Ramadhan 1437 H
Puasa, Menyeimbangkan Akal dan Hati
Jadi puasa yang dilakukan setiap bulan Ramadan, dan puasa sunnah di luar Ramadan berhubungan erat dengan tujuan utama selain untuk keseimbangan tubuh
Oleh: KH. Cholil Nafis, Lc., Ph D
Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat MUI Pusat
IKLIM spiritual pada bulan Ramadan sangat terasa meningkat. Hal ini dapat dimaklumi karena pada bulan ini setiap muslim belomba-lomba menaikkan derajat spiritualnya dengan berbagai amalan-amalan ritual. Selain berpuasa, juga melaksanakan shalat tarawih, tilawah Al-Quran, I'tikaf, sadekah, shalat malam, dan lain sebagainya.
Para khatib, ustadz, dan agamawan selalu menyampaikan akan pentingnya umat meningkatkan volume ritual di bulan Ramadan, dengan dalil-dalil nashnya. Hanya saja tidak terlalu banyak yang mencoba menggagas bagaimana memaknai ritual-ritual itu dengan mengintermalisasikan diri dalam sikap dan perilaku.
Memang dibutuhkan kemampuan eksplorasi yang dalam tentang makna dibalik ritual Islam seperti dilakukan Jamal Muhammad Elzaky melelaui kitabnya Fushul fi Thibb Rasul, buku yang mengupas tentang mukjizat kesehatan pada ritual-ritual dalam Islam.
Dalam konteks puasa, kenapa Allah mewajibkan puasa? Jawabnya jelas, pasti memiliki tujuan yang pasti, yaitu ketakwaan sebagaimana disebut QS: Al-Baqarah: 183. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana puasa itu menjadi jembatan takwa bagi pelaksananya? Sering penjelasannya tidak lengkap, takwa semacam apa?
Jika dikaji lebih dalam, puasa yang juga diwajibkan bagi umat-umat terdahulu dan umat beragama yang lain memiliki spirit yang dahsyat. Selain memiliki kemanfaatan fisik seperti yang banyak diungkap berbagai ahli medis, puasa memiliki muatan makna menuju ketakwaan yang sangat psikologis. Puasa yang diawali dengan tidak makan dan minum menjadi faktor yang sangat penting. Karena makan dan minum menjadi salah satu sebab bagi tidak berfungsinya akal dan hati secara maksimal.
Betapa banyak tindakan dosa atau maksiat yang disebabkan oleh makanan dan minuman yang dikonsumsi. Meskipun yang diajarkan secara fisik tidak boleh makan dan minum, namun yang ingin dituju justru aspek psikologis agar ranah kognitif, afektif, dan spiritualnya menjadi baik
Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah haditsnya, "Janganlah kamu mematikan hatimu (dan pikiramnu) dengan banyak makan dan minum, karena sesungguhnya hati (dan pikiran) itu bagaikan tanaman, ia akan mati jika telalu banyak air (asupan)."
Senada dengan hal itu, Lukman Al-Hakim, seorang waliyullah yang namanya diabadikan oleh Al-Quran pernah menasehati anaknya, "Wahai anakku, apabila perutmu penuh, maka pikiran akan menjadi beku, hikmah terganggu (membisu), dan anggota badan akan malas mengerjakan ibadah."
Dari uraian tersebut mengindikasikan betapa makanan dan minuman yang dikonsumsi akan sangat memengaruhi terhadap pertumbuhan dan perkembangan individu. Sehingga puasa yang diwajibkan bertujuan untuk mengendalikan hawa nafsu makan. Dalam QS: Al-Baqarah: 168: “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi thayyib dari apa yang ada di bumi, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan, karena sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.”
Dalam ayat tersebut, apa yang kita makan pasti berhubungan dengan sikap dan perilaku. Meski makanan kita halal dan thayyib sekalipun tetap dianjurkan agar mampu memenej pola konsumsinya agar tidak terbawa oleh kebiasaan setan secara berlebihan (mubazzir) dan pemenuhan hawa nafsu. Apalagi didukung oleh temuan medis bahwa banyak makan menimbulkan banyak penyakit.
Dengan demikian, maka pola makan dan minum perlu diatur dengan baik agar tujuannya bukan sekadar hanya untuk memenuhi kepentingan fisik, tetapi terkait dengan kebutuhan psikologis dalam wujud takwa. Jadi puasa yang kita lakukan pada setiap bulan Ramadan, dan puasa sunnah di luar Ramadan berhubungan erat dengan tujuan utama selain untuk keseimbangan tubuh (fisik), juga untuk keseimbangan akal dan hati.
Sehingga pesan Luqmanul Hakim kepada anaknya bahwa perut yang penuh memang benar akan membekukan akal dan hatinya. Karena itu, agar tujuan puasa kita dapat memenuhi tujuan akhirnya, yaitu takwa, maka harus kita jaga kualitasnya agar selama sebulan penuh tidak hanya mendapatkan haus dan lapar. Wallahu a'lam. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pekanbaru/foto/bank/originals/takjil-ramadhan_20150618_090210.jpg)