Breaking News:

Cara Mengetahui Kondisi Buta Warna, Risiko Pria Lebih Tinggi daripada Wanita

Buta warna adalah ketidakmampuan seseorang dalam membedakan warna. Kondisi ini dapat mengganggu penglihatan.

Editor: Ariestia
grid.id
Buta warna adalah ketidakmampuan seseorang dalam membedakan warna. Kondisi ini dapat mengganggu penglihatan. 

TRIBUNPEKANBARU.COM - Buta warna adalah ketidakmampuan seseorang dalam membedakan warna.

Kondisi ini dapat mengganggu penglihatan.

Buta warna dapat disebabkan akibat gen keturunan, penyakit, atau cedera mata, seperti dijelaskan oleh Ciputra Hospital.

Pria memiliki risiko yang jauh lebih tinggi daripada wanita untuk buta warna.

Sejauh ini, belum ada obat untuk penderita buta warna.

Namun, penderita dapat melakukan konsultasi dengan ahli kacamata atau dokter ahli dapat membantu seseorang mendapatkan alat bantu penglihatan, sehingga mampu beradaptasi dengan lebih baik.

Banyak metode yang dapat dilakukan untuk mengetahui hal tersebut, seperti tes ishihara, anomaloscope, dan tes warna lainnya.

Berikut ini cara mengetahui seseorang menderita buta warna atau tidak yang dikutip dari RSUD Buleleng dan National Eye Institute:

Tes Buta Warna untuk Mengetahui Jenis Buta Warna

Untuk memastikan apakah mata seseorang mengalami buta warna atau tidak, maka perlu dilakukan tes buta warna.

Tes ini biasanya menjadi bagian dari syarat di sejumlah bidang pekerjaan khusus, seperti pilot, tentara, teknisi, hingga dokter.

Tes warna untuk mata dibagi menjadi beberapa jenis, berdasarkan pada kebutuhan pasien, yaitu tes buta warna parsial dan total.

Berikut ini jenis tes buta warna yang perlu diketahui:

1. Anomaloscope

Anomaloscope adalah metode tes buta warna yang dilakukan dengan menggunakan alat seperti mikroskop.

Saat menjalani tes buta warna anomaloscope, pasien akan diminta untuk melihat ke arah lingkaran yang dibagi ke dalam 2 (dua) warna, yakni merah-hijau pada satu sisi, dan kuning pada sisi lainya.

Setelah itu, pasien diharuskan menekan tombol yang ada pada alat tersebut ketima seluruh warna pada lingkaran berubah jadi satu warna yang sama.

Tes warna anomaloscope termasuk ke dalam jenis tes buta warna parsial.

Sayangnya, tes ini hanya mampu mendeteksi penyakit buta warna parsial merah-hijau.

2. Ishihara

Tes buta warna ishihara adalah tes warna bagi mata yang paling umum digunakan.

Pada metode ini, pasien akan dihadapkan pada gambar lingkaran yang terdiri dari banyak bintik dengan warna dan bentuk yang berbeda satu sama lain.

Pasien diminta melihat gambar tersebut sambil menutup sebelah matanya, dan antara mata dan gambar berjarak kurang lebih 40 sentimeter.

Jika dilihat secara seksama, bintik-bintik tersebut membentuk suatu huruf atau angka.

Apabila mata pasien normal, ia akan dengan mudah mengidentifikasi huruf atau angka yang tersembunyi tersebut.

Sama seperti anomaloscope, tes warna ini hanya bisa mendiagnosis buta warna parsial merah-hijau.

Baca juga: Jenis-Jenis Buta Warna dan 5 Macam Tes untuk Mengetahuinya

3. Farnsworth-Munsell

Untuk menganalisis apakah pasien dapat menyadari perubahan warna yang sangat tipis, cara tes buta warna yang digunakan adalah tes Farnsworth-Munsell.

Tes ini menggunakan medium gambar lingkaran dalam jumlah banyak, dan sejumlah gradasi dari warna tersebut.

4. Penyusunan

Seperti namanya, metode ini penyusunan ini dilakukan dengan cara meminta pasien untuk menyusun objek tertentu yang mana objek tersebut terdiri dari susunan gradasi warna.

Sebagai contoh, pasien harus menyusun beberapa buah balok yang terdiri dari warna hijau muda-hijau-hijau tua.

5. Cambridge

Pengimplementasian tes warna Cambridge ini serupa dengan ishihara, yakni sama-sama meminta pasien untuk mengidentifikasi huruf tersembunyi yang ada di dalam lingkaran penuh bintik warna berbeda.

Perbedaanya, tes ini menggunakan medium komputer.

Selain itu, biasanya tes Cambridge hanya berfokus pada satu jenis huruf, yakni huruf “C”.

Jenis-Jenis Buta Warna

Secara garis besar, penyakit buta warna pada mata terbagi ke dalam 2 (dua) jenis, yaitu buta warna total dan buta warna parsial.

1. Buta Warna Total

Buta warna total adalah jenis buta warna yang menyebabkan penderitanya sama sekali tidak dapat mengidentifikasi warna yang dilihat oleh indera penglihatannya.

Semua pandangan menjadi terlihat hitam putih (monokrom).

2. Buta Warna Parsial

Sementara itu, buta warna parsial adalah kondisi di mana mata penderitanya tidak dapat mengindentifikasi sejumlah warna tertentu dengan akurat.

Sederhananya, tipe buta warna ini disebut sebagai buta warna sebagian.

Buta warna parsial sendiri terbagi ke dalam beberapa kategori, tergantung pada jenis warna apa yang tidak bisa diidentifikasi oleh si penderita.

Berikut ini pembagian buta warna parsial:

- Tritanopia

Buta warna parsial tritanopia adalah ketidakmampuan penderitanya untuk membedakan antara warna biru dan kuning.

Warna biru dianggap sebagai warna hijau, sementar warna kuning terlihat seperti abu-abu terang. Kondisi buta warna ini akan tetapi jarang terjadi.

- Tritanomali

Jika Anda melihat warna biru menjadi agak hijau, atau pink menjadi terlihat merah dan kuning, maka dipastikan Anda mengidap buta warna tritanomali. Sama seperti tritanopia, tritanomali ini tergolong jarang terjadi.

- Deuteranopia

Deutoranopia adalah buta warna spasial yang menyebabkan penderitanya mengidentifikasi warna merah sebagai kuning kecoklatan, dan hijau sebagai krem.

- Deuteranomali

Kalau deuteranomali, penderitanya kerap kesulitan membedakan antara warna ungu dan biru.

Juga, salah mengidentifikasi warna kuning dan hijau menjadi merah.

- Protanomali

Sementara itu, protanomali adalah buta warna parsial di mana penderita melihat warna merah, kuning, dan jingga sebagai warna hijau dan tidak secerah aslinya.

- Protanopia

Jenis buta warna parsial yang terakhir adalah protanopia.

Pada kondisi ini, penderita akan melihat warna hijau dan jingga sebagai warna kuning, sementara merah menjadi hitam.

Penyebab Buta Warna

Tidak semua orang terancam buta warna, karena ada beberapa faktor yang menyebabkan kondisi ini.

Seseorang lebih rentan mengalami buta warna jika:

- Memiliki riwayat keluarga buta warna

- Memiliki penyakit mata tertentu, seperti glaukoma atau degenerasi makula terkait usia (AMD)

- Memiliki masalah kesehatan tertentu, seperti diabetes, penyakit Alzheimer, atau multiple sclerosis (MS)

- Minum obat-obatan tertentu

- Mengidap penyakit mata, seperti glaukoma atau degenerasi makula

- Mengidap penyakit otak dan sistem saraf, seperti Alzheimer atau multiple sclerosis

- Mengonsumsi beberapa obat, seperti Plaquenil (obat rheumatoid arthritis)

- Cedera mata atau otak.

(Tribunnews.com).

Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved