Breaking News:

Potong Narasinya Soal Garis Keras, Prof Mahfud MD Peringatkan Pembawa Acara TV One

Prof Mahfud MD memberikan peringatan pada pembawa acara TV One yang coba memotong pernyataannya.

Tribunpekanbaru/instagram/mohmahfudmd
Mahfud MD 

Potong Narasinya Soal Garis Keras, Prof Mahfud MD Peringatkan Pembawa Acara TV One

TRIBUNPEKANBARU.COM - Prof  Mahfud MD memberikan peringatan pada pembawa acara TV One yang coba memotong pernyataannya.

Hal ini dikemukakan  Mahfud MD saat menjadi narasumber di acara Kabar Petang, Senin (29/4/2019).

Diketahui, melalui wawancara itu Mahfud sedang berada di Jogja dan dilakukan secara sambungan telepon.

Ia ditanya seputar pernyataannya di Metro TV yang mengatakan soal provinsi "Garis Keras".

"Dengan pernyataan prof di salah satu stasiun televisi swasta waktu itu ada yang mengatakan prof ingin memberikan labelisasi terhadap pihak tertentu yang arah politiknya yang kecendurangn politiknya bertolak belakang dengan petahana," tanya pembawa acara ke Mahfud MD.

Mahfud MD lalu menjawab awal mula dirinya menyatakan hal tersebut.

 

"Begini ya, wawancara itu kalau agak maju sedikit dari potongan tadi, maju lima detik saja di situ ada pertanyaan pak bagaimana sekarang kalau kita melakukan rekonsiliasi? Maka saya jawab ini tujuannya rekonsiliasi," jawab Mahfud.

"Sekarang rekonsiliasi kan belum ada hasil pemilunya, tapi kita berpedoman sementara pada hasil situng, pada hasil quick count."

Baca: Rumah Makan Ampera Takana Juo di Jalan Anggrek Pekanbaru Ludes Terbakar

Baca: VIDEO Jadwal Lengkap Semifinal Liga Champions 2018-2019 Barcelona vs Liverpool Main Hari Kamis (2/5)

Baca: Jumlah Petugas Pemilu 2019 yang Meninggal Dunia di Riau Bertambah Lagi! 80 Orang Lagi Dirawat

"Kalau berdasarkan hasil quick count saya sendiri meyakini sudah selesai. Artinya kemenangan itu sudah selesai secara quick count meskipun secara hukum belum resmi dan itu sulit dibalik."

Atas dasar itulah, Mahfud mengatakan soal kemenangan capres nomor urut 01 Joko Widodo (Jokowi).

Namun, kemenangan itu tidak untuk provinsi yang dikenal agamis.

Berbeda dengan capres nomor urut 02 Prabowo Subianto yang menguasai daerah agamis.

"Berdasarkan itu saya mengatakan Pak Jokowi menang tapi supaya diingat harus rekonsiliasi, kenapa? Karena sebaran kemenangan Pak Jokowi itu ternyata di tempat-tempat yang kita kenal tidak terlalu panas secara agamis, maka saya katakan bahwa Pak Prabowo itu menang di tempat-tempat yang dulunya, dulunya itu menjadi daerah panas untuk keagamaan."

"Daerah yang garis keras dalam agama, oleh sebab itu mereka harus dirangkul. Dirangkul dalam rangka apa? Bersatu. Agar tidak menjadi pembelahan agama, apa salahnya ini? Enggak ada salahnya."

Halaman
1234
Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved