Kamis, 23 April 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Terima Rusus Nelayan, Hasandri Kini Bisa Istirahat Lebih Tenang

Hasandri sangat bersyukur bisa tinggal di rumah tersebut. Apalagi, rumah itu dianggapnya jauh lebih layak dibanding tempat tinggalnya yang lama.

Penulis: Hendra Efivanias | Editor: M Iqbal
Tribun Pekanbaru/Hendra Efivanias
RUSUS NELAYAN - Suasana Rumah Khusus (Rusus) Nelayan di Teluk Batil Kabupaten Siak yang telah ditempati 25 kepala keluarga, Jumat (7/8/2020). Rusus ini dibangun berdasarkan program dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia. 

Sementara itu, Kepala Desa Teluk Batil, Asnor pun senang desanya menjadi sasaran program pembangunan Rusus Kementerian PUPR melalaui Direktorat Jenderal Perumahan. Diakuinya, bantuan ini mengabulkan mimpi para nelayan kecil mendiami rumah pribadi dan nyaman.

"Kalau dilihat kondisinya, memang nelayan di sini sangat terbantu dengan adanya program Rusus. Setelah punya rumah pribadi yang kondisinya sangat layak, setidaknya mereka bisa istirahat lebih tenang sepulang melaut," kata Kepala Desa Teluk Batil Asnor, Selasa (11/8/2020).

Kebutuhan dasar

Sebanyak 25 unit Rusus Nelayan di Teluk Batil itu merupakan bagian dari 50.000 unit yang ditargetkan terbangun oleh Direktorat Jenderal Penyediaan Perumahan di rentang tahun 2015-2019. Dilansir dari situs perumahan.pu.go.id, rumah Yudin dan Hasandri masuk dalam 15.000 unit rumah yang ditargetkan terbangun di tahun 2019.

Dihitung mundur, tahun 2018, ditargetkan terbangun 12.680 unit. Lalu, 2017 targetnya 10.000 unit, dan 5.000 unit (2016), serta 7.320 unit (2015). Sehingga total target dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) mencapai 50.000 unit dengan dana yang dibutuhkan sebesar Rp12.4451.961.000.000.

Dilansir dari situs www.pu.go.id Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan bahwa Rusus adalah program Kementerian PUPR yang dibangun untu memenuhi kebutuhan khusus. Seperti nelayan, pemukiman kembali korban bencana/pengungsi, guru, tenaga medis, TNI/Polri dan petugas di daerah perbatasan dan pulau terpencil

Dimana, arah kebijakannya lebih pada memperluas akses terhadap tempat tinggal yang layak huni bagi kelompok masyarakat di kawasan yang dimaksud di atas. Termasuk 25 nelayan penerima Rusus di Desa Teluk Batil, nelayan Desa Laimeo di Sulawesi Tenggara, ASN Polri di Kabupaten Limapuluh Kota Sumatera Barat hingga masyarakat berpenghasilan rendah di Papua Barat.

Situs perumahan.pu.go.id juga memberi informasi bahwa rumah yang dibangun dilengkapi dengan Prasarana Sarana Utilitas (PSU) pendukung. Itulah sebabnya, penghuni Rusus Nelayan Desa Teluk Batil tak sekadar menerima rumah yang terbilang nyaman. Komplek itu juga dilengkapi dengan fasilitas drainase, jalan lingkungan, sambungan listrik, dan jaringan air bersih. Semuanya dibangun dengan bahan-bahan lokal.

Semua fasilitas itu jadi prioritas pembangunan Rusus. Dengan tujuan, program ini turut menciptakan kawasan perumahan permukiman yang lebih manusiawi dan memenuhi unsur/persyaratan kesehatan, efisiensi dan produktif.

Tiga masalah

Hanya saja, penyelenggara pembangunan perlu memperhatikan kondisi lingkungan lahan yang akan dibangun perumahan. Seperti Rusus Nelayan Teluk Batil, di hari-hari tertentu, air pasang menggenang hingga ke pekarangan rumah. Baik Yudin maupun Hasandri memaklumi kondisi alam ini. Namun, dampak genangan pada daya tahan bangunan juga perlu diperhitungkan.

Hal lain yang perlu dibenahi yaitu fasilitas air bersih yang belum maksimal. Warga Rusus saat ini bergantung pada sumur air tanah yang disedot mesin pompa. Karena dana yang terbatas, beberapa rumah tangga harus berkongsi untuk membeli pompa. Daya listrik yang mencapai 1.300 VA juga dianggap berlebihan dan membutuhkan biaya cukup besar.

Terlepas dari tiga masalah itu, baik Hasandri maupun Yudin bersepaham bahwa program Rusus sangat besar manfaatnya bagi mereka. Bagi orang Melayu, rumah bukan sekadar tempat bernaung. Budayawan cum akademisi Universitas Riau, Yusmar Yusuf dalam bukunya; Riau Sekuak Rentak (2000) bahkan menyebut rumah sebagai pusat dunia.

Tempat berdiam memiliki dimensi kebetahan. Feel at home istilah asingnya. Itulah "milik" yang mengimbau orang untuk melakukan gerakan pulang. Itulah pusat dunia manusia secara pribadi. Alhasil, setiap saat manusia merindukan pulang dalam sangkar alaminya bernama rumah dan Kementerian PUPR turut membantu mewujudkan rindu itu. (Tribunpekanbaru.com /Hendra Efivanias)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved