Sabtu, 2 Mei 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Tribun Ngopi

Wawancara Khusus, Hardianto, SE, Sekretaris DPD Partai Gerindra Riau

DEWAN Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerindra Provinsi Riau menyambut penuh optimistis Pilkada serentak di 9 daerah di Riau pada Desember 2020.

Tayang:
Penulis: Nasuha Nasution | Editor: Ilham Yafiz

TRIBUNPEKANBARU.COM - DEWAN Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerindra Provinsi Riau menyambut penuh optimistis Pilkada serentak di 9 daerah di Riau pada Desember 2020.

Target kemenangan yang diusung bukan main-main, 100 persen.

Baik itu untuk calon yang diusung sebagai kepala daerah maupun wakil kepala daerah.

Hingga awal Agustus ini, rekomendasi DPP Gerindra sudah ditetapkan untuk enam Pilkada di Riau yakni, Pilkada Bengkalis, Siak, Rokan Hulu, Indragiri Hulu, Kepulauan Meranti, dan Pelalawan.

Dalam waktu dekat, DPP Gerindra akan segera mengeluarkan rekomendasi bakal calon kepala daerah untuk Pilkada Kuantan Singingi, Dumai, dan Rokan Hilir.

Sekretaris DPD Partai Gerindra Riau, Hardianto, SE, mengatakan, dalam penetapan calon kepala daerah yang diusung tak dikenal istilah mahar. Namun ia tak menampik butuh biaya tinggi untuk maju di Pilkada.

"Biaya politik wajib hukumnya bagi calon, ketika kami (partai, red) memiliki motor-motor politik untuk di 'push' bergerak memenangkan calon yang didukung tentu dibutuhkan pulsa dan paket data dalam kontek kebutuhan komunikasi, butuh bensin untuk transportasi. Tak ideal dan etis kami menggunakan kas partai, kerjasama seperti inilah yang dibicarakan dengan calon," jelas Hardianto, dalam bincang 'Ngopi' konten video digital Tribun Pekanbaru yang tayang di kanal YouTube Tribun Pekanbaru Official pada Rabu (5/8/2020).

Berikut selengkapnya wawancara khusus Tribun dengan Hardianto terkait persiapan Gerindra menatap Pilkada di 9 daerah di Riau:

Kapolres Meranti Sebut Perlu Pendisiplinan Pedoman Protokol Kesehatan untuk Penanganan Covid-19

Tumbuh di Lahan Gambut, Harumnya Aroma Kopi Liberika Kepulauan Meranti Berpotensi Tingkatkan Ekonomi

Belum Selesai Urusan dengan IDI, Jerinx Kembali Dipolisikan, Kali Ini Diduga Menghina Seorang Warga

Tribun :
Seperti apa persiapan Gerindra menyambut Pilkada 9 daerah di Riau?

Hardianto :
Hampir semua partai yang punya kursi dan pelaku di Pilkada 9 daerah di Riau sudah bersiap. Secara struktural kami telah menyiapkan motor-motor politik partai. Artinya makin mendekati masa pendaftaran, dukungan dari Partai Gerindra sudah 'clear' dari DPP. Tinggal penguatan jaringan partai untuk memenangkan calon yang diusung partai kami.

Tribun :
Bagaimana jalannya proses penentuan calon dari Gerindra?

Hardianto :
Alhamdulillah, sampai detik ini, mulai dari tingkat DPP yang mengarahkan kami di tingkat DPD dan DPC, kita komitmen menjalankan mekamisme partai. Diawaili dengan proses penjaringan bakal calon di PDC masing-masing, selanjutnya diserahkan ke DPD untuk tahapan seleksi administrasi, dilaksanakan 'fit and propert test'. Berikutnya DPC dan DPD melakukan pleno penetapan bakal calon diusung untuk seterusnya mengusulkan yang memiliki kapasitas dan kapabilitas ke DPP. Nah, DPP memiliki hak prerogatif untuk menilai bakal calon yang mendaftar dan memutuskan dengan pertimbangan yang objektif.

Tribun :
Kenapa Gerindra tidak sekaligus mengumumkan calon yang diusung di Riau?

Hardianto :
Politik ini kan dinamis ya, artiinya dari 9 kabupaten/kota di Riau tinggal 3 daerah yang belum ditetapkan. Target kita bagaimana kader bisa maju, ini yang masih digodok. Di Dumai mudah-mudahan kita bisa positioning di kursi nomor dua (calon wakil wali kota). Di Rohil kita juga terus membangun komuniasi dan mulai mengerucut calon yang bakal diusung. Begitu juga di Kuansing. Di tiga daerah itu tinggal persoalan komunikasi politik saja. Dalam satu dua minggu ini akan 'clear' lah.

Tribun :
Komposisi penentuan posisi calon kader Gerindra di Pilkada?

Hardianto :
Dari awal DPP sudah menentukan tiga opsi dalam memutuskan siapa yag didukung. Opsi pertama adalah kader murni yang diusung dan ini tentunya sudah tergaransi. Kedua, adalah mendukung calon yang bisa dikaderkan. Jika opsi pertama dan kedua tidak terpenuhi, maka Gerindra akan mendukung orang memiliki kesatuan persepsi dan komitmen membangun negeri dengan kami.
Berbicara opsi tadi, khsusus opsi pertama kita optimistis bisa memenangkan Pilkada. Contoh Pak Sukiman, petahana di Rohul, yang teruji sudah memiliki kapasitas dan potensi luar biasa. Tapi kami tak mau jumawa dan tetap mendorong lewat perjuangan maksimal.
Kemudian ada Husni Thamrin, Ketua DPC Gerindara Pelalawan, yang juga anggota DPRD Riau, yang kita optimis menjadi pemenang di Pilkada Pelalawan.
Kami tak menafikan ada calon lain kuat dari Pelalawan, tapi kami optimis bukan tanpa alasan dan pertimbangan dan siap bersaing secara objektif dan sportif.

Tribun :
Strategi menggaet pemilih untuk calon yang diusung di tengah Pandemi Covid?

Hardianto :
Saya yakini Pilkada ini, ketika Pandemi Covid belum selesai saat Desember nanti agak unik. Pendekatan ke masyarakat agak sedikit berbeda, sebab harus menerapkan social distancing dan taat protokol kesehatan. Tapi sosialisai tetap kami dilakukan, dengan cara publikasi melalui media luar ruang seperti spanduk, baliho, kemudian menggelar tatap muka terbatas dengan protokol kesehatan. Selain itu pastinya memanfaatkan media sosial.
Media sosial sebagai strategi yang ampuh untuk sosialisasi calon saat ini. Saya mengimbau silakan semua calon eksplorasi diri dalam konteks sosialisa, tapi jangan manfaatkan Covid dalam masyarakat yang kini prihatin dan susah. Sebab peluang 'money politics' sangat besar di masa Covid. Namun kalaupun ada sifatnya bantuan sah-sah saja, tapi jangan dikonversi bantuan itu sebagagi 'money politics' untuk mempengaruhi pemilih. Agar ini tidak terjadi , fungsi pengawasan harus optimal. Kami dari Gerindra berkomitmen tidak akan memanfaatklan Covid untuk kepetingan politik.

Tribun :
Isu mahar politik selalu marak di Pilkada, bagaimana Anda menanggapi?

Hardianto :
Di Gerindra kita tak ada mahar politik. Penetapan calon diusung sangat ditentukan oleh visi misi yang dimiliki calon dan hasil survei, ini yang penting. Terakhir komitmen, calon punya niat membesarkan Partai Gerindra.
Pilkada bagi kami menjadi batu loncatan ke Pileg dan Pilpres 2024. Nah, biaya politik wajib hukumnya, ketika kami miliki motor-motor poilitik di push bergerak memenangkan calon yang didukung tentunya dibutuhkan pulsa dan paket data dalam konteks komunikasi, dan bensin untuk transportasi. Tak ideal dan etis kami menggunakan dana kas partai, kerjasama seperti inilah yang dibicarakan dengan calon. Berapa biayanya, relatif karena biayanya ada dikantong calon. Setiap orang secara ideal ketika ingin maju sudah punya hitungan-hitungan berapa biaya yang harus dikeluarkan. Pengalaman saya pribadi maju di Pilgubri lalu saya tak mengeluarkan uang sediktipun untuk partai.

Tribun :
Apakah survei terhadap calon sudah semuanya dilakukan?

Hardianto :
Gerindra tidak melakukan survei internal, tapi berdasarkan hasil survei yang dilakukan pihak lain. Kemudian survei itu kami kaji, apakah bisa dipercaya, dilihat dari lembaga survei, kemudian angka hasil survei menjadi acuan dalam penetapan calon didukung.

Tribun :
Berapa target kemenangan yang dipatok di Pilkada nanti?

Hardianto :
Berbicara target 100 persen, karena kita sudah memberi kepercayaan kepada calon dan meyakini harus menang. Persoalan kalah menang itu 'ending' dari hasil perjuangan, kalah dan menang itu konsekwensinya. Ada takdir, di luar kemampun kita manusia biasa.

Tribun :
Bergabungnya Gerindra ke pemerintah apakah berdampak bagi calon yang diusung?

Hardianto :
Tentu saja ada dampaknya, karena pemikiran orang bermacam-macam, tidak sama. Namun perlu saya jelaskan, tidak semua semua masyarakat bisa memahami dan meyakini keputusan dibalik bergabungnya Gerindra dengan pemerintah.
Jangan sangka Gerindra dan Pak Prabowo gabung ke pemerintahan dengan merendahkan diri secara institusi maupun persoalan. Ini bukan soal jabatan. Pak Prabowo sudah selesai dengan persoalan dunia, tak habis hartanya tujuh turunan. Ini bukan persoalan duniawi, soal jabatan. Pak Prabowo menerima tawaran pemerintah setelah beliau berkordinasikan dengan seluruh kader dan menegaskan keputusan diserahkan ke kami.
Beliau hanya mengatakan, kalau kita tunggu 5 tahun mendatang kondisi bangsa, tidak tahu seperti apa nanti kondisinya. Tawaran itu diambil dalam konteks menyejukkan pasca Pilpres yang sempat menimbulkan disintegrasi bangsa. Jiwa kepempimpinan Pak Prabowo ditunjukkan dengan mengalah untuk persatuan bangsa. Selain itu, jika Pak Probowo tak menerima tawaran pemerintah, kapan lagi vis misi Pak Prabowo yang ditawarkan saat Pilpres direalisasikan.

Tribun :
Seperti apa persiapan Gerindra menatap Pilpres 2024 ?

Hardianto :
Pak Prabowo, Gerinda, dan saya hidup di dunia politik yang abu-abu. Hari ini ada yang memplintir seolah-olah Gerindra antirakyat. Saya ingin ingatkan agar masyarakat berhati-hati, jangan sampai mindsetnya digiring seperti itu. Gerindara InsyaAllah masih istiqamah berjuang untuk masyarakat.
Nah, Pilkada ini komitmennya membesarkan Gerindra, menjalankan program Gerindra, dengan Gerindara besar, tentu kader Gerindra banyak yang terpilih di Pilkada maupun legislatif. Nanti akan terakumulasi dalam dukungan bagi Gerindra di Pileg dan Pilres 2024.

Tribun :
Apa pesan Anda bagi kader Gerindra dan konstituen partai?

Hardianto :
Semua kader, pengurus partai, harus manut dengan keputusan DPP, sebab kunci kemenangan kita di Pilkada nanti adalah soliditas dan bersatu. Kedua, bagi pemilih kami paham Covid sangat berdampak, tapi jangan pernah korbankan suara Anda, harga diri Anda untuk kepentingan money politics. Satu suara Anda menentukan nasib negara beberapa tahun ke depan. Pilihlah calon pemimpin yang menurut bapak ibu yang benar dan kami menawarkan calon dari Gerindra. Kami akan tetap kawal calon yang diusung, agar tetap istiqamah dan amanah.

( Tribunpekanbaru / Nasuha Nasution )

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved