Breaking News:

Berita Riau

Kejati Riau Ambil Alih Penanganan 2 Kasus Dugaan Korupsi di Inhil, Sebelumnya Ditangani Kejari

Kejaksaan Tinggi (Kejati) Riau mengambil alih penanganan 2 kasus dugaan korupsi di Inhil.

Penulis: Rizky Armanda | Editor: Ariestia
Internet
Kejaksaan Tinggi (Kejati) Riau mengambil alih penanganan 2 kasus dugaan korupsi di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil). 

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Kejaksaan Tinggi (Kejati) Riau mengambil alih penanganan 2 kasus dugaan korupsi di Inhil.

Sebelumnya, 2 kasus tersebut ditangani oleh Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil).

Adapun dua kasus yang diambil alih penanganannya tersebut yakni, dugaan korupsi penyertaan modal pada BUMD Inhil, PT Gemilang Citra Mandiri (GCM) senilai Rp4,2 miliar, serta dugaan korupsi pembangunan Jembatan Kuala Enok.

Pengambilan alih penanganan kasus ini, adalah atas perintah dari Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (JAM Pidsus) Kejagung.

Kepala Seksi Penyidikan (Kasidik) Bidang Pidana Khusus (Pidsus) Kejati Riau, Rizky Ramatullah, saat dikonfirmasi membenarkan terkait adanya 2 kasus yang diambil alih tersebut.

“Iya dua perkara itu kami ambil alih. Ini perintah dari JAM Pidsus,” kata Rizky, Senin (26/9/2022).

Lanjut dia, dengan diambil alihnya penanganan perkara tersebut, pihaknya akan kembali melakukan penyelidikan dan penyidikan ulang. Langkah ini, untuk mengumpulkan bahan keterangan serta alat bukti.

“(Perkara itu kami) sidik ulang,” jelasnya.

Untuk kasus dugaan korupsi penyertaan modal pada BUMD Inhil, yaitu PT GCM senilai Rp4,2 miliar, Kejari Inhil yang dipimpin Rini Triningsih itu, sebelumnya telah menetapkan dua tersangka.

Mereka adalah mantan Bupati Inhil, Indra Muchlis dan Direktur PT GCM, Zainul Ikhwan.

Pengumuman penetapan tersangka, dilakukan pihak Korps Adhyaksa Inhil usai menggelar ekspos perkara, Kamis (16/6/2022) lalu.

Dari hasil ekspos tersebut, tim jaksa penyidik Pidsus Kejari Inhil akhirnya menemukan siapa pelaku dalam dugaan tindak pidana rasuah itu. Penetapan tersangka, berdasarkan minimal 2 alat bukti yang sah.

Pasca diperiksa dan ditetapkan tersangka pada, tersangka Zainul Ikhwan langsung ditahan dan dititipkan di Lapas Kelas IIA Tembilahan selama 20 hari ke depan. Selang beberapa hari kemudian, giliran Indra Muchlis dijebloskan ke penjara usai diperiksa sebagai tersangka.

Namun dalam perkembangannya, Indra Muchlis melakukan perlawanan. Ia mengajukan upaya hukum praperadilan di Pengadilan Negeri Tembilahan.

Gugatan praperadilan itu didaftarkan pada 21 Juni 2022 dengan nomor perkara nomor Pid.Pra/2022/PN Tbh.

Hasilnya, hakim tunggal Janner Christiadi Sinaga, mengabulkan permohonan praperadilan Indra Muchlis Adnan, serta menyatakan penetapan tersangka terhadapnya oleh jaksa tidak sah. (Tribunpekanbaru.com/Rizky Armanda)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved