Otonomi dan Korupsi, Riau Menyambut Hari Anti Korupsi (HAKI)
Riau yang sempat pada posisi diatas kini dengan berat hati harus menerima kenyataan pada posisi bawah utamanya pada soal korupsi.
Oleh: Bagus Santoso,
Anggota DPRD Provinsi Riau, Dapil Bengkalis, Dumai dan Meranti.
NAMA Provinsi Riau begitu mashur. Di kenal dan terkenal. Negeri Melayu yang santun dan gemerlap puja puji terutama atas sumbangan bahasa melayu untuk kesatuan dan persatuan negara Indonesia.
Riau sangat populer karena melimpah ruah sumber daya alamnya. Atas minyak bawah minyak. Begitu orang kagum atas kekayaan bumi Riau. Alam memberikan sumber minyak dan gas alam yang terkandung di perut bumi Riau. Maknanya tidak hanya di bawah tanah diatas terhampar jutaan hektare pohon sawit sumber minyak nabati.
Negeri Riau adalah pecahan dari Provinsi Sumatera Tengah yang didalamnya ada Jambi dan Sumbar. Sejak melepaskan diri pada tahun 1957 Provinsi Riau pelan tapi pasti berdiri diatas kaki sendiri. Di zaman otonomi daerah Riau akhirnya gagah perkasa.
Warisan yang diperoleh dari Sumatera tengah bagi Riau adalah peta provinsi yaitu TGHK tahun 1986. Parahnya meski Riau tata letak pemukiman, perkebunan serta pemerintahan sudah berubah tetapi peta TGHK tidak juga bergeming. Akibatnya, RTRW Provinsi Riau hingga saat ini belum kelar.
Riau masih dianggap hutan belantara. Padahal sudah gamblang, kalau melihat dari lahirnya provinsi dan kabupaten baru, sudah cukup menjelaskan perubahan peta dan skala luasan pemukiman dan kehutanan.
Berlarut-larutnya RTRWP Riau ditengarai ada tangan kuat di belakang layar. Mereka raksasa jahat yang berkepentingan demi keserakahan pada usaha perkebunan yang menyeleweng. Meski dibelenggu RTRWP.
Seiring dengan era otonomi daerah nama Riau semakin harum mewangi. Tatkala gubernurnya dijabat oleh Rusli Zainal (RZ), Riau membangun infrastruktur secara besar- besaran. Pada masa RZ boleh dibilang itu masa kejayaan dan keemasan Provinsi Riau.
Di tangan RZ Juga, Provinsi Riau dijadikan sebagai tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON), stadion terbangun megah dan indah. Di masa RZ sepanjang Sungai Siak terbangun sedikitnya 4 jembatan nan molek.
Saat itu juga Kota Pekanbaru memiliki dua ruas jalan fly over. Banyak gedung pemerintahan menjulang ke langit, Kantor Gubernur, Gedung Perpustakaan, Kantor PU serta Gedung Bank Riau Kepri.
Di bawah komando RZ , ibarat olahraga cabang atletik, ketika itu Riau melesat jauh meninggalkan kawan dan lawannya. Segala sektor bergerak dengan kegairahan.
Sayang sekali masa keemasan di Riau tidak bertahan lama. Paruh pertengahan kedua menjabat sebagai Gubernur atau sekitar 7,5 tahun RZ mendapat ujian dalam menapaki karier politik. Memasuki Tahun 2007 seperti kebanyakan kepala daerah di Indonesia, RZ tersangkut perkara hukum.
Kala itu di sisa jabatannya yang tinggal 2 tahun meski sudah dinyatakan tersangka RZ tetap tegar dan percaya diri untuk menuntaskan pengabdianya demi masyarakat Riau. Tidak seperti pejabat lainnya, RZ berani bertanggung jawab secara ksatria dalam menghadapi perkara hukum.
Sebuah watak ksatria yang tidak semua pejabat masa kini bisa tegar ketika kesandung masalah. Ramai pejabat berhadapan dengan hukum lalu suka meyalahkan dan membawa- bawa pihak lain - "menyanyi " kemana-mana. Saat senang mereka gengam sendiri, tiba datang masalah menimpakan pada orang lain.
Tidak ada manusia yang sempurna. Setiap manusia ada kekurangan dan kelebihan. Tidak ada manusia yang luput dari kesalahan. Tapi, kapan lagi manusia akan bertaubat. Kini saatnya masing- masing jiwa jujur dan sadar - berani berbuat berani tanggung jawab.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pekanbaru/foto/bank/originals/bagus-santoso_20161104_170745.jpg)