Mengenal Molnupiravir, Obat Covid-19 yang Lagi Ramai Dibincangkan
Seperti memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak aman, menghindari kerumunan, dan mengurangi mobilitas.
Penulis: Firmauli Sihaloho | Editor: Firmauli Sihaloho
TRIBUNPEKANBARU.COM - Pandemi Covid-19 masih terus menghantui dunia.
Covid-19 belum berakhir meski vaksinasi terus digesa.
Termasuk di Indonesia.
Oleh sebab itu, selain vaksin, masyarakat dihimbau agar terus menerapkan protokol kesehatan.
Seperti memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak aman, menghindari kerumunan, dan mengurangi mobilitas.
Selain itu, obat Covid-19 juga terus dikembangkan untuk menangani pasien.
Salah satu yang kini diperbincangkan ialah Molnupiravir.
Molnupiravir awalnya dikembangkan oleh Emory (University) Institute for Drug Discovery (EIDD) dalam rangka penemuan obat untuk Venezuelan equine encephalitis virus.
"Senyawa obat ini merupakan analog nucleoside cytidine, yang dapat menyusup rantai RNA dan menghambat sintesis RNA virus melalui penghambatan enzim RdRp (RNA-dependent RNA Polymerase), yang pada gilirannya menghambat replikasi virus," ujar Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Zullies Ikawati menyadur Kompas.
Dia mengklaim obat molnupiravir memiliki efek hingga 100 persen saat uji klinis fase tiga.
Dengan obat ini, pasien Covid-19 bisa minum obat sendiri di rumah, dan sembuh dalam waktu sekitar 5 hari.
Alhasil, Covid-19 nantinya akan ditangani seperti mengobati flu biasa seperti sekarang.
"Sebenarnya kalau secara spesifik sangat mirip dengan (obat) favipiravir karena (obat) bekerjanya di satu enzim yang namanya RNA-dependent RNA polymerase," pungkasnya.
Menanggapi informasi ini, Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Prof Wiku Adisasmito angkat bicara melalui situs satgascovid19.go.id
Dia menuturkan harus ada uji klinis terlebih dahulu.
"Bahwa Indonesia bersikap terbuka dengan semua alternatif jenis pengobatan terkait COVID-19.
Hal ini didasari agar pasien COVID-19 dapat sembuh dan meningkatkan angka kesembuhan setinggi-tingginya," kata Wiku.
Dia menegaskan bahwa uji klinis menjadi elemen utama dalam menciptakan suatu obat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pekanbaru/foto/bank/originals/ilustrasi-obat-molnupiravir.jpg)