Minggu, 12 April 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

RISET Covid-19: Menguak Berapa Banyak Kasus Covid-19 Tanpa Gejala

angka secara konservatif memperkirakan kurang dari 20 persen orang mungkin menularkan tanpa menunjukkan tanda-tanda.

Penulis: | Editor: Firmauli Sihaloho
MANAN VATSYAYANA / AFP
Wanita mengenakan masker mengendarai sepeda motor melewati Gedung Opera di Hanoi pada 23 April 2020, ketika Vietnam melonggarkan upaya isolasi sosial nasional untuk mencegah penyebaran coronavirus novel COVID-19. 

TRIBUNPEKANBARU.COM - Tidak semua orang bisa memiliki gejala yang sama saat terjangkit Covid-19.

Bahkan ada yang tidak memiliki gejala sama sekali.

Kondisi ini tentu secara tidak disadari bisa menularkan virus ke orang lain.

Kasus orang tanpa gejala Covid-19 pun menjadi perhatian para ilmuwan sejak awal.

Sementara itu, membedakan mereka yang benar-benar tanpa gejala atau belum menunjukkan gejala juga menjadi tantangan sulit bagi para ilmuwan.

Karena ini berdampak pada perhitungan angka yang tepat terkait risiko penyakit.

Lantas, seberapa besar kasus Covid-19 yang tanpa gejala?

Analisis terbaru terhadap lebih dari 350 penelitian yang dilakukan sekelompok peneliti medis dari AS menemukan bahwa lebih dari 35 persen dari semua infeksi Covid-19 sama sekali tidak menunjukkan gejala, tidak ada perkembangan ke fase gejala.

Perkiraan awal berkisar dari hanya 4 persen menjadi 81 persen infeksi yang tidak menunjukkan gejala.

Bahkan, angka secara konservatif memperkirakan kurang dari 20 persen orang mungkin menularkan tanpa menunjukkan tanda-tanda.

Menentukan angka orang tanpa gejala dan tidak, jauh lebih sulit.

Bagaimana tidak, seseorang yang tidak merasa demam, kehilangan penciuman, sakit tenggorokan, atau batuk, mungkin tidak akan memeriksakan diri ke layanan kesehatan karena merasa baik-baik saja.

Hanya sedikit orang di seluruh dunia yang secara sadar rutin melakukan tes Covid-19.

Dilansir dari Science Alert, Jumat (13/8/2021), para ahli mengatakan bahwa cara paling sederhana untuk mendeteksi penyebaran infeksi yang sebenarnya adalah dengan melakukan survei cross-sectional, mengambil sampel populasi secara acak untuk mendeteksi keberadaan virus, terlepas dari kesehatan subjek.

Hanya ada satu masalah dengan pendekatan ini.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved