Curhat Ahli Waris Rumah Batin Senapelan, Merasa Kurang Diperhatikan
Rumah Batin Senapelan juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah Kota Pekanbaru.
Penulis: Theo Rizky | Editor: Ariestia
TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Pekanbaru baru saja melewati hari jadinya ke-240, berbagai rangkaian acara penyelenggaraannya pun telah dilakukan dengan suka cita.
Meski berlangsung dengan sukses, namun sayangnya kemeriahan rangkaian ulang tahun yang digelar Pemerintah Kota pekanbaru tersebut tidak sampai ke Rumah Batin Senapelan.
Rumah panggung yang berada di Jalan Meranti, Kecamatan Senapelan tersebut memang tidak sepopuler Rumah Singgah Tuan Kadi di Jalan Perdagangan yang memiliki sejarah erat dengan Kesultanan Siak.
Tapi Rumah Batin Senapelan juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah Kota Pekanbaru
Kedua rumah itu hanya berjarak sekitar 1 kilometer, berbeda dengan Rumah Singgah Tuan Kadi, Rumah Batin Senapelan jarang tersentuh oleh kegiatan-kegiatan yang digelar pemerintah kota maupun provinsi.
Hal ini disampaikan ahli waris Batin Senapelan, Eva Riani.
Disampaikannya, ia merasa perhatian pemerintah terhadap Rumah Batin Senapelan masih minim
"Kadang-kadang kami sedih juga, ketika Hari Jadi Kota pekanbaru tidak ada agenda dari Pemerintah Kota Pekanbaru di sini," katanya kepada Tribun Pekanbaru, Rabu (17/7/2024).
Baca juga: Berdiri Gagah di Tepian Sungai Siak, Rumah Batin Senapelan, Saksi Bisu Berdirinya Kota Pekanbaru
Untuk menarik perhatian Pemda, ia bersama warga sekitar setiap tahun juga menggelar peringatan Hari Jadi Pekanbaru secara mandiri, seperti doa bersama mengenang Batin Senapelan.
"Istilahnya kalau gak ada Batin Senapelan, Pekanbaru gak ada, bagaimanapun tetap ada kaitan sejarahnya," ujar wanita yang juga ketua RT setempat itu.
Diceritakan Eva, Rumah Batin Senapelan merupakan Rumah Batin pertama yang menjadi saksi berdirinya Kampung Bandar Senapelan dan menjadi cikal bakal berdirinya Kota Pekanbaru.
"Batin itu kepala suku, salah satu orang yang pertama kali menempati Senapelan dan membuka Senapelan ini," katanya.
Eva tidak mengetahui pasti kapan rumah itu dibangun, namun menurut cerita yang ia dapatkan, rumah itu sudah berdiri sejak abad ke 17, lebih tua dari Rumah Singgah Tuan Kadi.
Sedangkan Batin yang pertama bernama Bujang Sayang, berlanjut turun temurun hingga sampai ke buyut Eva bernama Yasin yang merupakan Batin Senapelan terakhir.
"Masa kebatinan terakhir di Yasin, ia memiliki anak bernama Nontel dan sudah masuk masa kepenghuluan, Nontel inilah kakek saya," ujar Eva.
| Harga Emas Terus Meroket, Warga Pekanbaru Nilai Investasi Paling Aman |
|
|---|
| Pemprov Riau Kembali Ajukan Tambahan Heli Water Bombing, Perkuat Penanganan Karhutla |
|
|---|
| Penerapan WFH Jumat di Meranti Masih Dikaji, Tunggu Keputusan Bupati |
|
|---|
| Warga Keluhkan Syarat Bayar Pajak Kendaraan di Riau, DPRD Minta Tiru Jabar Permudah Layanan |
|
|---|
| Kunci Jawaban IPS Kelas 7 Halaman 211 Bukti Dari Keragaman Budaya Kurikulum Merdeka |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pekanbaru/foto/bank/originals/Cagar_Budaya_Rumah_batin_Senapelan_di_Jalan_Meranti_Kecamatan_Senapelan_Pekanbaru.jpg)