Perjuangan Berat Arif Untuk Tetap Bersekolah
Meskipun hidup dalam ketidakmampuan tidak membuat Arif lemah dan menyerah, Ia berjuang untuk mendapatkan pendidikan demi masa depan
Penulis: Nasuha Nasution | Editor: Sesri
Laporan Wartawan Tribun Pekanbaru, Nasuha Nasution
TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Hidup sebagai anak kurang mampu bukanlah keinginan Husnil Ibnu Arif (18), namun sudah jadi garis tangan dalam hidup remaja yang saat ini bekerja sebagai pelayan di sebuah warung makan di Pekanbaru.
Meskipun hidup dalam ketidakmampuan tidak membuat Arif lemah dan menyerah, Ia berjuang untuk mendapatkan pendidikan yang dianggapnya sangat berguna bagi masa depannya dan keluarganya kelak.
Arif nama panggilan sehari-harinya merupakan perantau dari Lintau Sumatra Barat, Ia merantau ke Pekanbaru empat tahun lalu tepatnya 2013 lalu, karena tidak bisa melanjutkan pendidikan di kampung halamannya.
Arif terlahir dalam kondisi yang menyedihkan, saat masih dalam kandungan ibunya, Arif sudah ditinggal sang ayah yang tak pernah tahu keberadaanya dimana sampai saat ini.
Sedangkan sang ibu yang ditinggal sang ayah saat itu juga dalam kondisi sakit. Sang ibu mengalami sakit sebelah badannya mengalami kelumpuhan.
Terlahir sebagai yatim dan ibu dalam kondisi lumpuh, Arif pun tumbuh besar dengan perawatan sang neneknya di Kampung.
Sempat mengenyam pendidikan sekolah dasar dan SMP yang kebetulan dibebaskan biaya karena Arif tidak mampu di kampungnya. Namun setelah tamat SMP Arif tidak bisa melanjutkan pendidikan lagi karena tidak memiliki uang.
Padahal saat itu keinginan Arif untuk bersekolah sangat tinggi saat dirinya tamat SMP tahun 2013 silam. Bahkan sering menangis sendiri menyesali nasibnya yang tidak bisa bersekolah seperti temannya yang lain.
Tidak mau berlarut dalam kesedihan, setelah tamat SMP tersebut, Arif mencoba keberuntungan ke Pekanbaru, kebetulan ada teman sekampungnya tinggal di Pekanbaru.
"Tujuannya mau sekolah tidak ada yang lain, ikutlah sama orang sekampung ke Pekanbaru,"terang Arif.
Sesampainya di Pekanbaru, Arif diajak untuk bekerja ditempat pemtongan ayam bersama orang yang mengajaknya merantau tersebut. Ia bekerja dengan serius demi tujuan utamaya bisa bersekolah.
"Setahun kerja potong ayam, sekolah nggak bisa juga tercapai, saya makin pusing, apalagi melihat orang sekolah,"ujar Arif.
Untuk mencari pengalaman baru dan buka wawasan Arif pun pindah kerja diusianya masih muda itu. selain berusaha untuk bisa bersekolah, Arif bekerja juga untuk menafkahi sang ibu yang tinggal dikampungnya.
"Akhirnya ada teman yang ngajak untuk kerja di tempat jual minum, saya pun pindah kerja,"ujar Arif.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pekanbaru/foto/bank/originals/husnil-ibnu-arif_20170502_103616.jpg)