Di SMPN Ini Siswa Terpaksa Salat Zuhur di Kantor Guru dan di Teras Lokal

Tidak hanya itu, SMPN 3 ini juga menjalankan program MDTA bagi siswa beragama Islam sepulang jam

Di SMPN Ini Siswa Terpaksa Salat Zuhur di Kantor Guru dan di Teras Lokal
Tribun Pekanbaru/ Mayonal
Guru IPA SMPN 3 satu atap Tualang, Kabupaten Siak, Komaria, S.Pd menjawab pertanyaan awak media, Senin (18/9/3017) di ruangan majlis guru sekolah itu 

Laporan wartawan Tribun Pekanbaru, Mayonal Putra

TRIBUNPEKANBARU.COM, SIAK - Semangat guru dan siswa di SMPN 3 Satu Atap Kecamatan Tualang, Kabupaten Siak, Riau ini sangat tinggi. Meskipun gedung sekolah jauh dari tempat tinggal, namun mereka tidak terlambat tiba di sekolah setiap pagi.

Semangat yang menggelora ini belum didukung oleh sarana prasarana memadai. Gedung yang tersedia hanya 2 gugusan. Satu untuk ruangan belajar satu lagi untuk kantor kepala sekolah, majlis guru dan perpustakaan.

Ruangan belajar dan kantor itu cukup bagus. Namun belum cukup representatif untuk sebuah sekolah. Perpustakaan masih berada di ruangan majlis guru, yang disekat dengan ruangan tamu, serta ruangan kepala sekolah.

Tidak hanya itu, SMPN 3 ini juga menjalankan program MDTA bagi siswa beragama Islam sepulang jam pelajaran reguler. Salat zuhur berjemaah digelar di sekolah. Namun, tak ada ruangan khusus atau musala.

"Anak-anak salat zuhur di sini", kata guru mata pelaharan IPA, Komaria, sambil menunjuk ruangan di kantor majlis guru kepada Tribun, Senin (18/9/2017).

Ruangan yang ditunjuknya itu memang terlihat sempit. Lalu ia mengatakan, sebagiannya siswa membersihkan teras lokal sebelum waktu salat tiba.

"Siswa salat di sana, begitu setiap hari", kata perempuan berhijab itu dengan ramah.

Ia menerangkan, SMPN 3 satu atap Tualang mempunyai pekarangan yang sama dengan SDN 18 Maredan. Karena itu, sekolah itu disebut satu atap.

Sekolah itu terus berkembang. Kini siswa-siswinya sebanyak 112 orang. Kelas VII -IX masing-masing 1 kelas, diisi oleh 44 orang siswa dan kelas VII 38 siswa.

Sementara guru yang mengajar di sana sebanyak 7 orang, 4 orang PNS dan 3 orang honor. Sedangkan guru mata pelajaran IPS, Penjaskes dan Seni Budaya didatangkan dari sekolah lain.

"Siswa di sini rata-rata dari keluarga pekerja perusahaan di daerah Maredan. Mereka di antara bus perusahaan ke sekolah ini, sebagiannya di antar oleh orang tua masing-masing. Kami di sini cukup kompak", kata Komaria. (*)

Penulis: Mayonal Putra
Editor:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved