PT Foster Hengkang dari Batam ke Myanmar, PHK 1.166 Karyawan Berjalan Lancar

Perusahaan elektronik yang sudah beroperasi sejak 1991 dan punya ribuan karyawan, memutuskan hengkang dari Batam.

PT Foster Hengkang dari Batam ke Myanmar, PHK 1.166 Karyawan Berjalan Lancar
internet
PT Foster Electronic Indonesia di Batamindo Mukakuning tutup. Perusahaan dikabarkan memindahkan pabrik ke Myanmar dan mem-PHK 1.166 karyawannya. 

tribunpekanbaru.com - PT Foster Electronic Indonesia menghentikan operasinya di Batam di kawasan Batamindo Mukakuning, setelah 28 tahun beroperasi. Perusahaaan ini dikabarkan pindah ke Myanmar.

Kepala Dinas Tenaga Kerja Batam, Rudi Sakyakirti membenarkan hal itu. Menurutnya, PT Foster Electronic Indonesia telah menyelesaikan kewajiban kepada para pekerja yang jumlahnya ribuan orang.

Sejak beberapa bulan lalu, perusahaan yang memproduksi pengeras suara ini sudah berhenti beroperasi. "Pekerjanya kebanyakan kontrak. Tapi sudah selesai (pembayaran pesangon) semua. Tak ada masalah," kata Rudi dikutip Tribun Batam kemarin.

Dia mengaku tak tahu apakah perusahaan pindah ke tempat lain di luar Batam. Perusahaan hanya menginformasikan penghentian operasional, dan sudah melaporkan kondisi perusahaannya sejak tahun lalu.

Manager Admin dan General Affair Batamindo, Tjaw Hioeng, mengatakan PT Foster tidak tutup. Hingga saat ini perusahaan tetap menyerahkan Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM) secara online ke Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

Menurutnya, perusahaan sudah mengonfirmasi akan memindahkan pabrik di Batam ke SEZ Thilawa di Myanmar. "Mereka stop operasi sejak Januari 2019. Saat ini karyawan tinggal 7 orang untuk administrasi saja," kata Tjaw Hioeng yang biasa disapa Ayung itu.

PT Foster Electronic Indonesia beroperasi sejak Maret 1991 di Batam. Jumlah karyawannya hingga 2018 tercatat 1.166 orang.

Ayung menyebut, pindahnya PT Foster disebabkan faktor kenyamanan berinvestasi, termasuk pertimbangan investasi di negara pilihannya. Bagi PMA (Penanaman Modal Asing), jika sudah tidak nyaman pilihannya adalah relokasi ke tempat aman dan nyaman.

Ketua Koordinator Wilayah Himpunan Kawasan Industri (HKI) Kepri, OK Simatupang mengatakan, ini harusnya jadi pelajaran berharga bagi pusat dan daerah. Menurutnya daya saing Batam jalan di tempat.

HKI sudah kerap mengingatkan, saingan Batam adalah negara-negara Asean seperti Vietnam, Malaysia, Thailand. Dan kini muncul negara yang sangat pro investasi seperti Myanmar, Laos, Kamboja, dan Filipina.

Salah satu hambatan adalah tidak sinkronnya aturan seperti impor bahan baku dan bahan penolong industri. "Banyak aturan dibuat tidak clear oleh pusat. Bagaimana mau tingkatkan ekspor kalau bahan baku yang diimpor harus izin ke Kemendag melalui Persetujuan Impor dan Laporan Survei," ujarnya.

Belum lagi invisible hand authority (kewenangan tak terlihat) yang suka mengganggu investasi di Batam.

Persoalan itu belum selesai, kini terbit pula Permendag No 47 tahun 2019 yang tidak memasukkan Batam sebagai pelabuhan tujuan impor bahan B2. "Industri mau impor harus lewat Dumai, Belawan, Tanjung Priok, Tanjung Emas, Tanjung Perak, atau Soekarno Hatta. Logika berpikirnya di mana?" kata OK Simatupang.

Padahal menurutnya, Batam merupakan kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas. "Bagaimana Batam mau bersaing," ujarnya. (rin/tribun batam)

Penulis: rinaldi
Editor: rinaldi
Sumber: Tribun Batam
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved