Jumat, 10 April 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Berita Rohil

Ahui Tempuh 14 Jam ke Bagansiapiapi dari Medan Meski Tak Ada Prosesi Bakar Tongkang Tahun Ini

Ahui, warga Tionghoa dari Medan rela tempuh 14 jam perjalanan demi mengikuti ritual meski prosesi bakar tongkang tak dilaksanakan tahun ini

Penulis: T. Muhammad Fadhli | Editor: Nurul Qomariah
Tribunpekanbaru.com/TM Fadhli
Masyarakat Tionghoa melakukan sembahyang ki ong ya menyambut ritual bakar tongkang atau go ge cap lak, sebagai budaya bersifat religi bagi masyarakat Tionghoa yang dipusatkan di Kelenteng Ing Hock Khing, Bagansiapiapi, Kecamatan Bangko, Kabupaten Rohil, Riau, Selasa (14/6/22). 

TRIBUNPEKANBARU.COM, BAGANSIAPIAPI - Ahui, warga Tionghoa dari Medan rela tempuh 14 jam perjalanan demi mengikuti ritual meski prosesi bakar tongkang tak dilaksanakan tahun ini.

Ritual bakar tongkang atau dalam istilah masyarakat Tionghoa dengan sebutan go ge cap lak di Kota Bagansiapiapi, Kabupaten Rokan Hilir (Rohil), Riau masih belum bisa dilaksanakan secara maksimal pada tahun ini.

Prosesi ritual bakar tongkang atau kapal sebagai persembahan mengenang para leluhur dan ekspresi rasa syukur kepada Dewa Kie Ong Ya dan Dewa Tai Sun ditiadakan pada tahun ini karena masih pembatasan pandemi Covid-19.

Meskipun demikian, tidak mengurangi kemeriahan serta daya tarik terhadap tradisi yang diperingati setiap tanggal 16 (cap lak) di bulan kelima (go) setelah perayaan Tahun Baru China ini.

Masyarakat etnis Tionghoa dan non-Tionghoa tetap antusias berdatangan ke Kota Bagansiapiapi untuk menikmati berbagai rangkaian acara yang digelar untuk menyambut hari puncak ritual.

Bagi masyarakat Tionghoa, mereka tetap melakukan sembahyang ki ong ya yang dipusatkan di Kelenteng Ing Hock Khing, satu diantara kelenteng tertua di pusat Kota Bagansiapiapi.

Sementara bagi masyarakat non-Tionghoa bisa menikmati festival lampu lampion yang menghiasi berbagai sudut jalan kota serta hiburan musik di gedung kesenian IP Plaza pada malam hari.

Di belakang IP Plaza atau di Taman Kota Bagansiapiapi, masyarakat juga disuguhkan bazar yang menjual berbagai macam kuliner dan barang-barang lainnya.

“Saya tidak kecewa meskipun tidak ada pembakaran tongkang pada tahun ini. Saya tetap datang bersama keluarga untuk menikmati suasana dan sembahnyang,” ungkap Ahui (68), seorang warga etnis Tionghoa sebelum melakukan sembahyang di kelenteng Ing Hock Khing.

Bahkan Ahui rela datang jauh-jauh dari Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara (Sumut) ke Kota Bagansiapiapi meskipun ritual bakar tongkang tidak dilaksanakan.

Apalagi masih banyak acara yang bisa dinikmati dalam rangka ritual bakar tongkang yang telah diselenggarakan di Bagansiapiapi sejak tahun 1878, atau sudah berlangsung sejak 134 tahun.

“Sekitar 14 jam perjalanan, mudah - mudahan tahun depan depan sudah dilaksanakan bakar tongkangnya, nggak kecewalah, di sini kita juga bersilaturahmi,” ujar pria yang juga memiliki nama Indonesia Hanafie ini.

Menurutnya, kondisi dan situasi Kota Bagansiapiapi dalam menyambut perayaan ritual bakar tongkang inilah yang berbeda dan tidak bisa didapatkan di tempat lain.

Sehingga, dirinya tetap datang meski tidak ada prosesi bakar tongkang pada tahun ini.

“Kesan saya di Kota Bagansiapiapi ini sangat bagus, mantap. Keamanan juga bagus. Masih ada acara hiburan yang menampilkan penyanyi dari Malaysia dan Taiwan serta lainnya,” tuturnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved