya dan mempelajari sejarahnya sebagai pengingat bahwa kewajiban ini besar maknanya. Shalat merupakan amal yang pertama sekali akan dihisab oleh Allah di hari kiamat. Dan shalat merupakan pembeda antara kaum muslimin dan orang kafir. Rasulullah menasehati kita agar mengajarkan anak-anak kita shalat sejak kecil, dan memukul mereka ketika berumur sepuluh tahun jika meninggalkan shalat. Sudahkah ini kita lakukan?

Pelajaran Ketiga; bahwa agama samawi ditutup dengan risalah Rasulullah SAW. Semua nabi dan Rasul terdahulu shalat sebagai makmum di belakang Rasulullah SAW.

Pelajaran Keempat: Kekuasaan Allah begitu besar dan Allah Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana. Bisa saja Allah menurunkan perintah shalat tanpa mukjizat Isra Mikraj. Bisa saja Allah memperjalankan Rasulullah langsung ke langit tanpa harus melalui Palestina dan shalat di Mesjid Al-Aqsha. Akan tetapi Allah ingin menunjukkan kekuasaan Nya dan menguji keimanan hamba-hamba-Nya. Ada sebagian orang beriman yang murtad ketika mendengar Isra Mikraj karena tidak masuk akal dalam pikirannya.

Tetapi ada yang teguh memegang akidahnya dan membenarkan mukjizat ini seperti sahabat Abu Bakar As-Shiddik RA. "Jangankan dengan (perjalanan) Isra' dan Mikraj ini, dengan berita yang lebih besar dari itu (agama Islam) aku percaya. Aku percaya bahwa Rasulullah mendapat wahyu dari Allah sebagai Nabi terakhir".

Betapa penting kita mendidik generasi sekarang untuk menjaga dan mendirikan shalat, sebagaimana pentingnya kita menanamkan keyakinan dalam dada mereka seperti keteguhan keyakinan Abu Bakar As Shiddiq RA. Wallahu a'lam.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved