Selasa, 7 April 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Potensi Danantara Akselerasi Hilirisasi Perkebunan Negara

Data Kementerian BUMN tahun 2023, menunjukkan PTPN Group berada diurutan ke-11 sebagai pemilik aset terbesar.

Editor: Theo Rizky
Dok PTPN
PTPN - Data Kementerian BUMN tahun 2023, menunjukkan PTPN Group berada diurutan ke-11 sebagai pemilik aset terbesar. 

PEKANBARU - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) Indonesia dipercaya mampu untuk mempercepat proses realisasi rencana bisnis Perkebunan Negara yang membutuhkan dana besar dengan mengoptimalkan nilai aset, sehingga optimalisasi hilirisasi yang dicanangkan pemerintah dapat tercapai.

Selain itu, Danantara Indonesia dinilai akan mendorong semua perusahaan plat merah, termasuk BUMN Perkebunan atau PTPN Group, agar lebih transparan dan yang berdampak pada reputasi serta kepercayaan investor maupun masyarakat, baik di dalam dan di luar negeri.

“Perusahaan Perkebunan milik negara semisal PTPN, akan sangat efektif bila bersinergi dengan Danantara untuk mengoptimalkan dan mengelola aset perusahaan,” jelas Co-Founder PasaRDana, perusahaan penasehat investasi, Dr Hans Kwee, di Pekanbaru, Jumat.

Dengan demikian, Hans Kwee menilai PTPN Group dapat mengandalkan peluang yang diberikan Danantara, terutama di aspek ekspansi bisnis dan mendorong kolaborasi BUMN lebih kuat dan mendapatkan partner strategis secara global.

Sebagai negara agraris, dimana Indonesia dianugerahkan tanah yang subur, sektor perkebunan adalah salah satu sektor andalan untuk mencapai Indonesia Emas 2045.

Sektor perkebunan dapat menyerap banyak tenaga kerja, mendorong pemerataan pendapatan dan menaikan kesejahteraan rakyat Indonesia.

Mengingat hal ini, maka hilirisasi perkebunan untuk menaikan nilai tambah export Indonesia adalah sebuah langkah yang sangat tepat.

Apalagi, jelasnya, sejak tahun 2021 dan 2023, PTPN Group telah melakukan efisiensi melalui transformasi perusahaan, antara lain konsolidasi anak usaha dari 14 perusahaan menjadi tiga entitas bisnis, yaitu PTPN I (SupportingCo), PTPN IV (Palm Co) dan PT Sinergi Gula Nusantara (SugarCo).

“Langkah PTPN sejak beberapa tahun lalu tentu sudah sangat baik dan berpeluang mendorong perusahaan lebih profesional dan profit meningkat,” jelas dosen Magister Ilmu Ekonomi Univesitas Trisakti dan Atma Jaya ini.

Seperti diketahui, PTPN Group juga melakukan perbaikan keuangan melalui restrukturisasi utang, efisiensi operasional dan biaya manajemen, peningkatan akuntabilitas dan fungsi pengendalian, serta transformasi EBITDA.

Hasilnya, perusahaan dapat mengganti predikat sebelumnya dari perusahaan merugi menjadi perusahaan yang pencetak laba.

Sejak tahun 2021 hingga Kuartal III 2024, laba bersih konsolidasi telah mencapai Rp13,6 triliun.

Hans Kwee menilai aksi bisnis PTPN, terutama dalam tiga tahun terakhir, sejalan dengan tujuan pembentukan Danantara Indonesia, yaitu mendorong transformasi ekonomi dengan pendekatan profesional dan menerapkan good governance.

“PTPN Group dapat bersinergi dengan Danantara karena upaya melakukan efisiensi aset sudah berusaha dilakukan perusahaan dalam beberapa tahun terakhir. Sekarang, tinggal bersinergi dalam merealisasikan rencana bisnis yang lebih besar,” katanya.

Hans Kwee menambahkan memang jika dilihat dari sisi nilai aset, BUMN perbankan masih memimpin.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved