Breaking News:

Berita Inhu

Proses Evakuasi Gajah Liar di Indragiri Hulu Terkendala Dua Hal Berikut Ini

Fifin mengatakan gajah liar yang tengah berkeliaran di Kecamatan Rengat tersebut merupakan gajah yang berasal dari Taman Nasional Teso Nilo (TNTN).

Penulis: Bynton Simanungkalit | Editor: CandraDani
Tribunpekanbaru.com
Evakuasi dan translokasi Gajah Liar di Peranap, Inhu, beberapa waktu lalu. 

TRIBUNPEKANBARU.COM, RENGAT - Gajah liar masih berkeliaran di Kecamatan Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu). Menurut Plt Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Provinsi Riau, Fifin A Jogasara proses evakuasi dua ekor gajah liar tersebut kesulitan anggaran.

Selain itu juga dibutuhkan alat GPS untuk melacak keberadaan gajah tersebut.

Hal ini juga sempat dibahas oleh Fifin saat bertemu dengan Bupati Inhu, Rezita Meylani Yopi di ruang kerjanya, Senin (5/4/2022).

Fifin menyampaikan bahwa dua gajah jantan tersebut merupakan gajah dispersal.

"Biasanya menjelang dewasa, gajah jantan tersebut ditolak oleh gajah jantan yang ada di kelompoknya, sehingga gajah tersebut tidak bisa kembali lagi ke kelompoknya," ujar Fifin.

Baca juga: VIDEO: Gajah Liar Rusak Lahan Pertanian dan Kebun di Inhu Riau, BBKSDA Imbau Warga Jangan Anarkis

Baca juga: Gajah Liar Obrak-abrik Kebun Siap Panen di Inhu, BBKSDA Riau Minta Hal Ini ke Warga

Fifin mengatakan gajah liar yang tengah berkeliaran di Kecamatan Rengat tersebut merupakan gajah yang berasal dari Taman Nasional Teso Nilo (TNTN).

Dua gajah itu melakukan perjalanan ratusan kilometer dan terakhir diketahui keberadaannya di Desa Rawa Asri menuju Desa Paya Rumbai.

Menurut Fifin gajah jantan tersebut diperkirakan masih berusia 15 tahun.

Pihak BBKSDA Riau sudah merencanakan untuk proses evakuasi dua ekor gajah jantan tersebut.

Kata Fifin ada dua tempat yang akan dipilih sebagai lokasi evakuasi, yakni Taman Nasional Way Kambas, Lampung, dan Suaka Marga Satwa Padang Sugihan yang merupakan landscape Bukit Tigapuluh bagian selatan di Jambi.

Namun untuk proses evakuasi tersebut menurut Fifin membutuhkan anggaran yang besar dan alat yang canggih.

Pasalnya saat ini BBKSDA Riau hanya memiliki anggaran untuk pakan.

"Kami hanya punya anggaran untuk pakan, tidak ada anggaran untuk evakuasi. Selain itu, juga dibutuhkan alat GPS Collar untuk melacak keberadaan gajah," kata Fifin.

Oleh karena itu Fifin mengatakan agar masyarakat tidak melawan gajah tersebut.

"Solusi untuk menghadapi gajah liar tersebut agar tidak menimbulkan korban, jangan dilawan atau diusir, tapi cukup dengan menghindar karena kita belum tahu karakternya. Jika dia merasa terancam akan bisa membahayakan masyarakat itu sendiri," ujarnya. (Tribunpekanbaru.com/Bynton Simanungkalit)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved