Breaking News:

Mantan Kajari Inhu & Dua Bawahannya Jalani Sidang Perdana Dugaan Pemerasan Kepala SMP Rp 1,5 Miliar

Kasus dugaan pemerasan terhadap 61 orang kepala sekolah (Kepsek) setingkat SMP di Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) oleh sejumlah oknum jaksa

Penulis: Rizky Armanda | Editor: Ilham Yafiz
pixabay.com
Ilustrasi 

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Kasus dugaan pemerasan terhadap 61 orang kepala sekolah (Kepsek) setingkat SMP di Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) oleh sejumlah oknum jaksa, akhirnya bergulir di persidangan.

Adapun pesakitan dalam kasus ini, berjumlah 3 orang. Di antaranya mantan Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Inhu, Hayin Suhikto, dan 2 orang bawahannya.

Dua orang itu yakni mantan Kepala Seksi Pidana Khusus Kejari Inhu, Ostar Al Pansari dan mantan Kasubsi Barang Rampasan Kejari Inhu, Rionald Febri Rinaldo.

Perkara ini, sempat ditangani oleh Kejaksaan Tinggi (Kejati) Riau. Namun belakangan, perkara ini diambil alih Kejaksaan Agung (Kejagung).

Ketiga orang oknum jaksa ini, menjalani proses peradilan di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri (PN) Pekanbaru. Sidang perdana digelar pada Kamis (10/12/2020) ini.

Sidang ini dilaksanakan dengan skema video conference. Majelis hakim yang diketuai Lilin Herlina, berada di ruang sidang, sedangkan JPU di Kantor Kejagung dan ketiga terdakwa di Rutan Salemba Cabang Kejagung di Jakarta.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Agung (Kejagung), Eliksander Siagian, mendakwa para terdakwa telah melakukan pemerasan Rp1,5 miliar.

Dalam surat dakwaan JPU menyebutkan, perbuatan para terdakwa terjadi pada kurun waktu Mei 2019 sampai dengan Juni 2020 lalu. 

Terdakwa Hayin menerima uang Rp 769 juta, terdakwa Ostar menerima Rp275 juta dan satu unit iPhone X dan terdakwa Rionald menerima uang Rp115 juta.

"Seluruh dana diterima Rp1,5 miliar lebih. Penerimaan itu bertentangan dengan kewajiban, dilakukan atau tidak dilakukan dalam jabatannya terdakwa selaku penyelenggara negara," tegas JPU.

Baca juga: Orangtuanya Bercerai, Bocah 7 Tahun Ini Dititipkan, Disiksa Nenek dan Tantenya

Baca juga: Kakek Ini Tiba-tiba Ambruk di TPS, Meninggal Dunia Usai Memberikan Hak Suara

Baca juga: Pasangan Suami Istri Ditemukan Tewas di Kamar Tidur, Warga Temukan Jasadnya 3 Hari Setelah Kematian

Lanjut JPU, uang yang diterima terdakwa itu berasal dari 61 Kepala SMP Negeri di Inhu.

Penerimaan uang itu berawal ketika kepala SMP itu menerima dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) tahun 2016 hingga 2018.

Ada laporan yang masuk ke jaksa di Inhu, jika pengelolaan dana ada indikasi diselewengkan.

Namun bukannya melakukan penyelidikan, dan pelaksanaan tugas sesuai prosedur yang berlaku terhadap adanya dugaan tidak pidana korupsi dalam pengelolaan dana BOS itu, para terdakwa justru meminta uang kepada para kepala SMP agar kasus tidak dilanjutkan.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved