Selasa, 21 April 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Berita Siak

Wabup Siak Ajak Warga Bertanam Cabai dan Bawang di Pekarangan Rumah

Wakil Bupati Siak mulai menggerakkan warga bertanam cabai dan bawang di pekarangan rumah. Gerakan ini sebagai upaya menekan inflasi di Kabupaten Siak.

Penulis: Mayonal Putra | Editor: Ariestia
Istimewa
Wabup Siak Husni Merza melihat bawang merah hasil produksi petani bawang di Muara Bungkal, Kecamatan Sungai Mandau, Jumat (15/9/2023) saat program Bujang Kampung. 

TRIBUNPEKANBARU.COM, SIAK - Wakil Bupati Siak mulai menggerakkan warga bertanam cabai dan bawang di pekarangan rumah. Gerakan ini sebagai upaya menekan inflasi di Kabupaten Siak.

“Saya pernah ikut manen bawang merah di Bungaraya dan Jumat kemarin saat Bujang Kampung di Sungai Mandau, hasilnya menggiurkan. Meski daerah kita ini panas tetapi bukan berarti tidak bisa mengembangkan tanaman hortikultura,” kata Husni Merza, Rabu (20/9/2023).

Ia menjelaskan, dari 1 Ha hamparan lahan yang ditanami bawang merah, panennya menghasilkan komoditas yang menguntungkan. Keberhasilan-keberhasilan seperti petani di Bungaraya dan Sungai Mandau ini bisa dikembangkan petani lain sehingga Siak mempunyai centra hortikultura.

“Jika ada lahan kosong atau lahan tidur kami mengajak masyarakat memanfaatkannya dengan menanam berbagai jenis tanaman produktif, seperti yang dilakukan warga di kampung Muara Mungkal, kecamatan Sungai Mandau,” katanya.

Menurutnya, penanaman tanaman hortikultura tidak harus dilakukan petani saja. Gerakan menanam yang digembar-gemborkannya menyasar setiap warga.

“Petani bisa memanfaatkan lahannya, beserta menjadikan lahan-lahan tak produktif menjadi produktif, sedangkan warga lainnya bisa memanfaatkan pekarangan rumah, bisa menanam menggunakan polibeg,” katanya.

Imbauan gerakan ini juga berlaku untuk ASN. Semakin banyak warga yang menanam cabai dan bawang merah, inflasi bisa ditekan. Hasilnya jika tidak dijual minimal untuk kebutuhan pokok di dalam keluarga masing-masing.

“Kita tahu semuanya bahwa komoditas sayuran, cabai merah, bawang masih didatangkan dari provinsi tetangga,” katanya.

Husni menambahkan, produksi tanaman hortikultura di kabupaten Siak tidak mencukupi untuk kebutuhan lokal. Mau tidak mau harus didatangkan dari Sumatra Barat (Sumbar).

“Karena rantai distribusinya dan transportasinya jauh tentu harga lebih tinggi begitu sampai di Siak, karena disitu ada upah angkut dan biaya transportasi yang cukup mahal,” kata Husni.

Husni mengaku senang dengan kelompok tani kampung Muara Mungkal yang seakan-akan melawan musim. Banyak yang menyangkal susahnya bertanam bawang di kabupaten Siak karena suhu lebih panas, tetapi bisa dibuktikan oleh kelompok tani ini.

“Bagaimana teknisnya warga bisa belajar ke kelompok tani ini,” katanya.

Husni melakukan gerakan menanam ini agar dapat menurunkan angka inflasi di kabupaten Siak. Inflasi menjadi tantangan setiap negara namun negara dengan seluruk strukturisasinya harus mampu mengendalikan.

“Kita tahu bahwa harga beras kualitas medium termasuk komoditas lain mulai naik. Ini tidak hanya terjadi di kabupaten Siak, tapi hampir di seluruh daerah di Indonesia,” terangnya.

Kenaikan harga pangan beras ini dipengaruhi perubahan cuaca. Pasalnya terjadi kenaikan suhu secara global atau super El Nino, akibatnya terjadi kekeringan ekstrim. Berimbas terganggunya stok pangan, seperti beras. Fenomena alam ini diprediksi akan berlangsung hingga awal tahun 2024.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved