Rabu, 8 April 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Terima Rusus Nelayan, Hasandri Kini Bisa Istirahat Lebih Tenang

Hasandri sangat bersyukur bisa tinggal di rumah tersebut. Apalagi, rumah itu dianggapnya jauh lebih layak dibanding tempat tinggalnya yang lama.

Penulis: Hendra Efivanias | Editor: M Iqbal
Tribun Pekanbaru/Hendra Efivanias
RUSUS NELAYAN - Suasana Rumah Khusus (Rusus) Nelayan di Teluk Batil Kabupaten Siak yang telah ditempati 25 kepala keluarga, Jumat (7/8/2020). Rusus ini dibangun berdasarkan program dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia. 

TRIBUNPEKANBARU.COM, SUNGAI APIT - Hasandri berbaring santai di ruang tamu rumahnya yang ada di komplek Rumah Khusus atau Rusus Nelayan Desa Teluk Batil Kecamatan Sungai Apit Kabupaten Siak, Riau, Jumat (7/8/2020). Kepalanya ditumpu bantal sementara badannya rebah di atas lantai berkeramik putih. Cuaca terik siang itu, ditambah bayu yang berhembus lembut dari arah laut memang mengundang kantuk.

Melihat kami menghampiri rumahnya, pria 60 tahun itu mengangkat tubuh lalu duduk bersandar pada dinding berlapis cat warna putih. Kami yang rikuh dipersilakannya duduk. Ramah sekali. Padahal itu pertamakalinya Hasandri bertemu dengan kami.

Di dalam rumah bertipe kopel itu, ada juga istri, anak, menantu, dan cucu perempuannya yang baru berusia dua bulan. Suasana terkesan ramai. Maklum, ruang tamu di rumah dengan luas lantai minimal 36 m2 itu menjadi sentral dari banyak aktivitas penghuninya. Agar lebih lega, kami memilih duduk di teras.

"Beginilah kondisinya. Memang rumah ini ada dua kamar, tapi rasanya tak cocok untuk keluarga besar," ujar Hasandri menanggapi pertanyaan kami. Menurutnya, rumah itu hanya ia huni bersama sang istri. Sementara anak, menantu dan cucunya tinggal di rumah lain yang tak jauh dari situ. Hari itu, kebetulan mereka sedang berkunjung.

Meski terlihat sempit, Hasandri sangat bersyukur bisa tinggal di rumah tersebut. Apalagi, rumah itu dianggapnya jauh lebih layak dibanding tempat tinggalnya yang lama. "Dulu, kami tinggal di rumah kayu yang sudah tak layak huni. Berdiri di atas lahan mertua saya," katanya.

Sehari-hari, Hasandri bekerja sebagai nelayan tradisional. Bermodal perahu kecil dan jaring, mereka mengadu keberuntungan di tengah lautan. Wilayah jelajah mereka terbatas karena kondisi perahu yang kurang memadai. Selain di perairan Sungai Apit, sesekali Hasandri mengarahkan perahunya ke perairan Pulau Padang, Kabupaten Kepulauan Meranti.

Sebagai nelayan kecil yang terbatas alat, hasil tangkapan Hasandri pun tak terlalu banyak. Biasanya ia menangkap ikan biang atau ikan lomek. Jika beruntung, sesekali jaringnya menangkap udang yang harga di pasaran cukup mahal. Tapi lebih sering penghasilan Hasandri hanya berkisar Rp300 ribu.

Sekali turun ke laut, setidaknya ia menghabiskan waktu dua hari satu malam. Sementara, kalau kondisi air laut sedang pasang seperti saat kami temui kemarin, ia memilih tak mencari ikan dan beristirahat di rumah.

Uang hasil penjualan ikan biasanya habis untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Karenanya, meski sudah puluhan tahun jadi nelayan, mustahil bagi Hasandri punya uang yang cukup untuk membangun rumah pribadi yang lebih layak huni.

Sebab itulah, saat rencana program Rusus Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Republik Indonesia hadir di desanya, Hasandri sangat senang. Terlebih saat Kepala Desa Teluk Batil, Asnor memasukkan namanya sebagai calon penerima Rusus.

Mimpinya punya rumah pribadi yang layak huni akhirnya terwujud. Sekitar Mei 2019, ia resmi menjadi penghuni Rusus Nelayan itu. "Program Rusus ini sangat membantu sekali. Apalagi kita tak mampu membuat rumah yang layak jika mengharap hasil melaut,” tuturnya sumringah.

Sepelemparan batu dari rumah Hasandri, tinggal pula Yudin bersama istri dan seorang anaknya. Dia juga bagian dari 25 kepala keluarga yang beruntung menerima Rusus Nelayan itu. Yudin menempati rumah berjenis kopel. Namun, ia sudah menambahkan bangunan non permanen yang dipakai menjadi dapur. Sehingga rumahnya terlihat lebih luas dibanding yang ditempati Hasandri.

Sebelum tinggal di sana, Yudin belum punya rumah sendiri. Ia dan keluarga tinggal di sebuah rumah dinas guru yang kebetulan tak ditempati. Penghasilan yang terbatas dari profesi nelayan membuat Yudin sulit mewujudkan mimpi memiliki rumah pribadi. Hasil melaut yang jumlahnya kurang lebih Rp300 ribu diutamakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

"Kalau tidak ada program ini, mungkin entah kapan kami bisa punya rumah sendiri. Makanya bersyukur sekali ada program Rusus. Nelayan seperti saya sangat terbantu," ujar Yudin.

Satu hal lagi yang membuatnya senang adalah proses pemilihan calon penerima yang tak sulit. Yudin mengaku tidak mendaftarkan diri jadi calon penerima. Tapi kepala desa langsung yang mendaftarkannya. Sampai penyerahan kunci rumah, segala urusan diatur oleh pemerintah desa.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved