Investasikan Rp 11 Triliun, APR Incar Pasar Viscose Rayon Dunia
Kehadiran Asia Pasific Rayon (APR) di bisnis viscose-rayon yang selama 20 tahun terakhir dikuasai 2 produsen,memperkuat industri tekstil di negeri ini
Penulis: Nurul Qomariah | Editor: Nurul Qomariah
TRIBUNPEKANBARU.COM, JAKARTA - Kehadiran Asia Pasific Rayon (APR) di bisnis viscose-rayon yang selama 20 tahun terakhir dikuasai 2 produsen, makin memperkuat industri tekstil di negeri ini.
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menilai hadirnya APR memberikan dampak yang sangat positif dalam mengurangi ketergantungan impor bahan baku mentah, sekaligus memperkaya industri tekstil Indonesia.
Apalagi tekstil menjadi salah satu andalan pemerintah mencapai Making Indonesia 4.0.
" Pemerintah mengapresiasi APR. Dengan investasi Rp 11 triliun, 1.200 tenaga kerja ditambah 7.000 pekerja yang terintegrasi, ini sangat ideal. Tiga hal investasi, ekspor,dan tenaga kerja, tak ada lagi rumus yang lebih bagus bagi pemerintah," urai Menteri Airlangga pada Gala Dinner Revitalizing Indonesia Textile Industry , Plantation to Fashion, Jumat malam (28/3) di Grand Mercure Hotel Kemayoran, Jakarta.
Menteri Perindustrian bahkan memprediksi, produk ini bakal menjadi primadona baru.
"Wood fibre is a new plastic. Ini adalah industri yang seluruh bahan merupakan komponen lokal, struktur industrinya dalam dan terintegrasi serta menghasilkan devisa," paparnya.
Airlangga juga memuji viscose-rayon sebagai high value added garment. Apalagi dengan adanya perjanjian kerjasama Pemerintah Indonesia dengan sejumlah negara diantaranya Australia dan Amerika bakal membuka pangsa pasar baru di sektor tekstil.
Sebelumnya, Direktur APR Basrie Kamba mengatakan, APR berinvestasi Rp 11 triliun dengan pabrik terintegrasi yang berlokasi di Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau.
Per tahunnya, perusahaan memproduksi 240 ribu ton viscose-rayon. Dari jumlah itu, lebih dari 50 persen untuk kebutuhan ekspor dengan mengincar sejumlah negara seperti Turki, Bangladesh, India, dan Vietnam.
"Kenapa viscose? Karena kita punya pasar, kebutuhan viscose meningkat tiap tahun, kita punya desainer-desainer muda yang bertalenta dan tentu saja sumber daya alam yang besar," paparnya.
Dijelaskan Basrie, kebutuhan viscose global saat ini 5,6- 5,8 juta ton per tahun, jumlah ini sekitar 3 persen dari kebutuhan tekstil dunia.
" Di tahun 2020 mendatang, kebutuhan viscose diprediksi naik menjadi 8 juta ton, dan ini peluang bagi kita," paparnya.
Diakuinya, viscose-rayon memang masih belum sepopuler kain dari kapas atau polyester.
Pihaknya berupaya mempopulerkan produk ini dengan menggandeng semua pihak.
Mulai dari pelaku industri tekstil seperti pabrik kain, pabrik benang, pemilik brand pakaian ternama dalam dan luar negeri, sekolah mode serta berkolaborasi dengan desainer.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pekanbaru/foto/bank/originals/menperin-airlangga-hartarto.jpg)