Pilpres 2019
Tolak Jadi Cawapres, Ustaz Abdul Somad Ceritakan Kisah Sayyidina Umar bin Khattab
"Berharap kepada harta akan binasa, berharap kepada makhluk akan kecewa," kata Ustaz Abdul Somad, soal dukungan jadi cawapres
Penulis: harismanto | Editor: harismanto
TRIBUNPEKANBARU.COM - Soal banyaknya dukungan untuk maju sebagai calon wakil presiden (Cawapres), Ustaz Abdul Somad (UAS) meminta masyarakat tidak terlalu berharap, karena puncak kekecewaan adalah harapan.
"Oleh karena itu, kita jangan terlalu banyak berharap, karena semakin tinggi pengharapan maka semakin tinggi kekecewaan. Jadi kalau orang terlalu berharap kepada saya, ia akan kecewa dan berakhir dengan marah. Maka harapan tertinggi adalah harapan kepada Allah SWT. Berharap kepada harta akan binasa, berharap kepada makhluk akan kecewa," jelasnya, saat diwawancara Tim TV One dalam Program Fakta, Senin (6/8/2018).
Baca: Penjelasan Ustaz Abdul Somad yang Menolak Jadi Cawapres. UAS: Saya Lebih Tepat Jadi Dai dan Pendidik
Baca: Diusung Jadi Cawapres Pada Pilpres 2019, Ustaz Abdul Somad dengan Tegas Beri Jawaban Ini
Baca: Al Azhar : Kita Hormati Pilihan Ustaz Abdul Somad di Jalan Dakwah
Menurut Ustaz Abdul Somad, barangsiapa yang berharap kepada Allah SWT, harus mengikuti aturan yang dibuat Allah SWT.
"Harapan tentang apa, harapan tentang cinta, harapan tentang hidup, harapan tentang memilih pemimpin, ikuti aturan yang sudah dibuat Allah SWT," katanya.
Begitu tahu tahu hasil ijtimak ulama, katanya, ia langsung mengomentarinya agar tak menjadi isu.
"Yang pertama saya sebagai Hamba Allah, merespon hasil ijtimak ini dengan mengucapkan terimakasih kepada semua ulama, sahabat, dai, santri yang sudah begitu peduli, dengan ucapan semoga Allah memberikan balasan. Karena dalam Islam diajarkan, siapa yang sudah berbuat baik kepada kamu, kalau kamu tidak sanggup membalas maka doakan," katanya.
Yang kedua, katanya, bahwa dia, Abdul Somad mengerti betul tentang dirinya.
"Maka saya memberikan respon, penghargaan, menghormati guru kita, sahabat kita, Alhabib DR Salim Segaf Al Jufri. Beliau S1, S2, S3 di Madinah. Pernah menjadi menteri. Pernah menjadi dubes. Ilmunya, semuanya, kematangan emosionalnya, ya guru kita semua. Mengajar politik, langsung berkecimpung di dunia politik di berbagai ordenya. Jadi saya kira, itulah (dukungan, Red) saya berikan kepada guru tersebut," ungkap Ustaz Abdul Somad.
Lalu kemudian tentang masalah dukung mendukung, support mensupport ke depan sampai hari ini, katanya, bisa dicek ceramah dia satu-persatu.
"Saya tidak pernah menyebut nama, tidak pernah menyebut partai, tidak pernah menyebut nomor, tidak pernah menyebut warna. Kita hanya bercerita tentang umum. Pilihlah pemimpin yang peduli pada Islam. Pilih pemimpin yang sayang kepada ulama. Pilih pemimpin yang amanah. Pilih pemimpin yang adil. Itu saja. Tidak pernah menyebut secara spesifik, partai, golongan, kelompok. Bahwa ada yang mengindikasikan lalu menarik ceramah kita itu ke arah tertentu, itu kesimpulan masing-masing," jelas Ustaz Abdul Somad.
Lebih lanjut ia menjelaskan, ijtimak artinya pertemuan, perkumpulan, konsesus, kesepakatan. Ulama berkumpul dari berbagai macam ormas, aliran, kelompok, lalu kemudian berkumpul di suatu tempat, membahas suatu masalah lalu melahirkan rekomendasi.
"Bahwa untuk pertemuan kali ini, kami menyetujui calon presiden itu A, sedangkan wakil yang mendampingi itu A dan B. Ini semacam saran, kira-kira apa kata umat. Dan umat akan merespon. Ini yang terjadi sekarang. Oleh karena itu, maka saran dari para alim ulama ini, terserah kembali kepada pribadi yang diberikan rekomendasi itu. Apakah dia menerima atau tidak. Dan tentu semua orang punya hak untuk menerima atau tidak," kata Ustaz Abdul Somad.
Dalam Islam, katanya, tidak ada keterpaksaan. Ia menceritakan kisah setelah Rasulullah SAW meninggal dunia. Lalu para sahabat berkumpul.
"Sayyidina Umar bin Khattab engkaulah yang layak menjadi kalifah pengganti dalam urusan kepemimpinan Rasulullah SAW." Kata Umar, ada yang lebih berhak. Saat ditanya siapa, kata dia "Abu Bakar." Karena ketika Nabi Muhammad SAW sedang sakit, yang disuruh menjadi imam adalah Abu Bakar Siddik," kata Ustaz Abdul Somad.
Padahal, waktu itu usia Abu Bakar Siddik sudah 61 tahun.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pekanbaru/foto/bank/originals/ustadz-abdul-somad-tausiyah-dukung-imunisasi_20180316_160608.jpg)