Selasa, 14 April 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Penambangan Pasir di Rupat dan Dampaknya Terhadap Pengembangan Pariwisata Bahari

Jangan sampai justru semangat berwisata ke Riau tercemar dengan mendegradasi tempat wisata yang sudah tersaji dengan indah

Editor: harismanto
Foto/Istimewa
Husnul Kausarian PhD, Ketua Interdiscipline & Integrated Research Center Universitas Islam Riau 

Oleh: Husnul Kausarian, PhD
Ketua Interdiscipline & Integrated Research Center Universitas Islam Riau

TAHUN 2013, saya mengetuai peneliti geologi yang mengkaji potensi mineral pasir yang terdapat di Pulau Rupat, tepatnya di Rupat bagian utara yang masuk daerah Kecamatan Rupat Utara, Kabupaten Bengkalis.

Setelah mengelilingi satu Pulau Rupat dengan menyewa speed boat rakyat, endapan pasir hanya bisa ditemui di bagian utara dari Pulau Rupat, sementara bagian selatan dari pulau ini yang secara geografisnya terletak tepat berhadapan dengan Kota Dumai, hanya ditemui endapan sedimen jenis lumpur saja.

Uniknya di bagian utara pulau ini, endapan yang mengelilingi pulau ini justru bertolak belakang dari bagian selatan, disini terendap pasir-pasir yang secara karakter sangat berbeda dengan endapan lumpur yang ada di bagian selatan Pulau Rupat.

Kini, setelah empat tahun penelitian tersebut selesai dilakukan, muncul polemik terhadap daerah Rupat Utara, yaitu terbitnya Izin Penambangan di daerah tersebut.

Izin ini menurut saya cukup terburu-buru dikeluarkan, mengingat saat itu kajian tentang pasir tersebut baru sampai ke tahap studi kelayakan dan belum sampai ke tahap DED (Detail Engineering Design).

Artinya, perlu kajian mendalam terlebih dahulu jika memang kawasan ini ingin dijadikan sebagai kawasan penambangan.

Kondisi Geologi dan Pembentukan Pasir di Pulau Rupat
Penelitian geologi yang telah saya dan tim lakukan di Pulau ini menunjukkan bahwa pasir yang terendap di bagian utara Pulau Rupat bukan merupakan produk insitu atau produk asli dari tanah/batuan pulau ini.

Pasir ini datang akibat dari proses transportasi bahan sedimen yang terjadi karena adanya Selat Melaka yang berfungsi sebagai “alat pengangkut” dari pasir-pasir tersebut.

Selat Melaka yang notabene adalah lautan memiliki peranan paling penting, karena selat ini lah yang membawa pasir-pasir tersebut yang datangnya dari Kepulauan Riau dan Laut Cina Selatan dan Samudra Hindia dan Laut Andaman.

Hal lain yang menunjukkan bahwa Pulau Rupat bukan merupakan penghasil pasir adalah, Pulau Rupat terdiri dari aluvium yang terdiri dari gambut, tanah liat dan tanah peralihan antara tanah liat dan gambut, secara geologis kondisi tanah seperti ini tidak bisa menghasilkan pasir, karena ukuran partikel/butiran tanah aluvium tersebut lebih kecil dari ukuran butiran/partikel pasir.

Itulah sebabnya kenapa di Pulau ini, daerah yang memiliki endapan pasir hanya didaerah utara saja, sementara daerah bagian selatan yang dijumpai cuma endapan lumpur saja. Karena bagian selatan Pulau Rupat, intervensi Selat Melaka sudah melemah, dan peranan arus laut disini dipegang oleh laut Dumai dan Selat Rupat saja.

Fenomena pasir di Rupat Utara
Dengan proses alam yang terjadi di Pulau Rupat, menjadikan pulau ini sebagai daerah yang memiliki perbedaan signifikan antara bagian selatan dan utara nya. Di bagian utara, sepanjang garis pantai terdapat endapan pasir yang membentang luas hingga ke laut nya.

Di sepanjang kawasan utara pulau ini, pasir-pasir hasil angkutan dari Selat Melaka ini bahkan membentuk beting-beting pasir yang unik dan cantik. Sebagai contohnya adalah daerah Beting Aceh yang fenomenal tersebut. Beting Aceh adalah pulau kecil yang terbentuk akibat endapan pasir yang terkumpul secara terus menerus, daerah ini murni seratus persen merupakan endapan pasir.

Pemandangan unik ini memberikan keindahan tersendiri, kini Pulau Rupat menjadi destinasi wisata menarik yang selalu menjadi tujuan ramai wisatawan yang ingin menikmati pulau ini.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved