Menyusuri Gua Lingkuok Tujuah di Kabupaten Kampar
"Kalau dari segi keunikan, Lingkuok Tujuoh cukup menarik. Banyak ornamennya yang cantik-cantik. Air terjun mini juga kita temukan di dalam," ungkapnya
Laporan Wartawan Tribun Pekanbaru, Fitrah Aidil Akbar
TRIBUN PEKANBARU.COM - Pagi menghinggapi Desa Tanjung, Kecamatan Koto Kampar Hulu, Kampar. Kendati matahari mulai meninggi perlahan, namun pagi itu belum terasa hangat. Warga Desa menyibukkan diri di kedai-kedai kopi, di ruas-ruas jalan, hingga di tepian sungai Kampar meski hanya sekedar bercakap-cakap.
Sementara, duabelas orang mahasiswa penelusur goa sedang bersiap di tepi sungai Kampar hendak menyeberang. Satu-persatu mereka melompati sebuah perahu yang juga digunakan warga kampung menyeberangi sungai selebar 50 meter itu.
Tak lama kemudian perahu mengantar penelusur goa itu beserta kendaraannya tiba di seberang sana. Seturun dari perahu, Adi (23) kordinator tim kemudian memandu rekan-rekannya menuju kawasan goa Lingkuok Tujuah.
Setidaknya satu jam perjalanan dengan sepeda motor mereka butuhkan demi menempuh perkebunan masyarakat hingga tiba di gua itu. Melintasi medan terjal, jalan setapak, semak resam, kebun karet dituntaskan mendekati gugusan Bukit Barisan.
Sesekali sepeda motor yang ditunggangi terpuruk di kubangan jalan. Namun tak menjadi kendala, terpuruk maupun terjatuh menjadi keseruan tersendiri perjalanan itu. Sejumlah bukit terlampaui, hingga tim tiba tepat di mulut goa yang dituju.
Sigap, Adi memberi arahan ke sejumlah rekan-rekannya. Ia memasang seutas tali khusus yang akan digunakan menuruni mulut goa vertikal itu. Sementara, teman-temannya yang lain mempersiapkan alat keamanan pribadi, semacam helm, descender, ascender, dan harness.
Satu-persatu, bergiliran mereka menuruni mulut goa sedalam 15 meter, hingga tiba di dasar yang samar-samar tampak dari luar. Dari mulut gua, mereka kemudian menelusuri lorong goa. Konon, goa Lingkuok Tujuah belum pernah di telusuri hingga tuntas.
"Kalau dari segi keunikan, Lingkuok Tujuoh cukup menarik. Banyak ornamennya yang cantik-cantik. Air terjun mini juga kita temukan di dalam. Dan yang tak disangka adalah hewan-hewan di dalam bentuknya unik," beber Adi kepada Tribun, pekan lalu.
Lalu sejauh hampir delapan ratus meter, tim itu terus memasuki lorong goa semakin dalam. Sejumlah cabang-cabang lorong, chamber (ruang besar), pilar, hingga stalagtit ukuran besar mewarnai perjalanan itu. Sesekali mereka berhenti sekedar istirahat, dan mengabadikan momen lewat berfoto.
Setengah hari tidak terasa mereka tuntaskan di dalam lorong goa. Adi, memutuskan untuk keluar setelah hari menujukkan pukul 15.00 Wib. Adi berhitung pada resiko dan kemampuan timnya. "Dilihat dari lantai goa yang berlumpur, jejak kaki kita yang pertama di sana. Penelurusan akan kita lanjutkan di lain waktu," ucap Adi bangga.
Lingkuok Tujuah adalah kawasan karst yang berada tak jauh dari Desa Tanjung. Oleh sekelompok tim penelusur dari Mapala Sakai Fisip Universitas Riau, goa itu disambangi untuk pertamakalinya.
Meski tidak lazim, oleh kelompok itu penelusuran goa mulai diperkenalkan dan disemarakkan ke publik wisata Riau. Terlebih penelusuran goa, masih termasuk kepada wisata minat khusus.
"Susur goa lebih komplit. Semua unsur kita dapat, petualangan, keilmuan, hingga teknikal. Apalagi Riau kita kenal sangat minim potensi wisata, kedepan ini dapat jadi pilihan" ujar Adi kepada Tribun pekan lalu.
Untuk menuju ke sana, dari Pekanbaru setidaknya kita membutuhkan 4 jam perjalanan menuju ke Desa Tanjung. Dari desa, kita harus dituntun oleh masyarakat.
Karena Lingkuok Tujuah, terletak di perkebunan warga yang cukup rumit jalannya. Selain itu, kita harus menyiapkan sepeda motor dalam kondisi prima. (cr1)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pekanbaru/foto/bank/originals/gua-lingkuok-tujuah-kampar_20160816_120606.jpg)