Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Tour de Borneo Jelajah 2335 Km

Beban Berat di Sepeda Jadi Perhatian

Dalam suasana gelap dan hujan rintik, kami mengayuh sepeda menuju ke arah yang ditunjukan oleh panitia. Lampu sepeda yang ada rasanya tidak cukup

Editor: harismanto
Foto/Tasman jen
Tasman Jen (60), personel Trio Lisoi bersama Syaiful dari Komunitas Sepeda Pekanbaru Bikepacker, saat berada di Sampang, dalam Tour de Borneo atau Borneo Long Distance Cycling 

Mulai Kamis (13/10/2016), Tasman Jen (60), salah seorang personel Trio Lisoi memulai penjelajahannya dalam Tour de Borneo atau Borneo Long Distance Cycling. Bersama Syaiful dari Komunitas Sepeda Pekanbaru Bikepacker, mereka akan melintasi rute sepanjang 2.335 km di pulau terbesar ketiga di dunia itu. Berikut catatan perjalannya yang dituliskan Tasman Jen.

PADA 15 Oktober 2016, turun dari fery KM Honda 3 di dermaga Teluk Batang, hari sudah pukul 03.00 WIB dan masih gelap. Hujan turun rintik-rintik. Ditambah tidur yang kurang membuat aku agak malas untuk bergerak.

Mobil dan motor mulai meninggalkan geladak fery. Giliran sepeda satu per satu mulai turun ke dermaga. Aku masih tetap menonton dan belum ingin bergerak sampai giliran terakhir nanti. Tapi aku jadi kaget tatkala petugas kapal memberitahu bahwa fery akan pindah ke dermaga baru. Jadi kami yang belum turun diharuskan bongkar dan turun di dermaga baru.

Sekitar 30 menit kemudian, fery sandar di dermaga baru. Aku lihat tidak ada jalan untuk keluarkan sepeda. Permukaan dermaga jauh diatas permukaan dinding kapal. Dalam hujan yang masih turun, aku dibantu empat orang kawan mengangkat sepeda yang berbobot 35 kg tersebut.

Dalam suasana gelap dan hujan rintik, kami mengayuh sepeda menuju ke arah yang ditunjukan oleh panitia. Lampu sepeda yang ada rasanya tidak cukup menerangi lobang-lobang jalan yang digenangi air. Hati-hati sekali aku mengayuh dalam gelap agar tidak terperosok ke dalam lobang.

Sudah 15 menit mengayuh belum terlihat satupun rumah penduduk. Akhirnya pada satu pertigaan, kami berbelok. Baru terlihat warung-warung dan rumah yang masih tutup. Penghuninya tentu masih tidur lelap di saat hujan seperti ini pikirku.

Azan subuh terdengar di kejauhan. Lalu kami berhenti untuk sholat di masjid tersebut.Kami dikumpulkan di gedung Bank Kalbar cabang Telok Batang. Tepat jam 7 pagi, Tour de Sail Karimata diberangkatkan. Aku dan Syaiful yang mempunyai beban berat di sepeda jadi perhatian yang lain. Peserta lebih mengenal kami sebagai pesepeda dari Pekanbaru.

Karakter peserta lebih terlihat sebagai pebalap. Karena beberapa dari mereka adalah atlet atau mantan atlet sepeda. Pertama kali aku terpancing untuk mengikuti irama mereka. Tapi di suatu tikungan yang berlobang kaitan panirku copot. Syukur, belum sempat jatuh. Sejak itu aku kurangi kecepatan hingga rata rata 22 km per jam. Peserta lain melesat jauh didepan dengan rata rata 30 km per jam.

Sebelum Telok Melano, roda sepeda Syaiful terlihat baling. Aku berhenti mencek ternyata satu jari jarinya putus. Syaiful melanjutkan ngengkol (bahasa Kalbar dayung sepeda) pelan dengan perasaan khawatir roda akan bengkok dan tidak bisa melanjutkan perjalanan.

Jam 12.00 WIB, kami memasuki kota Sukadana. Terlihat penjagaan tentara di sepanjang jalan. Pengamanan yang ketat karena kedatangan presiden. Kami beringsut dan kadang terhuyung tidak stabil karena terlalu pelan dengan jalan selebar 4 meter yang dipenuhi kendaraan kiri kanan. Belum lagi banyaknya pejalan kaki cukup menyulitkan kami pesepeda. Kami diarahkan ke pusat acara di pantai Pulau Datok.

Pantai Telok Datok cukup panjang dipenuhi tenda-tenda yang akan menjadi pusat pesta rakyat Sail Karimata. Kami finish disini.

Presiden berada di tenda dekat pantai menyaksikan berbagai atraksi kesenian rakyat dan diatas langit terlihat pesawat AURI memuntahkan penerjun payung ke udara. Aku tidak terlalu berminat menyaksikan ini karena capek, panas, lapar. Campur aduk rasanya. Beberapa kawan mengajak foto bareng. Mudah-mudahan tidak terlihat loyo, he..he.

Tak berapa lama, panitia membagikan makan siang. Aku sikat bersih. Sekarang kami ada beberapa pilihan, yaitu pulang kembali ke Pontianak dengan "ngengkol" atau nginap di di Sukadana lalu kembali ke Pontianak keesokan harinya.

Aku dan Syaiful memilih pulang besok karena ingin melihat kota Kayong Utara dulu dan camping di pantai Pulau Datok. Tapi sayang untuk camping di pantai tidak diizinkan. Akhirnya panitia memberikan penginapan di Aula Bank Kalbar.

Malamnya aku mengunjungi masjid besar Usman Al Khair yang tadi siang diresmikan presiden. Masjid besar di pinggir pantai dengan warna putih mengingatkanku dengan masjid Quba di Madinah. Dari beberapa sumber mengatakan masjid ini sumbangsih dari putra negri bapak Usman Sapta Odang anggota DPD RI.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved