Peduli Jumlah Anak Stunting, BKKBN Riau Anggap Perlu Dicegah Sejak Dini
Kasus stunting (kerdil) pada anak di Provinsi Riau menjadi salah satu masalah yang dapat perhatian dalam rapat telaah BKKBN Perwakilan Riau.
TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Kasus stunting (kerdil) pada anak di Provinsi Riau menjadi salah satu masalah yang dapat perhatian oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Perwakilan Provinsi Riau.
Lembaga ini juga terus berupaya agar jumlah stunting di Riau tak bertambah.
Hal itu disampaikan Kepala BKKBN Provinsi Riau, Agus P Proklamasi dalam Rapat Telaah Program Kependudukan, Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga (KKBPK), Kamis (29/8/2019).
Kegiatan ini dihadiri oleh sejumlah instansi terkait, termasuk Pemerintah Provinsi Riau.
Dijelaskan Agus, di tahun 2018, ada 10 desa stunting di Rokan Hulu (Rohul).
Tahun 2019 ini, jumlahnya meningkat menjadi dua kabupaten.
Selain Rohul, ada dua desa stunting lagi di Kabupaten Kampar.
Melihat kondisi itu, BKKBN menegaskan hanya bisa membantu agar angka stunting tidak bertambah.
Karena, pencegahan stunting itu mesti dilakukan oleh sejumlah stakeholder.
Baca: Petarung Riau Raih 4 Medali pada Kejuaraan Nasionas IBA MMA di Jakarta
Baca: Pemprov Kantongi Izin KASN, Assessment Calon Sekdaprov Segera Dibuka
Untuk BKKBN, pihaknya berupaya intens menjalankan program 1.000 hari kehidupan lewat bina keluarga balita dan sebagainya.
Program 1.000 hari kehidupan itu dianggap sangat penting dalam mencegah stunting.
Karena, kondisi ibu hamil sudah terpantau sejak dini.
Artinya, sejak dalam kandungan, janin dipastikan mendapat asupan gizi yang baik.
Selain stunting, BKKBN juga terus gencar menyelenggarakan program KB di masyarakat.
Hanya saja, Agus mengakui pihaknya terkendala dengan ketersediaan petugas lapangan yang terbatas.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pekanbaru/foto/bank/originals/rapat-telaah-bkkbn-riau.jpg)