Kamis, 16 April 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Eksklusif

Begini Kisah para Korban Penipuan Jual Beli Online, Bikin Sakit Hati

Hingga tenggat waktu yang dijanjikan, barang yang ia pesan yakni sebuah jam tangan merek Rolex seharga Rp 1,5 juta tidak kunjung datang.

Editor: harismanto
Tribun Pekanbaru/Grafis/Didik
Penipuan jual beli online melalui media sosial 

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Banyak korban jual beli secara online yang enggan melapor ke polisi karena tak mau ribet. Pertama, korban biasanya tidak memiliki bukti kongkret. Selain itu, perlu proses berliku dan waktu panjang untuk mengusut kasus penipuan di dunia maya ini.

Seperti dialami Melvi (40), warga Jalan Akasia, Kelurahan Rejosari, Pekanbaru. Ia kesal bukan kepalang. Keinginannya memiliki lemari pakaian jati kandas.

Kejadiannya bulan Juli lalu. Saat itu ia memesan lemari jati melalui akun jual beli online di media sosial Facebook. Namun setelah uang ditransfer sebesar Rp 2,7 juta, lemari yang ia pesan tidak kunjung datang.

“Awalnya dijanjikan dalam dua minggu. Tapi setelah sebulan tak ada kabar beritanya,” kata Melvi kepada Tribun, Senin (7/8/2017).

Baca: Ini Penyebab Dua Mahasiswa Universitas Al Azhar Kairo Asal Indonesia Ditangkap Keamanan Mesir

Ia mengaku tergiur karena penawarannya cukup meyakinkan. Setelah saling berkomunikasi melalui chat di Facebook, ia pun mentransfer uang sesuai harga plus biaya pengiriman.

"Setelah dua minggu, (barang tak datang) sesuai janji. Saya coba kontak tapi tidak bisa lagi. Akun saya diblok, jadi nggak bisa akses ke akun jual beli di Facebook itu," tuturnya.

Melvi mulai khawatir. Ia pun menelusuri keberadaan akun Facebook tersebut dan ternyata sudah banyak yang mengaku menjadi korban. Anehnya, akun tersebut tetap eksis dan terus menawarkan produk baru, seakan tak takut dan berdosa telah menipu banyak orang.

“Komentar-komentar negatif di dinding akun langsung mereka hapus. Menyisakan komentar-komentar positif yang saya yakini hanya akal-akalan penipu itu,” kata dia.

Melvi kini hanya bisa pasrah. Ia memilih tak melaporkannya ke polisi. Sebab ia yakin alamat di akun Facebook tempat ia memesan lemari itu palsu. “Pasrah sajalah, ini jadi pengalaman saja,” katanya.

Baca: Apa itu Eta Terangkanlah? Ternyata Ini Awal Mula Fenomena yang Viral Itu

Kasus serupa dialami oleh Sulistia Safitri, siswa salah satu sekolah menengah negeri di Pekanbaru. Tas yang dipesannya tak kunjung diterima meski uang telah ditransfer.

"Saya berdua sama kawan. Sama-sama kami pesan tas. Tapi sampai sekarang nggak ada kami terima tasnya. Padahal uangnya sudah kami transfer," ujarnya.

Kejadiannya sekitar awal Juni 2017 lalu. Saat itu libur sekolah, ia bersama teman satu sekolahnya sedang berkumpul bersama sambil melihat-lihat tas yang dijual melalui media sosial.

Karena malihat ada tas yang modelnya menarik dengan harga terjangkau, mereka pun tertarik membelinya, setelah berkomunikasi dengan penjual melalui chat di Facebook.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved