Artikel
Hari Anak Nasional 2019: Mengubah Dampak Negatif Gadget Menjadi Cinta Baca Pada Anak-Anak
Fenomena yang terjadi saat ini, bayi yang baru lahirpun sudah mulai diperkenalkan gadget oleh orang tuanya untuk menghadirkan film kartun.
Hari Anak Nasional 2019: Mengubah Dampak Negatif Gadget Menjadi Cinta Baca Pada Anak-Anak
(Refleksi Hari Anak Nasional)
Oleh
Eva Juli Silaban.
(Penulis adalah pemerhati anak, Pendiri Komunitas Kopi Pena)
Kapan terakhir kalinya kita membiarkan anak bermain Gadget berlama-lama agar tenang sehingga tidak mengganggu aktifitas kita sebagai orangtua?
Mengingat, lahirnya generasi Z saat ini, memang tidak bisa menampik adanya perubahan dalam hidup.
Apalagi perubahan teknologi yang semakin canggih dan masif.
Fenomena yang terjadi saat ini, bayi yang baru lahirpun sudah mulai diperkenalkan gadget oleh orangtuanya untuk menghadirkan film kartun. Padahal, tanpa disadari, kebiasaan tersebut bisa merusak mental anak.
Bahaya gadget yang jarang disadari adalah seperti terganggunya otak anak yang masih dalam proses berkembang.
Jurnal The Asianparent.com menjelaskan stimulasi berlebih dari gadget pada otak anak yang sedang berkembang, dapat menyebabkan keterlambatan kognitif, gangguan dalam proses belajar, tantrum, meningkatkan sifat impulsif, serta menurunnya kemampuan anak untuk mandiri.
Sebanyak 9% anak berusia 11-13 tahun yang setidaknya menghabiskan satu jam dalam sehari di depan layar gadget, akan kehilangan rasa ingin tahunya akan hal-hal baru di lingkungannya. Angka ini bahkan naik menjadi 22.6% khusus untuk mereka yang menghabiskan waktunya di depan layar lebih dari 7 jam dalam sehari. Dampak negatif penggunaan gadget juga dimulai dari contoh yang tidak baik oleh orang dewasa kepada anak-anak.
Satu diantara tren kekinian ialah eksistensi keluarga saat mengunjungi suatu restoran. Pemandangan orangtua dan anak dengan gadget masing-masing tanpa saling berbicara satu sama lain. Orangtua akan membiarkan anak-anak bermain game lalu orangtua melakukan update status di sosial media dengan menu makanan yang dipesannya. Ironi bukan?
Selain berkurangnya quality time keluarga, pengaruh gadget ini turut mengurangi minat baca anak. Kemunduran minat baca ini ditimbulkan karena orangtua terlalu terkesan membiarkan anak-anak berlama-lama menggunakan gadget. Pengaruh negatif penggunaan gadget terhadap menurunnya minat baca anak ini memang sangat kuat.
Menyadur studi yang dilakukan Central Connecticut State University pada tahun 2016 mengenai 'Most Literate Nations in The World" menyebutkan Indonesia menempati urutan ke-60 dari total 61 negara, atau dengan kata lain minat baca masyarakat Indonesia disebut-sebut hanya sebesar 0,01 persen atau satu berbanding sepuluh ribu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pekanbaru/foto/bank/originals/eva-silaban-penulis-dan-pemerhati-anak-pendiri-komunitas-kopi-pena.jpg)