Breaking News:

Kami Hanya Makan Nasi dengan Sebutir Telur Rebus, OTG yang Diisolasi di Meranti Keluhkan Fasilitas

Sudah hampir beberapa hari di sini kami hanya makan nasi dengan sebutir telur yang direbus dan dengan sedikit kuah

Penulis: Teddy Tarigan | Editor: Nurul Qomariah
Kami Hanya Makan Nasi dengan Sebutir Telur Rebus, OTG yang Diisolasi di Meranti Keluhkan Fasilitas
istimewa
Kondisi ruangan isolasi di BLK Kepulauan Meranti, Riau.

TRIBUNPEKANBARU.COM, KEPULAUAN MERANTI - Orang Tanpa Gejala ( OTG) yang menjalani isolasi mengeluhkan fasilitas yang kurang memadai.

Lokasi isolasi berada di Gedung Balai Latihan Kerja (BLK) Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau.

Lokasi itu sebelumnya dijadikan sebagai tempat isolasi bagi warga yang berkaitan dengan penanganan Covid-19.

Warga yang diisolasi mengatakan, fasilitas di BLK tersebut masih kurang layak.

Mulai dari ruangan yang luasnya hanya 3x3 meter dan jarak satu meter yang disebut sebagai jarak aman untuk mencegah penyebaran Virus Corona pun tak berlaku di ruangan ini.

Harga Minyak Mentah Dunia Naik Dongkrak Harga Tandan Buah Segar Kelapa Sawit Riau

Bupati Siak Alfedri Ditodong Thermometer Gun di Pos Cek Poin Kerinci Kanan, Riau

Sekda Kampar Sebut Masih Ada Warga Berupaya Mudik di Perbatasan Sumbar - Riau dengan Berbagai Cara

Seorang pasien ODP dirawat mengatakan saat ini ada sebanyak 15 orang yang menjalani isolasi di tempat tersebut.

Sementara itu fasilitas yang disediakan sangat kurang dan tidak memadai.

"Di sini kami awalnya ada 13 orang yang dirawat dan ada penambahan 2 orang lagi pada hari Minggu lalu.”

“Di sini kami tidak ada sehelai pun selimut tidur, selain itu alas tilam, sarung bantal juga kurang, dan sajadah pun baru ada 2 lembar, sementara itu gayung dan galon air juga kurang," kata dia.

Selain itu perlengkapan untuk kebutuhan pribadi pun mereka harus beli sendiri.

"Selama di sini untuk kebutuhan mandi, seperti sabun dan pasta gigi kami harus beli sendiri, untuk itu kami minta dibantu seperti sabun cair.”

“ Di sini kami juga kekurangan uang, mau mengambil di ATM kami tidak bisa dan tidak diberi keluar. Di sini cuma dibantu kebutuhan makan dan minum saja," ungkapnya.

Saat ini dirinya mengaku hanya bisa pasrah menghadapi kenyataan hidup dan menjalani hari-hari di tempat isolasi.

"Kami tidak tahu lagi harus bagaimana, hal ini sudah kami sampaikan, namun belum ada tanggapan," ujarnya.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved